Laman

| 0 komentar |

Kamis, 08 Desember 2011

Yang Dikandung Tanpa Dosa (Immaculate Conception)

8 DESEMBER : HR SP MARIA DIKANDUNG TANPA DOSA

"Akulah Yang Dikandung Tanpa Dosa"
"Que Soy Era Immaculada Conceptiou"
"I Am The Immaculate Conception"

Pesan Bunda Maria dalam suatu penampakan kepada St. Bernadette


Salah satu hal yang khas yang membedakan kita, umat Katolik, dari saudara-saudari kita yang Protestan adalah cinta dan penghormatan yang kita persembahkan kepada Bunda Yesus. Kita percaya bahwa Maria, sebagai Bunda Allah, sudah selayaknya memperoleh penghormatan, devosi dan penghargaan yang sangat tinggi. Salah satu dogma (dogma = ajaran resmi gereja yang dinyatakan secara meriah dengan kekuasaan Paus) Gereja Katolik mengenai Bunda Maria adalah Dogma Dikandung Tanpa Dosa. Pestanya dirayakan setiap tanggal 8 Desember. Masih banyak orang Katolik yang belum paham benar mengenai dogma ini. Jika kalian bertanya kepada beberapa orang Katolik, "Apa itu Dogma Dikandung Tanpa Dosa?", maka sebagian besar dari mereka akan menjawab, "Yaitu bahwa Yesus dikandung dalam rahim Santa Perawan Maria tanpa dosa, atau tanpa seorang bapa manusia." Jawaban demikian adalah jawaban yang salah yang perlu dibetulkan. Ya, tentu saja Yesus dikandung tanpa dosa karena Ia adalah Allah Manusia. Tetapi Dikandung Tanpa Dosa adalah dogma yang menyatakan bahwa Bunda Maria dikandung dalam rahim ibunya, Santa Anna, tanpa dosa asal. Bunda Maria adalah satu-satunya manusia yang dianugerahi karunia ini. Bunda Maria memperoleh keistimewaan ini karena ia akan menjadi bejana yang kudus dimana Yesus, Putera Allah, akan masuk ke dunia melaluinya. Oleh karena itu, Bunda Maria sendiri harus dihindarkan dari dosa asal. Sejak dari awal mula kehadirannya, Bunda Maria senantiasa kudus dan suci - betul-betul"penuh rahmat". Kita menggunakan kata-kata ini ketika kita menyapa Maria dalam doa Salam Maria, tetapi banyak orang yang tidak meluangkan waktu untuk memikirkan apa arti sebenarnya kata-kata ini. Ketika Malaikat Gabriel menampakkan diri kepada Bunda Maria untuk menyampaikan kabar sukacita, dialah yang pertama kali menyapa Maria dengan gelarnya yang penting ini,
Lukas 1:28 "Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau."

Kata-kata "penuh rahmat" ketika diterjemahkan dari teks bahasa Yunani, sesungguhnya digunakan sebagai nama yang tepat untuk menyapa Maria. Istilah Yunani yang digunakan menunjukkan bahwa Maria dalam keadaan penuh rahmat atau dalam keadaan rahmat yang sempurna sejak dari ia dikandung sampai sepanjang hayatnya di dunia. Bukankah masuk akal jika Tuhan menghendaki suatu bejana yang kudus, yang tidak bernoda dosa untuk mengandung Putera-Nya yang Tunggal? Bagaimana pun juga, Yesus, ketika hidup di dalam rahim Maria, tumbuh dan berkembang sama seperti bayi-bayi lainnya tumbuh dan berkembang dalam rahim ibu mereka masing-masing. Ia menerima darah Maria dan menerima makanan untuk pertumbuhan-Nya dari tubuh Maria sendiri.

Sebagian kaum Protestan menolak dogma ini dengan mengatakan bahwa Maria berbicara tentang "Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku." Mengapa Maria memerlukan seorang Juruselamat, tanya mereka, jika ia tanpa noda dosa? Gereja mengajarkan bahwa karena Maria adalah keturunan Adam, maka menurut kodratnya ia mewarisi dosa asal. Hanya oleh karena campur tangan Allah dalam masalah yang unik ini, Maria dibebaskan dari dosa asal. Jadi, sesungguhnya Maria diselamatkan oleh rahmat Kristus, tetapi dengan cara yang sangat istimewa. Rahmat tersebut dilimpahkan ke atasnya sebelum ia dikandung dalam rahim ibunya.

Kaum Protestan juga akan menyanggah dengan mengatakan bahwa dogma ini tidak sesuai dengan ayat Kitab Suci yang mengatakan bahwa "semua orang telah berbuat dosa" (Roma 3:23). Namun demikian, jika kita mempelajari masalah ini dengan sungguh-sungguh, kita akan menemukan beberapa pengecualian. Kitab Suci juga mengajarkan bahwa meskipun semua orang telah berbuat dosa, Yesus yang adalah sungguh-sungguh manusia tidak berbuat dosa. Logis jika kita melanjutkannya dengan mengatakan bahwa Maria juga tidak berdosa dan dihindarkan dari dosa asal agar ia dapat tetap senantiasa menjadi bejana yang kudus untuk mengandung bayi Yesus.

Secara sederhana Dogma Dikandung Tanpa Dosa dapat dijelaskan sebagai berikut:
Seperti kita ketahui, Adam dan Hawa adalah manusia pertama yang diciptakan Tuhan. Tuhan memberikan kepada mereka apa saja yang mereka inginkan di Firdaus, Taman Eden. Tetapi Allah berfirman bahwa mereka tidak diperbolehkan makan buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. Lucifer, raja iblis, datang kepada mereka dan membujuk mereka makan buah pohon tersebut. Adam dan Hawa memakan buah itu; mereka tidak taat kepada Tuhan dan karenanya mereka diusir dari Firdaus. Oleh karena dosa pertama itu, semua manusia yang dilahirkan sesudah Adam dan Hawa mewarisi apa yang disebut "dosa asal". Itulah sebabnya, ketika seorang bayi lahir, ia segera dibaptis supaya dosa asal itu dibersihan dari jiwanya sehingga ia menjadi kudus dan suci, menjadi anak Allah.

Ketika Tuhan hendak mengutus Putera-Nya, Yesus, ke dunia untuk menyelamatkan kita, Tuhan memerlukan kesediaan seorang perempuan yang kudus untuk mengandung Yesus dalam rahimnya. Tuhan memutuskan bahwa perempuan ini harus dibebaskan dari dosa asal Adam dan Hawa. Ia juga memutuskan bahwa perempuan ini haruslah seseorang yang istimewa serta amat suci dan kudus. Sama halnya seperti jika kalian mempunyai satu termos air jeruk segar, maka kalian tidak akan menuangkannya ke dalam gelas yang kotor untuk meminumnya, ya kan? Kalian akan menuangkan air jeruk segar itu ke dalam gelas yang bersih untuk meminumnya. Demikian juga Tuhan tidak ingin Putera Tunggal-Nya itu ditempatkan dalam rahim seorang perempuan berdosa. Oleh karena itulah, Tuhan membebaskan Maria dari dosa asal sejak Maria hadir dalam rahim ibunya, yaitu Santa Anna. Inilah yang disebut Dogma Dikandung Tanpa Dosa - memang suatu istilah yang sulit, tetapi artinya ialah Maria tidak mewarisi dosa Adam dan Hawa, sehingga Maria dapat menjadi seorang bunda yang kudus yang mengandung Yesus dalam rahimnya."


Sumber : “In Defense of the Blessed Virgin Mary”; www.qni.com/~catholic/defense.htm
Diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya” ...lanjutkan baca ⇒
| 0 komentar |

Minggu, 17 Juli 2011

Santa Perawan Maria dari La Vang

Para misionaris Katolik pertama tiba di Vietnam pada tahun 1553. Beberapa tahun kemudian, telah terdapat lebih dari seratus ribu umat Katolik di bumi Vietnam. Seminari-seminari didirikan dan pada tahun 1668, dua imam pribumi ditahbiskan. Selanjutnya, kelompok religius perempuan dibentuk pada tahun 1670.

Santa Perawan Maria dari La Vang pertama kali menampakkan diri kepada kaum beriman di Vietnam pada tahun 1798. Ini adalah tahun ketika Raja Canh 'Minh menerbitkan maklumat anti-Katolik dan mengeluarkan perintah untuk membumi-hanguskan semua gereja dan seminari Katolik. Di tengah penganiayaan dahsyat ini, yang berlangsung antara tahun 1798-1801, banyak umat Katolik pergi mengungsi ke hutan belantara La Vang, dekat dusun Quang Tri, di Vietnam tengah. Mereka hidup sengsara karena cuaca yang dingin menggigit, serangan binatang buas, aneka rupa penyakit oleh sebab tinggal di alam liar dan menderita kelaparan. Meski demikian, mereka tetap bertekun dalam iman. Pada malam hari, mereka biasa berkumpul dalam kelompok-kelompok kecil untuk mendaraskan rosario dan berdoa bersama.

Sekonyong-konyong, suatu malam sementara berdoa bersama, mereka dikunjungi oleh suatu penampakan seorang perempuan yang sangat cantik dalam lingkupan cahaya. Perempuan ini mengenakan áo dài - gaun tradisional Vietnam - dan menggendong seorang Kanak-kanak dalam buaiannya, dengan disertai dua malaikat di masing-masing sisinya. Ia menghadirkan diri sebagai Bunda Allah yang datang untuk menyemangati dan menghibur mereka, serta memberikan kepada mereka suatu tanda istimewa akan kasih pemeliharaannya. Orang banyak segera mengenalinya sebagai Bunda Maria. Bunda Maria menyuruh mereka merebus sejenis daun pakis yang banyak tumbuh di sekitar sana untuk dipergunakan sebagai obat. Santa Perawan juga mengatakan bahwa sejak dari saat itu, mereka semua yang datang ke tempat itu untuk berdoa, doa-doanya akan didengarkan dan dikabulkan. Peristiwa ini terjadi di padang rumput dekat pohon banyan tua besar di mana para pengungsi berdoa bersama. Mereka semua yang hadir menyaksikan fenomena ajaib ini.

Bunda Maria menampakkan diri beberapa kali di tempat yang sama ini. Sesudah masa penganiayaan berakhir, pada tahun 1802, umat Kristiani meninggalkan hutan tempat persembunyian mereka dan kembali ke dusun-dusun mereka. Berita mengenai penampakan dan pesan-pesannya mereka bawa serta dan sebarluaskan hingga ke tempat-tempat lain.

Pada tahun 1820, sebuah kapel dari jerami didirikan di tempat terjadinya penampakan. Kendati lokasinya yang terpencil di pegunungan tinggi, kelompok-kelompok orang terus berdatangan mencari jalan menembus hutan belantara yang berbahaya untuk berdoa kepada Santa Perawan Maria dari La Vang. Lambat-laun, para peziarah yang datang dengan kapak, tombak, tongkat dan drum untuk menakut-nakuti binatang buas digantikan oleh para peziarah yang datang dengan panji-panji, aneka bunga dan rosario.

Pada tahun 1820-1885 terjadilah lagi penganiayaan dan pembantaian dahsyat terhadap umat Kristiani. Lebih dari 100.000 orang wafat sebagai martir. Pada tahun 1885 kapel Santa Perawan Maria dari La Vang dihancur-luluhkan.

Setelah penganiayaan secara resmi berakhir, Uskup Gaspar memerintahkan agar sebuah gereja didirikan demi menghormati Santa Perawan dari La Vang. Pembangunan dimulai pada tahun 1886, namun karena lokasinya yang sulit dan dana yang terbatas, diperlukan limabelas tahun lamanya untuk menyelesaikan Gereja La Vang. Gereja baru ini pada akhirnya selesai dan ditahbiskan oleh Uskup Gaspar dalam suatu upacara khidmad dengan lebih dari 12.0000 umat ikut ambil bagian di dalamnya yang berlangsung dari tanggal 6 hingga 8 Agustus 1901. Uskup memaklumkan Santa Perawan dari La Vang sebagai Perlindungan Umat Kristen. Pada tahun 1928, sebuah gereja yang lebih besar dikonsekrasikan guna menampung jumlah peziarah yang semakin bertambah.

Penampakan Santa Perawan Maria dari La Vang semakin mendapatkan perhatian dengan banyak disahkannya kesaksian orang-orang yang doanya dikabulkan dan mukjizat penyembuhan yang terjadi di sana. Pada bulan April 1961, Konferensi Waligereja Vietnam memilih Gereja La Vang - terletak sekitar 60 km dari kota Hue yang sebelumnya adalah ibukota dari Vietnam - sebagai tempat ziarah nasional demi menghormati Santa Perawan Maria yang Tak Bernoda. Pada tanggal 22 Agustus 1961, Paus Yohanes XXIII menaikkan status Gereja La Vang menjadi Basilika Minor La Vang. Sayang, semua bangunan yang ada kemudian dihancurkan pada musim panas tahun 1972 dalam perang saudara Vietnam antara Utara dan Selatan.

Pada tanggal 19 Juni 1988, Paus Yohanes Paulus II dalam upacara kanonisasi 117 martir Vietnam, secara publik memaklumkan pentingnya peran Santa Perawan Maria dari La Vang dan mengungkapkan kerinduan untuk dibangunnya kembali Basilika La Vang dalam rangka memperingati 200 tahun peringatan penampakan pertama Santa Perawan Maria dari La Vang yang jatuh pada bulan Agustus 1998.
Tempat ziarah La Vang direnovasi pada tahun 2008.

Disarikan dari berbagai sumber dan diterjemahkan oleh YESAYA: yesaya.indocell.net”
...lanjutkan baca ⇒
| 0 komentar |

Minggu, 10 Juli 2011

Santa Maria dari Czestochowa

Ikon Bunda Maria yang mukjijat dari Czestochowa, Polandia

Asal usul tepatnya dari ikon yang mukjijat ini tidak diketahui, akan tetapi ada cerita yang menarik yang telah berlangsung sepanjang jaman. Dikatakan bahwa setelah peristiwa penyaliban Yesus, ketika Rasul Yohanes membawa Bunda Maria ke rumahnya, Bunda Maria membawa sedikit milik pribadinya, diantaranya adalah meja yang dibuat Yesus di bengkel kayu ayahnya St.Yusuf. Ketika para wanita saleh dari Yerusalem berhasil mendesak St.Lukas untuk melukis gambar sang Bunda Allah, lukisan ini dulunya ditaruh di atas meja tersebut. Ketika sedang meluskis, St.Lukas menyimak baik-baik cerita sang bunda tentang hidup Puteranya, beberapa hal yang nantinya dituliskannya dalam Injilnya.

Legenda juga mengatakan bahwa lukisan itu tetap berada di seputar wilayah Yerusalem sampai ditemukan nantinya oleh St.Helena di abad ke empat. Bersama-sama dengan relikwi yang kudus lainnya, lukisan itu dikirim ke Konstantinopel dimana puteranya, Kaisar Konstantinus Agung membangun sebuah gereja untuk mentahtakan lukisan tersebut.

Para penduduk menghormati lukisan sang Bunda bersama Puteranya tersebut. Sejarah mencatat bahwa selama pengepungan kota oleh kaum Saracen, para senator dan warga kota membawa ikon tersebut dalam suatu prosesi sepanjang jalan. Diceritakan bahwa ketika ikon tersebut sedang diarak keliling kota, kaum Saracen melarikan diri.

Kemudian pada masa pemerintahan Kaisar Izauryn, dia sangat tidak menyukai benda-benda religius dan membakar banyak diantaranya. Lukisan itu berhasil diselamatkan oleh istrinya, Permaisuri Irene. Dengan cerdik, lukisan itu disembunyikannya di istana kaisar sehingga luput dari pencarian orang-orang suruhan kaisar.

Lukisan itu tetap berada di Konstantinopel selama 500 tahun, sampai sempat berkali-kali dijadikan mas kawin mempelai wanita dan akhirnya terbawa ke Russia dan wilayah Russia yang nantinya menjadi Polandia.

Setelah lukisan itu menjadi hak milik seorang pangeran Polandia, Santo Ladislaus, di abad ke-15, lukisan itu dipasang di sebuah ruangan di kastilnya di Belz. Tidak lama sesudahnya ketika kastil itu dikepung oleh orang-orang Tartar, sebuah panah musuh memasuki kapel melalui jendela yang mengenai lukisan tersebut dan meninggalkan goresan di bagian leher Sang Perawan. Goresan itu masih nampak hingga saat ini meskipun sudah beberapa kali diusahakan untuk diperbaiki.

Para penulis juga menceritakan bahwa Santo Ladislaus memutuskan untuk menyelamatkan lukisan tersebut dari ancaman invasi orang-orang Tartar dengan membawanya ke Opala, kota kelahirannya yang lebih aman. Perjalanan ini membawanya melalui kota Czestochowa dimana dia memutuskan untuk beristirahat barang semalam. Selama perhentian ini lukisan itu dibawa ke tempat yang disebut Jasna Gora, yang artinya "Bukit Terang". Disana lukisan itu diletakkan di dalam suatu gereja kecil yang dinamakan peristiwa Maria diangkat ke surga. Pagi hari berikutnya setelah lukisan itu ditaruh dengan hati-hati diatas kereta kuda, kuda-kudanya tidak mau bergerak. Santo Ladislaus percaya bahwa ini adalah suatu tanda dari surga bahwa ikon tersebut harus tetap berada di Czestochowa. Dia membawa ikon itu dengan khidmat kembali ke gereja Maria diangkat ke surga. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 26 Agustus 1382 dan hingga sekarang masih dirayakan sebagai hari raya ikon Maria tersebut. Sejak itu Santo Ladislaus meminta supaya ikon itu dijaga oleh orang-orang saleh dan dia memerintahkan dibangunnya sebuah gereja dan biara bagi para imam-imam Paulus, yang dengan penuh dedikasi memelihara lukisan tersebut selama enam ratus tahun berikutnya.

Meskipun selamat dari angkara murka Kaisar Izauryn dan dicelakai oleh panah orang Tartar, ikon ini kembali mendapat ancaman penghancuran dari orang-orang Hussite yang mengikuti ajaran bidaah. Mereka menyerang biara para imam Paulus di tahun 1430 dan panti imam yang penuh dengan dekorasi yang indahpun dihancurkan oleh mereka. Diantara benda-benda yang dirampok adalah ikon Bunda Maria. Setelah menaruhnya di atas kereta mereka, kuda-kuda mereka hanya bergerak sedikit dan lantas tidak mau bergerak maju. Teringat pada insiden yang sama yang terjadi pada Pangeran Ladislaus sekitar 50 tahun yang lalu dan menyadari bahwa lukisan inilah penyebabnya, para penganut bidaah tersebut membuang ikon itu ke tanah. Lukisan itu pecah menjadi tiga bagian. Salah satu perampok mengayunkan pedangnya dan menghantam ikon tersebut dan menyebabkan dua goresan yang dalam. Ketika ia akan menghantam untuk ketiga kalinya, diapun jatuh ke tanah dan meregang nyawa dengan penuh derita hingga wafat.

Dua goresan dalam di bagian pipi Sang Perawan, berikut goresan sebelumnya di bagian leher, selalu muncul kembali meskipun telah berulang kali diperbaiki.

Ikon tersebut kembali menghadapi bahaya kehancuran di tahun 1655. Pada saat itu 12.000 gerombolan orang Swedia menyerbu tempat ziarah yang dipertahankan oleh 300 orang. Meskipun jumlah mereka jauh kalah banyak, namun dengan mukjijat mereka dapat mengalahkan pihak penyerbu. Setahun sesudahnya, Sang Perawan Suci dinyatakan sebagai Ratu Polandia.

Pada tanggal 14 September 1920 ketika balatentara Rusia menggerombol di tepi sungai Vistula dan bersiap-siap untuk menyerbu Warsawa, rakyat setempat meminta pertolongan Bunda Maria. Sehari sesudahnya yaitu pada hari pesta Bunda Sengsara, balatentara Russia menarik diri segera setelah melihat rupa Bunda Maria yang muncul di atas awan-awan di atas kota. Dalam sejarah Polandia peristiwa kemenangan ini dikenal dengan sebutan Mukjijat di Vistula.

Tidak seperti balatentara Russi yang gagal menaklukan kota, orang Jerman ternyata berhasil menyerbu dan menaklukan Polandia. Setelah mereka menguasai kota Warsawa, salah satu perintah Hitler adalah larangan berziarah. Dalam suatu demonstrasi cinta mereka kepada Bunda Maria dan kepercayaan mereka akan perlindungan beliau, setengah juta warga Polandia secara rahasia berziarah ke Czestochowa melanggar perintah Hitler. Segera setelah negara Polandia dibebaskan dari penjajahan Jerman di tahun 1945, satu setengah juta warga Polandia menyatakan rasa terima kasih mereka kepada Bunda Maria dengan berdoa di depan ikon yang mukjijat tersebut.

Dua puluh delapan tahun setelah usaha orang Russia yang gagal menaklukan kota, mereka berhasil menguasai Polandia di tahun 1948. Selama tahun tersebut 800.000 umat dengan berani berziarah ke Czestochowa pada hari pesta Maria diangkat ke surga, yaitu satu diantara tiga hari raya ikon tersebut dirayakan, meskipun mereka berada dibawah sorotan para serdadu-serdadu komunis yang secara rutin berpatroli di jalan-jalan. Sekarang, orang-orang masih terus menghormati ikon Bunda Maria dan Kanak-kanak Yesus yang mereka kasihi, terutama pada tanggal 26 Agustus, hari yang telah ditetapkan sebagai hari rayanya sejak jaman Pangeran Ladislaus.

Karena kedua tangan dan wajah Bunda Maria telah menjadi kehitaman, ikon tersebut juga dikenal dengan sebutan akrab Madonna Hitam. Gelapnya wajah dan tangan ikon tersebut disebabkan oleh berbagai kondisi, salah satu diantaranya adalah umur lukisan tersebut. Selama kurun waktu yang lama, lukisan itu disimpan di berbagai tempat demi keamanan yang jauh dari kondisi ideal untuk perawatannya. Lebih jauh lagi, tidak terhitung banyaknya lilin yang dibakar di depan lukisan tersebut sehingga lukisan itu selalu diekspos terus menerus dengan asap lilin. Akhirnya, lukisan itu dibawa kesana kemari tak terhitung kali banyaknya sehingga kerusakanpun tak terhindari lagi.

Tanpa bingkai, lukisan itu kira-kira tingginya 48cm dan lebarnya 33cm dan hampir 1.5cm tebalnya. Seberkas kain yang direntangkan di sisi sebaliknya memperlihatkan adegan-adegan dan desain yang menceritakan sejarah lukisan dan beberapa diantara mukjijat yang terjadi karena perantaraan Bunda Maria lewat lukisan ini.

Mukjijat-mukjijat yang dinyatakan terjadi lewat ikon yang mukjijat ini sangat banyak dan spektakuler. Kesaksian-kesaksian asli dari penyembuhan dan mukjijat yang terjadi, disimpan di arsip para imam-imam Paulus di Jasna Gora.

Pengakuan Sri Paus terhadap ikon mukjijat ini dilakukan oleh Paus Klemen XI pada tahun 1717. Mahkota yang diberikan kepada lukisan tersebut oleh Sri Paus digunakan dalam peristiwa pemahkotaan resmi pertama lukisan tersebut, tetapi simbol derajat keratuan Bunda Maria ini sayangnya dicuri pada tahun 1909. Mahkota itu lantas digantikan dengan mahkota emas yang ditaburi batu permata, hadiah dari Sri Paus Pius X.

Diantara para pengunjung tingkat tinggi ke Czestochowa adalah raja Polandia, Jan Casimir yang melakukan perjalan ke sana pada tahun 1656. Setelah meletakan mahkotanya sendiri di kaki altar Bunda Maria, sang raja berkaul, "Aku, Jan Casimir, Raja Polandia, mengambil engkau sebagai Ratu dan Pelindung kerajaanku; Aku meletakan rakyatku dan balatentaraku dibawah perlindunganmu." Tanggal 3 Mei dimana kaul ini diucapkan, didedikasikan oleh Paus Pius IX sebagai pesta Bunda Maria dibawa titel "Ratu Polandia".

Pada jaman modern, Paus Yohanes Paulus II, putera asli Polandia, berdoa di hadapan ikon Bunda Maria pada kunjungan historisnya di tahun 1979, beberapa bulan setelah pengangkatannya sebagai penerus Tahta Petrus. Sri Paus kembali berkunjung ke Czestochowa pada tahun 1983 dan juga tahun 1991. Film Ocean of Mercy juga menyebutkan bahwa tiga orang kudus dari Polandia, Santa Faustina yang terkenal dengan devosi Koronka (Kerahiman Ilahi), Santo Maximilian Kolbe yang mendirikan apostolat Milisi Imakulata, bahkan Karol Wojtyla (Paus Yohanes Paulus II) pada masa mudanya, pernah berziarah ke Santa Maria dari Czestochowa ini.

Santa Maria dari Czestochowa, doakanlah kami...

Sumber: Gereja Katolik
...lanjutkan baca ⇒
| 0 komentar |

Kamis, 24 Maret 2011

Maria dalam Injil

Ada suatu ayat dalam Injil yang mungkin membuat sebagian besar dari kita terperanjat, sehingga diperlukan penjelasan. Ketika Yesus sedang berbicara, berserulah seorang perempuan dari antara orang banyak dan berkata kepada-Nya, “Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau dan susu yang telah menyusui Engkau.” (Luk 11:27).

Yesus membenarkan, tetapi bukannya tinggal dalam pujian perempuan ini, Ia lalu mengatakan sesuatu yang lebih jauh. Yesus berbicara tentang kebahagiaan yang lebih besar. Kata-Nya, “Yang berbahagia ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan yang memeliharanya.”

Sekarang, perkataan Yesus ini perlu kita pahami dengan baik, sebab banyak orang yang sekarang ini beranggapan bahwa perkataan tersebut dimaksudkan untuk merendahkan kemuliaan dan kebahagiaan Santa Perawan Maria Tersuci; seolah-olah Yesus telah mengatakan, “Bunda-Ku berbahagia, tetapi hamba-hamba-Ku yang sejati lebih berbahagia daripadanya.”

Oleh sebab itu, aku akan menyampaikan sedikit komentar atas ayat ini, dan dengan ketepatan yang sepantasnya, sebab kita baru saja melewatkan pesta Bunda Maria, hari raya di mana kita mengenangkan Kabar Sukacita, yaitu, kunjungan Malaikat Gabriel kepadanya, dan perkandungan ajaib Putra Allah, Tuhan dan Juruselamatnya, dalam rahimnya.

Sekarang, sedikit penjelasan saja sudah akan cukup untuk menunjukkan bahwa perkataan Kristus bukanlah untuk meremehkan martabat dan kemuliaan Bunda-Nya, sebagai yang paling unggul dari antara ciptaan dan Ratu dari Semua Orang Kudus.

Renungkanlah, Ia mengatakan bahwa lebih berbahagia melakukan perintah-Nya daripada menjadi Bunda-Nya, dan apakah kalian pikir bahwa Bunda Allah yang Tersuci tidak melakukan perintah-perintah Allah? Tentu saja tak seorang pun - bahkan seorang Protestan sekalipun - dapat menyangkal bahwa ia melakukannya.

Jadi, jika demikian, apa yang dikatakan Kristus adalah bahwa Santa Perawan lebih berbahagia karena ia melakukan perintah-perintah-Nya daripada karena ia menjadi Bunda-Nya. Dan apakah orang Katolik menyangkal hal ini? Sebaliknya, kita semua mengakuinya. Segenap umat Katolik mengakuinya. Para Bapa Gereja yang kudus mengatakan lagi dan lagi bahwa Bunda Maria lebih berbahagia dalam melakukan kehendak Allah daripada menjadi Bunda-Nya. Bunda Maria berbahagia dalam dua hal. Ia berbahagia karena menjadi Bunda-Nya; ia berbahagia karepa dipenuhi dengan semangat iman dan ketaatan. Dan kebahagiaan yang terakhir itu lebih besar dari yang pertama. Aku katakan bahwa para bapa yang kudus menyatakannya dengan begitu jelas.

St Agustinus mengatakan, “Bunda Maria lebih berbahagia dalam menerima iman Kristus, daripada dalam menerima daging Kristus.” Serupa dengan itu, St Elisabet mengatakan kepada Bunda Maria saat kunjungannya, “Beata es quee credidisti - berbahagialah ia, yang telah percaya”; dan St Krisostomus lebih jauh mengatakan bahwa ia tak akan berbahagia, meskipun ia mengandung tubuh Kristus dalam tubuhnya, jika ia tidak mendengarkan sabda Tuhan dan melaksanakannya.

Sekarang, aku mempergunakan kalimat “St Krisostomus lebih jauh mengatakan,” bukan berarti bahwa pernyataannya bukanlah suatu kebenaran yang nyata. Aku mengatakan pernyataannya merupakan kebenaran yang nyata bahwa Bunda Maria tidak akan berbahagia, meskipun ia menjadi Bunda Allah, jika ia tidak melakukan kehendak-Nya; tetapi pernyataan tersebut merupakan suatu pernyataan yang ekstrim, dengan mengandaikan sesuatu yang tidak mungkin, dengan mengandaikan bahwa ia dapat demikian dihormati namun tidak dipenuhi dan dirasuki oleh rahmat Allah, padahal malaikat, ketika datang kepadanya, dengan jelas memberinya salam sebagai yang penuh rahmat. “Ave, gratia plena.”

Kedua kebahagiaan di atas tak dapat dipisahkan. (Sungguh luar biasa bahwa Bunda Maria sendiri berkesempatan untuk membedakan dan memilahnya, dan bahwa ia memilih untuk melakukan perintah-perintah Tuhan lebih daripada menjadi Bunda-Nya, seandainya saja ia harus memilih salah satu diantaranya). Ia, yang dipilih untuk menjadi Bunda Allah, juga dipilih untuk gratia plena, penuh rahmat.

Kalian lihat, inilah penjelasan dari doktrin-doktrin penting yang diterima di antara umat Katolik mengenai kemurnian dan ketakberdosaan Santa Perawan. St Agustinus tidak akan pernah mau mendengarkan gagasan bahwa Bunda Maria pernah melakukan suatu dosa pun, dan Konsili Trente memaklumkan bahwa oleh rahmat istimewa, Bunda Maria sepanjang hidupnya bebas dari segala dosa, bahkan dosa ringan sekali pun. Dan kalian tahu bahwa hal tersebut merupakan keyakinan Gereja Katolik, yaitu bahwa ia dikandung tanpa dosa asal, dan bahwa perkandungannya tanpa noda dosa.

Lalu, darimanakah doktrin-doktrin ini berasal? Doktrin-doktrin tersebut berasal dari prinsip utama yang terkandung dalam perkatan Kristus yang aku komentari ini. Ia mengatakan, “adalah lebih berbahagia melakukan kehendak Allah daripada menjadi Bunda Allah.” Jangan katakan bahwa umat Katolik tidak merasakan hal ini secara mendalam - begitu mendalam kita merasakannya hingga kita memperluasnya hingga ke keperawanan, kemurnian, perkandungannya yang tanpa dosa, iman, kerendahan hati dan ketaatannya.

Jadi, jangan pernah mengatakan bahwa umat Katolik melupakan ayat Kitab Suci ini. Setiap kali kita merayakan Hari Raya Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Dosa, atau semacamnya, kita memperingatinya karena kita memandang begitu dalam pada kebahagiaan kekudusan. Perempuan di antara orang banyak itu berseru, “berbahagialah rahim dan susu Maria.” Perempuan ini berbicara dalam iman; ia tidak bermaksud menolak kebahagiaan Bunda Maria yang lebih besar, tetapi perkataannya hanya mengarah pada satu maksud saja.

Oleh sebab itu, Kristus menyempurnakannya. Dan karena itu, Gereja-Nya sesudah Dia, yang tinggal dalam misteri Inkarnasi-Nya yang agung dan sakral, merasa bahwa ia, yang begitu cepat menanggapinya, pastilah seorang yang terkudus. Dan karenanya, demi menghormati Putra, perempuan itu menyanjung kemuliaan Bunda. Seperti kita memberikan yang terbaik bagi-Nya, sebab segala yang terbaik berasal dari-Nya, seperti di dunia kita menjadikan gereja-gereja kita agung dan indah; seperti ketika Ia dirurunkan dari salib, para hamba-Nya yang saleh membungkus-Nya dengan kain kafan yang baik dan membaringkan-Nya dalam suatu makam yang belum pernah dipakai; seperti tempat kediaman-Nya di surga murni dan tak bernoda, begitu terlebih lagi selayaknya dan begitulah adanya - bahwa tabernakel darimana Ia mengambil rupa daging, di mana Ia terbaring, kudus dan tak bernoda dan ilahi. Sementara tubuh dipersiapkan bagi-Nya, demikian juga wadah bagi tubuh itu dipersiapkan pula. Sebelum Bunda Maria dapat menjadi Bunda Allah, dan guna menjadikannya seorang Bunda, ia disisihkan, dikuduskan, dipenuhi rahmat, dan dibentuk agar layak bagi kehadiran yang Kekal.

Dan para bapa suci mempelajari dengan seksama ketaatan dan ketakberdosaan Bunda Maria dari kisah Kabar Sukacita, saat ia menjadi Bunda Allah. Sebab ketika malaikat menampakkan diri dan memaklumkan kepadanya kehendak Allah, para bapa suci mengatakan bahwa Bunda Maria menunjukkan teristimewa empat karunia - kerendahan hati, iman, ketaatan dan kemurnian. Rahmat-rahmat ini merupakan prasyarat persiapan untuknya dalam menerima penyelenggaraan yang begitu luhur.

Jadi, seandainya ia tidak mempunyai iman dan kerendahan hati dan kemurnian dan ketaatan, ia tidak akan memperoleh rahmat untuk menjadi Bunda Allah. Oleh sebab itu wajarlah dikatakan bahwa ia mengandung Kristus dalam benaknya sebelum ia mengandung Kristus dalam tubuhnya, artinya bahwa kebahagiaan iman dan ketaatan mendahului kebahagiaan menjadi seorang Bunda Perawan. Para bapa suci bahkan mengatakan bahwa Tuhan menantikan kesediaannya sebelum Ia datang ke dalam dirinya dan mengambil daging darinya. Sama seperti Ia tidak melakukan perbuatan-perbuatan ajaib di suatu tempat sebab mereka tidak memiliki iman, demikian juga mukjizat agung ini, di mana Ia menjadi Putra dari makhluk ciptaan, ditangguhkan hingga ia dicoba dan didapati layak untuk itu - hingga ia taat sepenuhnya.

Ada satu hal lagi yang perlu ditambahkan di sini. Baru saja aku katakan bahwa kedua kebahagiaan tersebut tak dapat dipisahkan, bahwa keduanya itu satu. “Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau,” dst.; “Yang berbahagia ialah,” dst. Memang benar demikian, tetapi perhatikanlah ini. Para bapa suci senantiasa mengajarkan bahwa dalam peristiwa Kabar Sukacita, ketika malaikat menampakkan diri kepada Bunda Maria, Santa Perawan menunjukkan bahwa ia memilih apa yang disebut Tuhan sebagai kebahagiaan yang terbesar dari antara kedua kebahagiaan itu.

Sebab ketika malaikat memaklumkan kepadanya bahwa ia dipersiapkan untuk memperoleh kebahagiaan yang dirindukan para wanita Yahudi selama berabad-abad, untuk menjadi Bunda dari Kristus yang dinantikan, ia tidak menangkap kabar tersebut seperti yang dilakukan dunia, melainkan ia menanti. Ia menanti hingga dikatakan kepadanya bahwa hal tersebut bersesuaian dengan keadaannya yang perawan. Bunda Maria tidak bersedia menerima kehormatan yang paling mengagumkan ini, tidak bersedia hingga ia dipuaskan dalam hal ini, “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” Para bapa suci beranggapan bahwa ia telah mengucapkan kaul kemurnian, dan menganggap kesucian lebih tinggi daripada melahirkan Kristus.

Demikianlah ajaran Gereja, menunjukkan dengan jelas bagaimana cermatnya Gereja memeriksa doktrin dari ayat Kitab Suci yang aku komentari ini, betapa mendalamnya Gereja memahami bahwa Bunda Maria merasakannya yaitu bahwa meskipun berbahagia rahim yang mengandung Kristus dan susu yang menyusui-Nya, namun demikian lebih berbahagialah jiwa yang memiliki rahim dan susu itu, lebih berbahagialah jiwa yang penuh rahmat, yang karena demikian dipenuhi rahmat diganjari dengan hak istimewa luar biasa dengan menjadi Bunda Allah.

Sekarang, suatu pertanyaan lebih lanjut muncul, yang mungkin patut kita renungkan. Mungkin orang bertanya, mengapa Kristus tampaknya meremehkan kehormatan dan hak istimewa Bunda-Nya? Ketika perempuan itu mengatakan, “Berbahagialah ibu yang telah mengandung Engkau”, dst. Ia sesungguhnya menjawab, “Ya.” Tetapi, Ia mengatakan, “Yang berbahagia ialah ...” Dan dalam suatu peristiwa lain, Ia menjawab ketika orang memberitahukan kepada-Nya bahwa ibu-Nya dan saudara-saudaranya berusaha menemui Dia, “Siapa ibu-Ku?” dst. Dan di masa yang lebih awal, ketika Ia mengadakan mukjizat-Nya yang pertama di mana Bunda-Nya mengatakan kepada-Nya bahwa para tamu dalam perjamuan nikah kekurangan anggur, Ia mengatakan: “Mau apakah engkau dari pada-Ku, perempuan? Saat-Ku belum tiba.” Ayat-ayat ini sepertinya merupakan perkataan yang dingin terhadap Bunda Perawan, meskipun maknanya dapat dijelaskan secara memuaskan. Jika demikian, apa maknanya? Mengapa Ia berbicara demikian?

Sekarang saya akan memaparkan dua alasan sebagai penjelasan:
Pertama, yang segera muncul dari apa yang saya katakan adalah ini: bahwa selama berabad-abad para wanita Yahudi masing-masing mengharapkan untuk menjadi ibunda sang Kristus yang dinantikan, dan tampaknya mereka tidak menghubungkannya dengan kekudusan yang lebih tinggi. Sebab itu, mereka begitu merindukan pernikahan; sebab itu pernikahan dianggap sebagai suatu kehormatan yang istimewa oleh mereka.

Sekarang, pernikahan merupakan suatu penetapan Tuhan, dan Kristus menjadikannya suatu sakramen - namun demikian, ada sesuatu yang lebih tinggi, dan orang Yahudi tidak memahaminya. Seluruh gagasan mereka adalah menghubungkan agama dengan kesenangan-kesenangan dunia ini. Mereka tidak tahu, sesungguhnya, apa itu merelakan dunia ini demi yang akan datang. Mereka tidak mengerti bahwa kemiskinan lebih baik dari kekayaan, nama buruk daripada kehormatan, puasa dan matiraga daripada pesta-pora, dan keperawanan daripada perkawinan. Dan karenanya, ketika perempuan dari antara orang banyak itu berseru mengenai kebahagiaan rahim yang telah mengandung dan susu yang telah menyusui-Nya, Ia mengajarkan kepada perempuan itu dan kepada semua yang mendengarkan-Nya bahwa jiwa lebih berharga daripada raga, dan bahwa bersatu dengan-Nya dalam Roh, lebih berharga daripada bersatu dengan-Nya dalam daging.

Itu satu alasan. Alasan yang lain lebih menarik. Kalian tahu bahwa Juruselamat kita selama tigapuluh tahun pertama hidup-Nya di dunia tinggal di bawah satu atap dengan Bunda-Nya. Ketika Ia kembali dari Yerusalem pada usia duabelas tahun dengan Bunda-Nya dan St Yosef, dengan jelas dikatakan dalam Injil bahwa Ia tetap hidup dalam asuhan mereka. Pernyataan ini merupakan pernyataan tegas, tetapi asuhan ini, yang adalah kehidupan keluarga yang lazim, tidak untuk selamanya. Bahkan dalam peristiwa di mana penginjil mengatakan bahwa Ia hidup dalam asuhan mereka, Ia telah mengatakan dan melakukan hal yang dengan tegas menyampaikan kepada mereka bahwa Ia mempunyai tugas kewajiban yang lain. Sebab Ia meninggalkan mereka dan tinggal di Bait Allah di antara para alim ulama, dan ketika mereka menunjukkan ketercengangan mereka, Ia menjawab, “Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?” Ini, menurutku, merupakan suatu antisipasi akan masa pewartaan-Nya, saat ketika Ia harus meninggalkan rumah-Nya. Selama tigapuluh tahun Ia tinggal di sana, tetapi sementara Ia dengan tekun menjalankan tugas kewajiban-Nya dalam rumah tangga yang menjadi tanggung-jawab-Nya, Ia begitu merindukan karya Bapa-Nya, saat ketika tibalah waktu bagi-Nya untuk melaksanakan kehendak Bapa. Ketika saat perutusan-Nya tiba, Ia meninggalkan rumah-Nya dan Bunda-Nya, dan meskipun Ia sangat mengasihinya, Ia tak mengindahkannya.

Dalam Perjanjian Lama, kaum Lewi dipuji karena mereka tidak kenal lagi ayah ataupun ibu mereka ketika tugas dari Tuhan memanggil. Tentang mereka dikatakan sebagai “berkata tentang ayahnya dan tentang ibunya: aku tidak mengindahkan mereka; ia yang tidak mau kenal saudara-saudaranya dan acuh tak acuh terhadap anak-anaknya” (Ulangan 33). Jika demikian perilaku kaum imam di bawah Hukum, betapa terlebih lagi yang dituntut dari Imam agung sejati dari Perjanjian Baru guna memberikan teladan keutamaan tersebut yang didapati serta diganjari dalam diri kaum Lewi. Ia Sendiri juga telah mengatakan: “Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari pada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku.” Dan Ia mengatakan kepada kita bahwa “setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, bapa atau ibunya, anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal” (Mat 19). Oleh sebab itu, Ia yang menetapkan perintah haruslah memberikan teladan dan seperti telah dikatakan-Nya kepada para pengikut-Nya untuk meninggalkan segala sesuatu yang mereka miliki demi Kerajaan Allah, Diri-Nya Sendiri harus melakukan segala yang Ia dapat, meninggalkan segala yang Ia miliki, meninggalkan rumah-Nya dan Bunda-Nya, ketika tiba saatnya Ia harus mewartakan Injil.

Sebab itu, sejak saat awal pewartaan-Nya, Ia meninggalkan Bunda-Nya. Pada saat Ia melakukan mukjizat-Nya yang pertama, Ia menyatakannya. Ia melakukan mukjizat atas permintaan Bunda-Nya, tetapi secara tak langsung atau lebih tepat menyatakan, bahwa saat itulah Ia mulai memisahkan Diri darinya. Kata Yesus, “Mau apakah engkau dari pada-Ku, perempuan?” dan lagi, “Saat-Ku belum tiba”; yakni “akan tiba waktunya di mana Aku akan mengenalimu kembali, oh BundaKu. Akan tiba waktunya ketika engkau dengan sepantasnya dan dalam kuasa akan dipersatukan dengan-Ku. Akan tiba waktunya ketika atas permintaanmu, Aku akan melakukan mukjizat-mukjizat; akan tiba waktunya, tetapi bukan sekarang. Dan hingga tiba waktunya, Mau apakah engkau dari pada-Ku? Aku tidak mengenalmu. Untuk sementara waktu Aku telah melupakan engkau.”

Sejak saat itu, kita tidak mendapati catatan mengenai perjumpaan-Nya dengan Bunda-Nya hingga Ia melihatnya di bawah salib. Ia berpisah dengannya. Satu kali Bunda-Nya berusaha menemui-Nya. Dikisahkan bahwa Ia tidak sendirian. Murid-murid ada di sekeliling-Nya. Bunda Maria tampaknya kurang suka ditinggalkan sendiri. Ia juga pergi mendapatkan-Nya. Pesan disampaikan kepada-Nya bahwa ibunda dan saudara-saudara-Nya berusaha menemui-Nya, tetapi tidak dapat mencapai-Nya karena orang banyak. Kemudian Ia mengatakan perkataan yang serius ini, “Siapakah ibu-Ku?” dst, artinya, seperti tampaknya, Ia telah meninggalkan segalanya demi melayani Tuhan, dan bahwa seperti Ia telah dikandung dan dilahirkan dari Santa Perawan demi kita, demikian pulalah Ia tidak mengindahkan Bunda-Nya yang Perawan demi kita, agar Ia dapat memuliakan Bapa Surgawi-Nya dan melakukan karya-Nya.

Demikianlah perpisahan-Nya dengan Bunda Maria, tetapi ketika di salib Ia berkata, “Sudah selseai.” Saat perpisahan telah berakhir. Dan sebab itu, karena Bunda-Nya telah bergabung dengan-Nya, dan Ia, melihat Bunda-Nya, mengenalinya kembali. Waktunya telah tiba, dan Ia berkata kepadanya tentang St Yohanes, “Perempuan, inilah anakmu!” dan kepada St. Yohanes, “Inilah ibum!”

Dan sekarang, saudara-saudaraku, sebagai kesimpulan aku hanya akan mengatakan satu hal. Aku tidak ingin kata-kata kalian melebihi perasaan kalian yang sesungguhnya. Aku tidak menghendaki kalian mengambil buku-buku berisi puji-pujian kepada Santa Perawan dan mempergunakannya serta menirunya dengan tergesa tanpa merenungkannya. Melainkan, yakinlah akan hal ini, yaitu apabila kalian tidak dapat masuk ke dalam kehangatan buku-buku devosi asing itu, hal itu akan merupakan kelemahan bagimu.

Menggunakan kata-kata yang kuat tidak berarti akan menyelesaikan masalah; hal ini merupakan suatu kesalahan yang hanya akan dapat diatasi secara perlahan-lahan, tetapi tetap merupakan suatu kelemahan. Bergantunglah pada cara kalian masuk ke dalam sengsara Putra yang adalah dengan masuk ke dalam sengsara Bunda. Tempatkanlah dirimu di bawah kaki salib, pandanglah Bunda Maria yang berdiri di sana, menengadah ke salib dan dengan jiwanya ditembusi pedang. Bayangkanlah perasaan-perasaan hatinya, jadikan itu perasaan hatimu. Jadikan ia teladanmu yang istimewa. Rasakanlah apa yang ia rasakan dan kalian akan dengan layak menangisi sengsara dan wafat Juruselamatmu dan Juruselamatnya. Teladanilah imannya yang bersahaja dan kalian akan percaya dengan baik. Berdoalah agar dipenuhi rahmat seperti yang dianugerahkan kepadanya. Sayang sekali, kalian pasti akan merasakan banyak perasaan seperti yang tak dimilikinya, perasaan atas dosa pribadi, atas penderitaan pribadi, atas tobat, atas penyangkalan diri, tetapi hal-hal ini dalam diri seorang berdosa pada umumnya akan disertai dengan iman, kerendahan hati, kesahajaan yang adalah perhiasannya yang utama. Menangislah bersama Bunda Maria, berimanlah bersamanya, dan pada akhirnya engkau akan mengalami kebahagiaannya seperti yang dimaksud dalam ayat Kitab Suci. Tak seorang pun sungguh-sungguh dapat memperoleh hak istimewanya yang khusus dengan menjadi Bunda Yang Mahatinggi, tetapi kalian akan ikut ambil bagian dalam kebahagiaanya yang lebih besar, yaitu kebahagiaan dalam melaksanakan kehendak Allah dan mentaati perintah-perintah-Nya.

Disampaikan oleh: Kardinal Yohanes Henry Newman di Katedral St. Chad, 1848

Diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin Catholic Information Network
...lanjutkan baca ⇒
| 0 komentar |

Rabu, 19 Mei 2010

Pelayanan Doa

Dalam kehidupan memang selalu ada hal yang menyenangkan tentu pantas dikenang, ada pula hal yang tidak menyenangkan yang tentu melukai perasaan kita. Kesemuanya itu adalah anugerah dariNya yang selayaknya kita syukuri, karena membuat kita semakin dewasa. Untuk semuanya itu pantaslah kita bersyukur dan membawanya ke dalam doa. Bila Anda merasa kurang mantap berdoa sendirian maka Anda dapat menyampaikannya melalui form berikut ini :

...lanjutkan baca ⇒