Jumat, 05 Februari 2010

Mariologi - Teologi Marial - 2

BAB II
MARIA, IBU-PERAWAN

51. Dalam refleksinya atas iman kepada Yesus umat Kristen mengikutsertakan juga ibu Yesus. Dengan jalan itu iman umat melampaui apa yang diketahui seorang ahli ilmu sejarah. Penjernihan iman akan Yesus Kristus serentak menjernihkan peranan ibuNya.

A. IBU YESUS

1. Maria, ibu Tuhan jemaah


52. Apa yang pasti dan terbuka untuk penelitian ilmu sejarah, berdasarkan Perjanjian Baru, ialah: Maria adalah ibu Yesus. Kenyataan itu mempunyai relevansi kristologiknya. Segi kristologik itu disoroti oleh Paulus (Gal 4:4), yang menandaskan: “Setelah genap waktunya, maka Allah mengutus AnakNya (Yesus) yang jadi lahir dari wanita”. Pertama-tama Paulus mau mengatakan sesuatu tentang Yesus Kristus. Sama seperti manusia Ia jadi lahir dari wanita (bdk. Mat 11:11). Dengan demikian Yesus, Anak Allah menurut Paulus, ditempatkan dalam rangkaian manusia. Untuk menyebut ibu Yesus (tanpa nama) Paulus menggunakan kata Yunani yang umum sekali (Guné). Kata itu dapat berarti “perempuan” pada umumnya, tetapi juga “istri”. Paulus hanya mengkualifikasikan ibu Yesus sebagai “perempuan”, entahlah ia seorang istri.

53. Hanya orang boleh menanyakan: Mengapa Paulus menyebut ibu Yesus sebagai “perempuan” dan tidak sampai menyebut ayah Yesus sebagai “laki-laki”. Rm 1:8 berkata tentang Anak Allah (Yesus) yang “menurut daging (jadi lahir) dari benih (keturunan) Daud”. Mengapa dalam Gal 4:4 Paulus tidak mengatakan misalnya: yang jadi lahir / diperanakkan dari seorang laki-laki? Mungkinkah Paulus tidak pertama-tama berpikir kepada ibu historik Yesus, melainkan kepada wanita pertama (Hawa), yang menjadi “ibu segala yang hidup” (Kej 3:20), tetapi justru dalam melahirkan anak menjadi terkutuk (Kej 3:16)? Mungkin sekali Paulus mau memasukkan Yesus ke dalam keturunan wanita yang terkutuk, supaya kutuk itu dibatalkan olehNya (bdk. Kej 3:15).

54. Meskipun Gal 4:4 tidak memikirkan ibu Yesus, namun berkat ibu itulah Yesus termasuk ke dalam umat manusia (seadanya). Antara Yesus dan “perempuan” itu ada suatu relasi khusus dan unik. Tidak ada manusia satu pun yang menjadi ibu Yesus (menurut Paulus Anak Allah), kecuali ibu yang bernama Maria. Berkat relasi unik itu Anak Allah, Yesus, termasuk umat manusia dan menjadi senasib dengannya. Dengan demikian “perempuan” itu, yang menjadi ibu Yesus, serentak mendapat suatu kedudukan dan peranan unik dalam sejarah – ini memang perspektif Paulus – dan karya penyelamatan Allah. Sebab, menurut Gal 4:4-5 Allah mengutus AnakNya (yang lahir dari wanita) untuk menebus mereka yang takluk kepad hukum (Taurat?), supaya kita diterima menjadi anak Allah.

55. Paulus dalam Gal 4:4 tentu saja tidak menekankan relasi Yesus dengan ibuNya. Tetapi Paulus kiranya juga tidak melihat relasi itu hanya sebagai relasi biologik dan pasif belaka. Relasi ibu dengan anak bukan perkara biologik belaka, kecuali kalau anak itu tidak diinginkan. Memang sejak abad II (Kelsus) ada orang (yang berpolemik dengan orang orang Kristen) yang berkata tentang Yesus sebagai anak hasil hubungan gelap (zinah) atau malah hasil pemerkosaan. Polemik itu berasal dari kalangan orang Yahudi dan akhirnya juga tercantum dalam Talmud dan dalam pelbagai ceritera tentang Yesus (Toledoth Yosua) yang tersebar di kalangan Yahudi zaman pertengahan.

56. Sedikit memalukan bahwa akhir-akhir ini malah ada beberapa teolog (Katolik) yang tidak segan mengangkat kembali pikiran kuno itu dan tidak keberatan jikalau Yesus anak tidak sah, malah hasil pemerkosaan. Ada yang menemukan tuduhan bahwa Yesus (dianggap) anak haram (oleh lawan-lawanNya) dalam Perjanjian Baru juga. Mereka menunjuk ke Mrk 6:3, tempat Yesus oleh penduduk Nazaret disebut “ bin Maria” dan ke Yoh 8:41 tempat mereka menemukan tuduhan orang Yahudi bahwa Yesus anak haram. Lalu mereka berkata bahwa Mat 1:18-25 (serta Luk 1:34-35) bermaksud menangkis serangan atas Yesus itu dengan berkata bahwa Maria hamil sebelum nikah dari Roh Kudus. Rupanya Al-Quran, yang banyak berbicara tentang Maryam, mati-matian membela bahwa Yesus dikandung secara ajaib, justru untuk menolak apa yang dikatakan orang Yahudi di Arabia tentang Yesus dan ibuNya. Yakni bahwa Yesus sebenarnya hasil hubungan gelap (bdk. Surah 19:27-34; 4:156).

57. Gambaran yang diberikan khususnya oleh Luk 1:26-38 memperlihatkan bahwa penginjil dan jemaahnya yakin keibuan Maria bukan perkara biologis saja. Relasi biologik saja menurut Luk 11:27-28; 8:19-21 dsj. bukanlah relasi yang memutuskan atau yang amat penting. Maka Luk 1:38 justru menekankan bahwa Maria dengan sebulat hati merelakan diri menjadi ibu Yesus. Maka relasi unggul dan tunggal antara Yesus dan ibuNya mencakup segi biologik dan pun pula segi yang amat personal dan pribadi. Relasi pribadi, justru karena relasi fisik itu, mempuyai ciri tunggal yang tidak mungkin terwujud pada orang lain, kecuali pada ibu Yesus. Relasi pribadi tentu saja paling penting, tetapi tanpa dasar biologik itu mungkin bagi semua orang beriman (bdk. Mrk 3:33-35; Mat 12:48-50).

58. Kerelaan Maria, yang ditekankan Luk 1:38, kembali tampil pada Luk 8:19-21. Luk jelas mengolah Mrk 3:31-35. Nas Mrk itu (dan juga sedikit Mat 12:46-50) memberikan kesan seolah-olah Yesus blak-blakan menolah relasi biologik (keluarga) sebagai relevan, apalagi kalau Mrk 3:31-35 mesti dihubungkan dengan Mrk 3:21. Orang berkesan bahwa, menurut Mrk, juga ibu Yesus hanya melihat kualifikasi biologik saja. Tetapi dalam versi Luk 8:19-21 ibu Yesus termasuk ke dalam kalangan mereka yang mendengarkan dan melakukan firman Allah, sesuai dengan apa yang dikatakan Luk 1:38. Pikiran itu terulang dalam Luk 11:27-28, yang menyinggung Luk 1:45.

59. Kalau Maria merelakan diri untuk menjadi ibu Yesus, maka ia pun merelakan diri untuk mengemban kedudukan dan peranan unik, yang diberikan kepadanya dalam karya penyelamatan Allah. Adanya Yesus di dunia ini nyatanya bergantung pada ibuNya, sama seperti adanya setiap anak bergantung pada ibunya. Hanya anak Maria, menurut kepercayaan Kristen (bdk. Luk 2:11), adalah Juru Selamat, malah Juru Selamat dunia (Yoh 4:42). Maka pada garis mendatar adanya Juru Selamat bergantung pada Maria. Ini memang suatu kedudukan dan peranan tunggalm yang terikat pada keibuan biologik-personal Maria. Dan dengan demikian secara tak langsung penyelamatan sendiri (yang dikerjakan Allah melulu melalui Yesus Kristus) bergantung pada Maria. Mat 1:21 juga menegaskan bahwa Maria melahirkan Yesus yang (denganNya Allah) menyelamatkan umatNya dari dosa-dosa mereka. Nama Yesus (Yesua) memang berarti Tuhan Yhwh) menyelamatkan/menolong.

60. Tentu saja hanya iman kepercayaan Kristen sajalah yang mengimani Yesus sebagai Juru selamat dunia, sebagai “Allah beserta kita” (Mat 1:23). Anak Maria bukan sembarangan anak. Umat Kristen, yang percaya kepada Yesus yang dibangkitkan Allah memberiNya pelbagai gelar lain, yang mengungkapkan kepercayaan itu. Gelar-gelar itu tampil juga dalam ceritera-ceritera seputar kelahiran Yesus. Yesus adalah Mesias (Mat 2:4; Luk 2:11), keturunan Daud, seperti diperlihatkan oleh silsilah Yesus yang disusun oleh tradisi ataupun penginjil (Mat 1:1-16), dan ditegaskan Luk 1:32. Karena itu pun Yesus mesti lahir di Betlehem, kota Daud (Mat 2:1; Luk 2:4-7.11). menurut iman Kristen itu Yesus adalah Anak Yang Mahatinggi, Anak Allah (Luk 1:32-35; Mat 2:15) dan Tuhan (kyrios) (Luk 1:43). Seluruh kepercayaan umat Kristen kepada Yesus terungkap dalam ceritera-ceritera sekitar kelahiranNya. Iman, yang jauh kemudian hari barulah berkembang, dipindahkan kepada Yesus pada saat lahir. Maka pemakaian gelar-gelar itu bukanlah secara proleptik, tetapi pada saat itu Yesus sudah demikian, meskipun jauh di kemudian hari baru diketahui.

61. Maka sedikit percuma orang dapat bertanya seberapa jauhnya Maria sudah mengetahui semuanya itu pada saat ia mengandung Yesus. Seandainya ceritera sekirat kelahiran Yesus berupa laporan, maka tidak ada soal. Semuanya sudah dinyatakan kepada Maria (dan Yusuf menurut Mat 1) oleh Tuhan (malaikat) sendiri (Mat1:18-23; Luk 1:28-38). Tetapi nyatanya ceritera itu bukanlah sebuah laporan. Maka sebenarnya orang tidak dapat tahu apa-apa mengenai apa yang disadari Maria dan apa yang tidak disadarinya. Tanpa dasar orang dapat berkata: Maria tidak tahu apa-apa dan juga: Maria tahu segala-galanya. Sebagai wanita Yahudi Maria tentu saja percaya kepada Allah dan ia menjadi peserta dalam harapan bangsanya. Lebih dari itu tidak kita ketahui.

62. Menurut gambaran yang disajikan Luk 1 Maria memang sepenuh-penuhnya percaya. Justru kapercayaan itulah ia dipuji bahagia (Luk 1:45).di lain pihak penginjil tidak berkeberatan mementaskan Maria sebagai seorang yang tidak mengerti (Luk 2:18.33.48-50) dan hanya dapat menyimpan segala peristiwa dalam hati dan merenungkannya (Luk 2:19.51). Pastilah maksud penginjil bahwa di kemudian hari barulah semuanya menjadi jelas bagi Maria. Seolah-olah penginjil sadar bahwa iman Kristen seperti itu terungkap dalam ceritera-ceriteranya belum ada waktu Yesus lahir. Luk 1:26-38 (dan 2:19.51) memang mengingatkan sastera apokaliptik (seperti kitab Daniel). Di sana cukup biasa si “penglihat” mendapat wahyu dari (malaikat) Allah, tetapi tidak mengertinya, lalu menyimpannya dalam hati sampai nanti terlaksana. (bdk. Dan 12:8-9.6-7).

63. Bahkan Luk (2:34-35) tidak berkeberatan mengatakan bahwa bagi Maria anaknya sendiri menjadi sandungan dan tanda yang menimbulkan perbantahan,sehingga suatu pedang akan menembusi jiwa Maria. Tafsiran ayat-ayat itu bermacam-macam. Pedang yang menembusi jiwa Maria kerap kali diartikan begitu rupa, sehingga yang dimaksudkan ialah kesengsaraan Maria (bersama dengan Yesus). Dalam tradisi Kristen sejak zaman pertengahan Maria suka digambarkan sebagai “Mater Dolorosa” (Ibu berduka cita), yang jantungnya tertusuk tujuh pedang. Hanyalah ketepatan tafsiran itu boleh diragukan juga. Yesus menjadi batu ujian bagi umat Israel dan begitu menjatuhkan (karena ketidak percayaan) atau mambangkitkan (karena percaya) banyak orang di Israel. Penginjil rupanya tidak mau mengecualikan Maria. Juga iman Maria diuji selama kehidupan Yesus di bumi, meskipun penginjil (bdk. Luk 11:28; Kis 1:14) yakin bahwa ibu Yesus tidak termasuk mereka yang dijatuhkan.

64. Tradisi Kristen kuno (Misalnya Origenes) tidak segan menafsirkan “pedang yang menembusi jiwa Maria” sebagai pedang keraguan iman Maria. Tetapi penginjil dengan berkata tentang “pedang” kiranya berpikir kepada “pedang penghakiman”, seperti disebutkan Yeh 14:17. Pedang penghakiman itu memisahkan antara yang baik dan yang buruk. Begitulah, oleh eksistensi anaknya selanjutnya Maria akan “dihakimi”. Maria pun mesti memilih antara Yesus dan sesuatu yang lain, misalnya familinya; ia mesti memilih antara percaya atau tidak percaya. Sama seperti menurut Injil (Mat 4:1-11 dsj.) Yesus dicobai, diuji kesetiaanNya dan menghadapi pilihan, demikian pun menurut Luk 2:34-35, iman ibuNya diuji dan kesetiaannya dicobai. Hanya sama seperti Yesus tahan uji, demikian pun ibuNya. Begitulah gambaran Luk 8:21.

65. Kalau Maria secara biologik dan secara personal ibu Yesus, maka menurut kepercayaan Kristen, ia manjadi ibu Mesias (Mat 1-16.22-23) yang menggenapi harapan Perjanjian Lama, ibu Anak Allah yang Mahatinggi (Luk 1:32.35), ibu Tuhan jemaah (Luk 1:43) ibu Juru selamat (bdk. Mat 1:21.23; Luk 2:11) dan ibu cahaya sekaian bangsa (Luk 2:32).

2. Maria, Bunda Allah

66. Kristologi yang tercantum dalam Perjanjian Baru dalam tradisi selanjutnya serta dalam lingkup alam pikiran lain (Yunani) diperkembangkan. Data kristologik yang termaktub dalam Perjanjian Baru dipadatkan dalam penegasan bahwa Yesus Kristus, Anak Allah, adalah Firman Allah yang kekal, Allah –Anak yang sehakikat dengan Bapa (konsili Nikea, tahun 325). Allah-Anak, yang memang sungguh-sungguh Allah oleh karena sehakikat dengan Bapa, menjadi daging, manusia begitu rupa, sehingga Ia Allah dan manusia serentak, namun tetap satu (konsili Efesus, tahun 431; Kalkedon, tahun 451).

67. Perkembangan dalam Kristologi ia membawa akibat bagi Mariologi juga. Kalau Yesus benar-benar Allah, maka ibu Yesus menjadi ibu Allah juga. Maka sejak abad IV (Doa “Sub tuum praesiduim) Maria mulai disebut “Theo-tokos”, “Dei-genitrix”, artinya: yang melahirkan Allah. “Dei-genitrix” dalam bahasa Latin menjadi “Dei-para” dan “Mater Dei”, “Bunda Allah”. Dan gelar itulah yang menjadi lazim terpakai. Tetapi gelar “bunda Allah” dapat menyesatkan, seolah-olah Allah mempunyai ibu, sehingga Maria menjadi mirip dengan dewi, bunda dewa/dewi dalam mitologi kafir. Istilah “Theo-tokos”, “Dei-genitrix” (yang melahirkan Allah) lebih tepat. Istilah itu hanya menyatakan bahwa Maria melahirkan seorang anak, yang – menurut dogma konsili Nikea – memang Allah, oleh karena sehakikat dengan Bapa. Istilah itu tidak mengatakan bahwa Allah (keilahian) mempunyai ibu, tetapi manusia yang adalah Allah tentu saja mempunyai ibu, sebagai layak bagi manusia sejati.

68. Istilah dan gelar “Theo-tokos”, “Dei-genitrix” dan dengan arti itu “Bunda Allah” diresmikan dan didogmatisasikan oleh konsili Efesus (tahun 431). Alasannya ialah pikiran Nestorius, Batrik Konstantinopolis, serta pengikut-pengikutnya. Mereka menolak gelar, yang sudah populer itu, oleh karena berbau mitologi kafir. Mereka mempertahankan bahwa pada Yesus ada dua subjek dan dengan arti itu dua “orang”, yaitu Firman Allah / Allah-Anak, dan manusia Yesus Kristus. Maria adalah ibu manusia itu. Karena itu ia boleh disebut “Anthropo-tokos” (yang melahirkan manusia) atau “Khisto-tokos” (yang melahirkan Kristus). Maka demi mempertahankan kesatuan subjek pada Yesus Kristus konsili Efesus menetapkan bahwa Maria boleh dan mesti disebut “Theo-tokos”, “Dei-genitrix”, “Bunda Allah”.

69. Tetapi konsili menjelaskan: Maria disebut demikian bukanlah oleh karena kodrat Firman dan keilahianNya mendapat asal usulnya dari Perawan Suci, tetapi oleh karena tubuh suci yang dilengkapi dengan akal diambil darinya dan dengan tubuh itu Firman Allah dipersatukan menurut kemandirian, maka Firman itu dikatakan lahir menurut daging (DS 251). Sejak konsili Efesus gelar “Theo-tokos”, “Dei-genitrix”, “Bunda Allah” menjadi tradisional dan terus dipakai. Tetapi jelas pula bahwa felar itu hanya dapat dipahami dan dibenarkan dalam rangka dogma kristologik. Di luar kerangka itu gelar itu kehilangan artinya dan menjadi hujat belaka.

70. Baiklah umat Kristen, khususnya di tengah kaum Muslimin, hati-hati. Oleh karena tradisi umat Islam melepaskan gelar itu dari rangka aslinya, maka gelar “Bunda Allah” di telinga saudara-saudara Muslimin menjadi hujat. Maka berkesan seolah-olah umat Kristen berpendapat bahwa Allah Yang Mahaesa mempunyai ibu dan bahwa Maria dijadikan mirip dengan dewi kafir, yang mati-matian ditolak oleh Al-Quran. Ataupun mereka berkesan bahwa Maria menjadi sebagian dari Trinitas Kristen. Tidak mustahil bahwa di zaman Muhammad (abad VII) di Arabia dan Siria ada orang Kristen yang dalam devosi meluap-luap mengilahikan Bunda Almasih yang bersama dengan Bapa melahirkan “Anak-Allah”. Kalau demikian maka Maria dan Allah dipikirkan sebagai sepasang dewa-dewi yang melahirkan anak (dewa). Maka ada tiga: Allah Bapa, Maria, Allah-Anak. Pikiran itu memang kekafiran belaka. Tentu saja kalau gelar “Bunda Allah” dimengerti dengan cara demikian ia menjadi “hujat”, tetapi tidak lagi mengucapkan apa yang diimani umat Kristen.

B. IBU-PERAWAN
1. Yesus dikandung dari Roh Kudus oleh perawan

71. Sejak Perjanjian Baru pada umat Kristen ada keyakinan bahwa Yesus tampil di muka bumi ini dengan cara lain daripada yang biasa bagi manusia. Seperti manusia lain Ia dilahirkan oleh ibuNya, Maria, tetapi tidak diperanakkan oleh seorang ayah, seperti manusia lain. Seperti dirumuskan dalam Mat 1:18: Ibu Yesus mengandung Dia dari Roh Kudus, Roh, daya cipta Allah sendiri. Roh Kudus itu bukan dari ayah Yesus (bdk. DS 533), tetapi Allah dengan RohNya, ialah daya penciptaan (bdk. Kej 1:1 dst.), menciptakan Yesus dari ibuNya dan langsung melepaskan proses alam pembentukan anak, yang biasanya dilepaskan oleh ayah anak itu.

72. Kalau ibu Yesus berulang kali disebutkan sebagai “perawan” (Yunaninya: Parthenos) waktu mengandung Yesus (Mat 1:23; Luk 1:27), maka kata itu sendiri tidak terlalu banyak artinya. Sebab arti kata Yunani itu cukup luas. Kata itu dapat berarti putri/pemudi yang belum kawin (bdk. Luk 2:36; Mat 25:1; 1Kor 7:25.28) tanpa implikasi lebih lanjut. Mana persis arti kata itu hanya dapat ditentukan oleh konteks pemakaiannya.

73. Baiklah diingat bahwa tradisi mengenai diperkandungnya Yesus oleh perawan Maria pertama-tama mengenai Yesus Kristus, bukan Maria. “Conceptio virginalis” (dikandungnya Yesus oleh perawan) pertama-tama termasuk Kristologi, bukan Mariologi. Tetapi secara tak langsung ajaran itu juga mengatakan sesuatu tentang Maria. Sebagai perawan ia menjadi ibu, sehingga ia ibu-perawan. Ia perawan dalam keibuannya dan tidak terlepas darinya. Sebagai perawan Maria mengandung Yesus.

74. Tradisi tentang keperawanan Maria dalam mengandung Yesus (virginitas ante partum) amat kuat sekali. Dengan jelas sekali terungkap dalam Mat 1:18. “Ketika ibu Yesus bertunangan dengan Yusuf ia kedapatan mengandung (mempunyai dalam kandungan) dari Roh Kudus, sebelum mereka berkumpul (secara resmi nikah).” Dan (Mat 1:25) Yusuf “tidak mengenal dia (istilah Ibrani yang berarti: bersetubuh), hingga ia melahirkan anak”. Hal yang sama sudah disinggung dalam Mat 1:16. Menurut teks yang pasti asli (dalam naskah-naskah Yunani memang ada kekacauan) ayat itu berbunyi: “Yakub memperanakkan Yusuf, suami Maria, yang dari padanya (ialah Maria) dilahirkan Yesus, yang disebut Kristus”. Pada akhir silsilah (Mat 1:1-17) ungkapan yang lazim: Si A memperanakkan Si B, tiba-tiba berubah. Tidak lagi dikatakan: Yusuf, suami Maria, memperanakkan Yesus, yang disebut Kristus, tetapi: Yakub memperanakkan Yusuf, suami Maria yang (Maria) dari padanya dilahirkan Yesus... Keanehan dalam silsilah itu justru dijelaskan Mat 1:18-25. Yesus tidak dikandung secara biasa, tetapi “dari Roh Kudus”.

75. Meskipun tak setegas Mat 1:18.25, namun juga Luk mengungkapkan pikiran yang sama. Silsilah Yesus yang disajikan Luk 3:23-38, yang berbeda sekali dengan yang termuat dalam Mat 1:1-17, bermula dengan Yesus, yang “dianggap anak Yusuf”. Tidak ada alasan yang meyakinkan untuk menilai ungkapan “yang dianggap” sebagai suatu sisipan yang tidak asli. Sebab Luk 1:34-35 mengungkapkan gagasan itu pula. Atas pertanyaan Maria: “Bagaimana itu (ialah menjadi ibu) akan terjadi oleh karena aku tidak mengenal (=bersetubuh dengan) laki-laki (=suami)”, malaikat menjawab: “Roh Kudus akan turun atasmu dan (=ialah) kuasa Yang Mahatinggi akan menaungi engkau”. Meskipun keaslian ayat 34-35 oleh sementara ahli tanpa dasar pernah diragukan dan meskipun maksud ayat-ayat itu dipersoalkan, namun sebaik-baiknya teks diterima seadanya. Maksudnya ialah: Malaikat (ialah penginjil, tradisi Kristen) mau menekankan bahwa Maria mengandung Yesus berkat daya kekuatan Allah. Maka Luk 1:34-35 sama artinya dengan apa yang terungkap dalam Mat 1:18-25.
Maka pertanyaan Maria: “Bagaimana hal itu mungkin terjadi karena aku tidak mengenal laki-laki” (Luk1:34) mesti dipahami sebagai berikut: Bagaimana hal itu mungkin terjadi sekarang karena aku tidak (belum) mengenal laki-laki, belum nikah. Sebab kalau menjadi ibu nanti barulah terjadi, tidak ada soal. Maria bertunangan menurut kisah Luk (1:27; 2:5), tetapi pernikahan belum dilaksanakan. Maka wajar sekali kalau nanti Maria mendapat anak dari suaminya, meskipun anak itu Anak dari Yang Mahatinggi. Gelar Mesias itu sama sekali tidak mengimplikasikan (dalam tradisi Yahudi) bahwa dikandung secara ajaib.

2. Ibu-perawan

76. Tradisi Kristen selanjutnya, sampai abad XIX, selalu mengerti kesaksian Mat dan Luk tersebut secara demikian pula. Hanya tekanan sedikit bergeser, sehingga segi Mariologi menjadi menyolok dan segi Kristologi sedikit kurang diperhatikan. Ignasius, uskup Antiokhia di Siria (± tahun 110) yang melawan semacam doketisme yang menyangkal kemanusiaan Yesus, dalam suratnya kepada jemaah di Smirna (1:2) dan jemaah di Efesus (18:2) jelas menilai dikandungnya Yesus oleh perawan sebagai pokok iman Kristen. Demikian pun Aristides (± tahun 140), Justinus (± tahun 163, Apol I:31.46; Dial. 63:1; 85:2), Irenius (± tahun 202, Adv. Haer. 1:10.1; Adv. Prax 2:1) dan Tertullianus (± tahun 222, De Praescr.Haer.13:3) menganggap “conceptio virginalis” sebagai “regula fidei” (kaidah iman) yang umum diterima. Pada akhir abad II memang ada sekelompok orang Kristen keturunan Yahudi (disebut “Ebyonim”) yang berpendapat bahwa Yesus dikandung secara wajar sama seperti manusia lain dikandung. Justru terhadap pendapat itulah Ireneus dan Justinus mempertahankan “conceptio virginalis” dan itu pun secara biologik “sine semine virili” (tanpa mani laki-laki). Sejak abad III keyakinan itu masuk ke dalam syahadat, yang selalu berkata: Yesus Kristus, Anak Allah, yang karena Roh Kudus lahir dari perawan Maria (bdk. DS 10.11.12.13 dll.). Kadang-kadang dalam syahadat setempat ditambah: ... lahir dari perawan tanpa benih (mani) laki-laki” (bdk. DS 62.63) dengan maksud menekankan dimensi biologik-fisik keperawanan itu. Penegasan itu beberapa kali diulang lagi (bdk. DS 189.368.503.533.1880). Juga masih diafirmasikan oleh konsili Vatikan II (LG N.63), meskipun konsili (tahun 1964) tahu tentang keraguan yang sejak abad XIX muncul.

77. Keraguan mengenai keperawanan Maria dari segi fisik-biologiknya pada abad XIX mulai tampil di kalangan teolog (liberal) Reformasi. Para Reformator (Luther, Kalvin, Zwingli dsb.) tidak sampai meragukannya dan meneruskan saja tradisi kuno. Begitu pula ajaran itu masuk ke dalam “pengakuan-pengakuan iman” yang disusun di zaman Reformasi (abad XVI). Dan tetap cukup banyak teolog (a.l K.Barth) yang mempertahankan dan membela ajaran tradisional itu.
Keraguan tentang dan penolakan keperawanan (fisik) Maria, yang sejak abad XIX semakin meluas, sampai juga memperngaruhi sejumlah teolog Katolik (seperti H Küng; Katekismus Belanda tahun 1968 mendiamkannya saja tanpa protes dari pihak para uskup, tetapi tentu dari pihak Roma), mesti ditempatkan pada latar belakang rasionalisme abad XIX (ketakutan terhadap “mukjizat”) dan penilaian kembali terhadap seksualitas dan perkawinan selama abad XX.

78. Tetapi keraguan tersebut juga mendasarkan diri pada Kitab Suci. Dikatakan – memang tepat juga – bahwa Perjanjian Baru (kecuali Mat1 dan Luk 1) tidak tahu menahu tentang suatu kelainan dalam dikandungnya Yesus. Paulus (Gal 4:4) rupanya mengandaikan saja bahwa Yesus “lahir dari wanita” sama seperti semua orang dan karenanya menjadi senasib denan manusia lain (kena kutuk). Rm 1:3 rupanya menganggap Yesus keturunan Daud seperti lain keturunan Daud. Berulang kali Perjanjian Baru berkata tentang Yesus sebagai “bin Yusuf” (Yoh 1:45; 6:42; Luk 4:22) atau tentang “ayah” (orang tua) Yesus (Luk 2:27.33.41.43.48; Mat 13:55) dan itu tidak pernah, kecuali dalam Luk 3:23, secara tegas dibantah.
Sebagai argumen teologik kadang-kadang mau dipertahankan bahwa ajaran tradisional ini merongrong kemanusiaan Yesus dan dogma inkarnasi. Kalau Yesus dikandung di luar aturan alam dan umum, Ia nampaknya tidak menjadi manusia seperti yang lain dan seluruhnya senasib dengan mereka (bdk. Ibr 2:17; 4:15).

79. Ada juga sementara ahli Kitab yang mengira dapat menemukan keperawanan maria dalam ayat-ayat tertentu. Mereka menunjuk kepada Mrk 6:3. Yesus di sana disebut sebagai “anak Maria” saja. Dalam Mat 11:11 Yesus diperlawankan dengan Yohanes Pembaptis yang “lahir dari wanita” seperti orang lain. Yesus lain halnya. Beberapa naskah Yoh 1:13 tidak berkata tentang “mereka yang diperanakkan bukan dari darah atau daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah”, tetapi tentang “dia yang diperanakkan...”. Tetapi ayat-ayat ini tidak membuktikan apa-apa. Menurut Mrk 6:3 penduduk Nazaretmenyebut Yesus “anak Maria”. Cara bicara macam itu tentu saja kurang biasa. Biasanya seseorang disebut “anak ayahnya”, bukan “anak ibunya”. Tetapi cara bicara Mrk 6:3 tidak mustahil juga. Boleh jadi bahwa menurut pikiran tradisi yang ada pada Mrk 6:3 Maria dianggap sedang menjanda, Yusuf sudah meninggal. Ada juga yang berpendapat bahwa cara bicara itu mau menghina Yesus sebagai anak haram. Mat 11:11 juga sukar dipakai. Tafsiran yang menemukan keperawanan dalam ayat ini berjalan sebagai berikut. Yohanes Pembaptis disebutkan sebagai yang terbesar di antara mereka yang lahir dari wanita, yaitu secara normal. Dengan Yohanes itu diperlawankan “yang terkecil dalam Kerajaan Surga”. Yang toh lebih besar daripada Yohanes. Adapun “yang terkecil dalam Kerajaan Surga” ialah Yesus, yang lebih besar daripada Yohanes. Tetapi Yesus tidak “lahir dari wanita” secara normal. Ibu Yesus dalam melahirkan anaknya berperan sebagai perempuan dan laki-laki serentak. Tafsiran ini mau dikuatkan dengan terjemaha (salah satu naskah) Siria pada Mat 1:18b. Terjemahan itu berbunyi: ia (Maria) mengandung sebagai laki-laki. Jadi Yesus dikandung dengan tidak ada seorang laki-laki yang berperan. Tetapi tafsir macam itu boleh dianggap terlalu dibuat-buat dan ketepatannya tidak dapat dibuktikan. Salah satu naslah terjemahan Siria tentu saja tidak mencukupi utnuk membuktikan maksud penginjil. Paling-paling penyalin naskah itu yang mengungkapkan pandangannya. Mengenai Yoh 1:13 harus dikatakan: Sukar dibuktikan bahwa teks asli sungguh-sungguh berbunyi: “ia diperanakkan ...” Lebih mudah dimengerti bahwa yang asli: “mereka diperanakkan ... “ diubah menjadi: “ia diperanakkan...”, setelah umat Kristen umum sudah yakin tentang keperawanan Maria, lalu ingin menemukannya dalam Injil keempat juga. Dengan perubahan kecil dalam Yoh 1:13 maksud itu tercapai. Tetapi sukar orang menerima bahwa sebuah teks yang jelas mengungkapkan keperawanan itu kemudian dihilangkan.

80. Kalau demikian duduk perkaranya muncullah pertanyaan: Bagaimana Mat 1:18.25 dan Luk 1:34-35 mesti dipahami? Kedua nas itu jelas mengungkapkan bahwa Yesus dikandung oleh seorang perawan tanpa ayah. Soal itu oleh sementara teolog dijawab dengan berkata bahwa “keperawanan itu” suatu simbol sastera belaka. Boleh jadi penginjil mengertinya secara fisik-biologik, tetapi tidak perlujuga itu maksud semula dalam tradisi yang dipakai Mat dan Luk.

81. Jelaslah Mat dan Luk mengangkat suatu tradisi yang mendahului mereka. Sebab kedua penginjil amat berbeda dalam ceriteranya, tetapi justru dalam hal keperawanan mereka sepakat. Lalu dikatakan bahwa dalam tradisi semula keperawanan itu dimaksudkan sebagai suatu simbol. Simbol itu mungkin terpengaruh oleh lingkungan, tempat tradisi itu muncul. Jemaah Kristen yang menjadi asal tradisi itu dan tradisi selanjutnya percaya bahwa Yesus sebagai Juru selamat dari Allah memang bukan hasil usaha dan karya manusia. Juru selamat itu merupakan anugerah Allah belaka. Dan itu terungkap dengan berkata bahwa Yesus sebagai Juru selamat, anak Allah, dikandung berkat pengaruh Roh Kudus, ialah daya cipta Allah sendiri tanpa adanya seorang laki-laki.
Ditunjuk kemiripan antara caranya Yesus dikandung dan caranya tokoh-tokoh besar dalam Perjanjian Lama: Ishak (Kej 18:1 dst.), Samuel (1Sam 1:1 dst.), Simson (Hak 13:2 dst.) dan juga Yohanes Pembaptis (Luk 1:7.18.25) dikandung. Mereka juga hasil karya Allah, sebab selalu dikatakan bahwa ibu mereka mandul (dan terlalu tua). Lalu (malaikat) Allah dipentaskan yang berjanji bahwa kendati halnya secara manusiawi mustahil, ibu itu akan melahirkan anak. Motif itu jelaslah hanya suatu sarana kesusasteraan saja. Maksudnya: menggarisbawahi bahwa tokoh-tokoh besar itu suatu anugerah Allah bagi umatNya.

82. Kadang-kadang juga ditunjuk kemiripan antara ceritera Injil-injil, tegasnya motif yang dipakai ceritera itu, dengan mitologi kafir. Menurut mitologi itu tokoh-tokoh besar dilahirkan oleh ibu mereka setelah dibuahi oleh seorang dewa, ada kalanya dengan cara yang aneh juga. Tetapi umumnya kemiripan itu ditolak, sebab terlalu besar perbedaan antara ceritera Injil dalam mitologi kafir. Perjanjian Lama dan tradisi Yahudi tentang kelahiran ajaib cukup menjelaskan ceritera Mat dan Luk.

83. Bagaimana menilai pendekatan “baru” (yang sebenarnya tidak terlalu baru, sebab pada abad II sudah dikenal Justinus)? Mesti disetujui bahwa “keperawanan” (caranya Yesus dikandung) mempunyai arti simbolik. Pertama-tama mau dikatakan sesuatu tentang Yesus Kristus, yang diimani umat Kristen. Yesus, Juru selamat tentu saja bukan hasil kerja dan usaha manusia, melainkan karunia Allah semata-mata. Dengan Yesus masuklah ke dalam dunia dan ke dalam sejarah umat manusia suatu unsur yang bukan hasil dunia atau sejarah. Dengan bagusnya pikiran itu terungkap dalam caranya Mat 1:1-17 menyajikan silsilah Yesus. Rangkaian orang, keturunan Abraham dan Daud, terputus dengan tampilnya Yesus. Di satu pihak Yesus termasuk rangkaian itu –berkat Maria, ibuNya -, di lain pihak Iah toh bukan hasil rangkaian itu oleh karena tidak diperanakkan Yusuf bin Yakub. Dan dengan indahnya hal itu terungkap dalam caranya Yesus secara luar biasa (dari Roh Kudus) dikandung.

84. Juga dapat diterima bahwa diri Yesus, kedudukan dan perantaraanNya, tidak kurang seandainya Ia dikandung secara wajar, alamiah. Keperawanan Maria bukan prasyarat atau dasar, supaya Yesus Anak Allah dan Juru selamat. Seluruh Perjanjian Baru mengakuiNya demikian, padahal tidak tahu keperawanan ibuNya. Keperawanan itu pun tidak perlu, agar Yesus tidak “tercemar”, seolah-olah seksualitas dan perkawinan sesuatu yang “tidak suci” dan menyalurkan “dosa” (asal), padahal Yesus tidak boleh terkena “dosa” (asal). Tendensi gnostik-asketik macam itu pasti tidak melatarbelakangi “keperawanan Maria” dalam Injil. Kalau dalam tradisi selanjutnya ada orang yang berkata bahwa Yesus, yang tanpa dosa (asal) tidak dapat dikandung melalui seksualitas biasa, supaya jangan “tercemar”, maka orang itu jelas tidak memahami Kitab Suci dan alam pikirannya.

85. Tetapi dapatkah dikandungnya Yesus oleh seorang perawan sebagai perawan direduksi menjadi simbol semata-mata tanpa realitas fisik-biologik? Tradisi Kristen sampai abad XIX selalu mempertahankan dimensi itu. Tradisi itu begitu kuat dan mantap, sehingga ajaran itu, menurut prinsip teologi Katolik, mesti dinilai sebagai termasuk ke dalam ajaran yang tidak dapat diganggu gugat dan ditinggalkan, kalaupun secara formal tidak “didefinisikan” sebagai “dogma”. “Dogma” dengan arti sempit sebenarnya suatu gejala yang relatif baru (sejak abad XVI). Teologi di kalangan Reformasi tentu saja tidak merasa diri begitu terikat pada tradisi dan kewibawaannya.

86. Tetapi teolog-teolog, termasuk teolog Reformasi, mesti bertanya: Mengapa tradisi Kristen sampai abad XIX mempertahankan ajaran itu, meskipun sadar bahwa segi fisik-biologik bukan dimensi terdalam ajaran itu? Baiklah dipikirkan bahwa sebelum zaman rasionalisme (abad XVIII) “simbol” tidak pernah menjadi simbol hampa dan kosong. Simbol tidak pernah mempunyai realitas rasional saja. Apa yang menjadi simbol selalu suatu realitas fisik nyata, yang menyimbolkan suatu realitas transenden. Kalau keperawanan dikatakan suatu simbol ciri transenden Yesus dan realitas fisik simbol itu dihilangkan, maka ciri transenden itu pun kehilangan realitasnya dan menjadi mitologi belaka. Seluruh iman Kristen dihampakan menjadi mitologi.

87. Maka, kalau Mat 1:18.25; Luk 1:34-35 dimensi fisik biologik turut dipikirkan (hal mana tidak terpungkiri), kurang masuk akal bahwa dalam tradisi sebelumnya dimensi itu hanya simbol rasional saja. Alam pikiran Yahudi tidak mengizinkan simbol rasional semata-mata. Keperawanan fisik-biologik itu menjadi simbol real, tanda kosmik pada realitas Yesus Kristus sebagai karunia Allah. Pada Yesus orang tidak dapat membedakan antara realitas fisik kemanusiaanNya dan ciri fungsionalNya sebagai Juru selamat dari Allah dan Anak Allah. Ia adalah Juru selamat dan Anak Allah, karunia Allah semata-mata bukan hasil usaha manusia, justru dalam kemanusiaanNya. Dan justru keperawanan fisik-biologik itulah yang menjadi dimensi kosmik ciri hakiki Yesus Kristus. Menyangkal dimensi simbolik-kosmik itu mengimplikasi menyangkal ciri fungsional hakiki Yesus seperti Ia diimani umat Kristen. Lepas dari kenyataannya dimensi itu tidak boleh dikatakan mutlak perlu, tetapi pada kenyataan yang ada – menurut kesaksian Alkitab – dimensi itu tidak dapat disangkal.

88. Kemiripan antara cara Yesus – menurut Mat dan Luk – dikandung dan caranya tokoh-tokoh besar Perjanjian Lama dilahirkan, tetapi tidak dapat dipakai dan kurang mendasar. Pertama kalinya dapat ditanyakan: Bagaimana penginjil (c.q. tradisi sebelumnya) mengerti ceritera-ceritera Perjanjian Lama itu? Sebagai “simbol literer” belaka – seperti dipahami eksegese modern – atau sebagai realitas historik? Seandainya ceritera tentang diperkandungnya Yesus turut diinspirasikan oleh ceritera-ceritera Perjanjian Lama – hal mana kiranya mesti diterima -, maka mereka mengerti juga keperawanan Maria secara fisik-biologik, seperti kemandulan Sara, Ribka, Hana, dan Elizabet dipahami secara realistik. Kecuali itu, kalaupun ceritera tentang dikandungnya Yesus terinspirasi oleh ceritera-ceritera kuno itu, namun justru keperawanan itu tidak datang dari situ. Antara kemandulan wanita tua yang “disembuhkan” oleh Allah, sehingga wanita itu secara wajar dan alamiah dapat mengandung dan melahirkan anak , dan dikandungnya seorang anak oleh perawan berkat Roh Kudus ada perbedaan besar. Gagasan kedua tidak dapat berasal atau dijabarkan dari yang pertama. Maka penginjil (tradisi sebelumnya) mengangkat gagasan itu dari sumber lain. Pikiran itu tidak pernah muncul dalam tradisi Yahudi. Juga Yes 7:14 (bdk. Mat 1:23) sejauh diketahui tidak pernah diartikan dengan cara demikian, kalaupun terjemahan Yunani (LXX) menterjemahkan kata Ibrani (‘alma) dengan “parthenos”. Mencari gagasan itu dalam tafsiran alegorik yang diberikan Filo dari Aleksandria atas Yes 7:14 nampaknya terlalu jauh dari tradisi Kristen dan pandangan realistik penginjil. Maka gagasan :keperawanan” itu sungguh-sungguh orisinal dalam tradisi Kristen-Injili. Tradisi yang hanya dikenal melalui Mat dan Luk itu tidak memberi dasar bagi simbolik rasional-literer belaka.

89. Janganlah – secara teologi saja – dikatakan: Jika Yesus dikandung secara luar biasa, maka Ia tidak lagi sepenuhnya manusia, seperti dipertahankan tradisi dan dogma kristologik. Seolah-olah keperawanan fisik-biologik berlawanan dengan inkarnasi. Meskipun Yesus Kristus sepenuh-penuhnya manusia, namun – menurut tradisi dan dogma yang sama – Ia bukan hanya manusia. Adakah teologi berhak mendiktekan kepada Allah bagaimana Ia dapat dan harus menjadi manusia? Jika Yesus sejak awal – menurut tradisi dan dogma yang sama – ilahi, bukankah sesuai dan wajar kalau sejak awal ciri itu pun mendapat dimensi kosmik, fisik dan biologik? Tentu saja pada dirinya dimensi itu amat ambivalen, justru oleh karena hanya tanda, sama seperti “mukjizat” Yesus – dimensi kosmik-fisik Kerajaan Allah yang terwujud pada Yesus – pada diriNya sangat ambivalen. Sebagai tanda keperawanan fisik Maria hanya dapat dipahami dalam rangka iman akan Yesus Kristus.

90. Boleh disetujui bahwa keperawanan Maria tidak diketahui karangan-karangan Perjanjian Baru kecuali Mat 1:18.25 dan Luk 1:34-35. Ayat-ayat yang kadang-kadang dipakai sebagai “bukti” bahwa keperawanan itu diketahui, sungguh-sungguh kurang meyakinkan, seperti diuraikan di muka. Di lain pihak juga tidak ada ayat yang secara tegas menyangkal apa yang diafirmasikan Mat 1:18.25; Luk 1:34-35. Gal 4:4 dan Rm 1:3 ada maksud khususnya dan tidak mempersoalkan cara Yesus termasuk ke dalam keturunan wanita dan Daud. Penginjil yang menyusun Luk 1-2 tidak melihat kontradiksi antara Luk 1:34-35 dan Luk 2:27.33.41.48. Sudah dikatakan juga bahwa kerigma apostolik tidak selengkap-lengkapnya termuat dalam tiap-tiap karangan Perjanjian Baru, tetapi hanya dalam keseluruhan.

91. Meskipun keperawanan Maria sebagai gejala fisik-biologik pada dirinya terbuka pengamatan dan penyelidikan historik, namun nyatanya secara historik tidak tercapai. Apa yang melalui metode ilmu sejarah tercapai ialah: Kelahiran Yesus ada kelainannya. Sudah dikatakan bahwa Mat 1:16.18-25 barangkali berpolemik dengan orang yang menilai Yesus sebagai anak haram, oleh karena lahir terlalu cepat setelah ibunya nikah. Maka Mat menjelaskan bagi jemaah Kristen bagaimana duduknya perkara. Sudah dikatakan bahwa apa yang tercantum dalam Mat 1-2 dan Luk 1-2 sukar dikembalikan kepada saksi-saksi mata (dalam hal keperawanan: Maria dan Yusuf). Apa yang termaktub dalam bagian Injil itu ialah ungkapan iman jemaah Kristen yang sudah agak maju. Juga cara Yesus dikandungkan itu dijabarkan dari iman kepada Yesus Kristus. Maka realitasnya bukanlah realitas historik dengan arti kata biasa (berdasarkan kesaksian saksi mata yang pantas dipercayai). Tetapi atas dasar itu realitasnya, juga fisik-biologik, tidak dapat disangkal begitu saja. Tidak hanya pengamatan /observasi menjadi jalan untuk mengetahui realitas, apa pula seluruh realitas. Sejauh mana jabaran itu mengenai realitas objektif, bergantung pada iman Kristen, yaitu seberapa jauhnya iman itu mengenai realitas objektif dan sejauh mana realitas Kristus mengimplikasikan realitas keperawanan fisik-biologik ibuNya.

92. Sudah secara umum dijelaskan dahulu bahwa jenis sastera yang dipakai Mat 1-2 dan Luk 1-2 mirip dengan “legenda” dan bercirikan apokaliptik. Itu pun berlaku untuk apa yang dikatakan tentang caranya Yesus dikandung. Dengan “legenda” macam itu jemaah Kristen c.q. penginjil mengungkapkan bagaimana tampilnya Yesus, sasaran iman kepercayaan, dipahami dan diartikan. Jadi suatu realitas historik (tampilnya Yesus) diartikan dengan cara demikian. Setiap kali mesti diselidiki seberapa jauhnya “legenda” memuat sesuatu yang real-historik. Sehubungan dengan caranya Yesus dikandung, sukar dilihat realitas historik mana diinterpretasikan oleh legenda itu, kalau tidak justru kelaina yang ada pada tampilnya Yesus itu. Ia tidak tampil sama seperti semua manusia lain, hasil pertemuan wanita dengan pria. Tidak pada tempatnya dalam rangka ini orang menunjuk kepada “parthenogenesis”, yang menurut sementara ilmuwan, memang suatu kemungkinan real. Ilmu dalam menjelaskan tampilnya Yesus tidak perlu diikutsertakan.

93. Kalaupun keperawanan mempunyai dimensi fisik-biologik dan langsung mengenai Kristus sehingga mempunyai makna kristologik, namun secara tak langsung keperawanan itu mengatakan sesuatu tentang Maria juga. Bagi Maria keperawanan itu berarti bahwa secara eksklusif ia merelakan diri bagi Allah semata-mata dan menjadi ibu seorang anak hanyalah oleh karena dikehendaki Allah, entahlah bagaumana kehendak itu diketahui Maria. Ditinjau dari segi Maria keperawanannya menjadi sesuatu yang intinya spiritual belaka. Boleh dikatakan bahwa dilihat dari sisi itu keperawanan tidak haruslah mempunyai segi fisik-biologik, kecuali sebagai kensekuensi saja.

94. Atas dasar Luk 1:35 (aku tidak mengenal – kala kini – seorang laki-laki) ada tradisi kuno (meskipun tidak kuat) yang mengatakan bahwa Maria mempunyai – dengan motivasi religius – niat, malah dikatakan “kaul”, untuk tetap perawan, meskipun sudah bertunangan. Interpretasi itu mengandaikan bahwa Luk 1-2 melapor kejadian historik atau paling tidak penginjil/tradisi memikirkan halnya demikian. Tetapi sukar sekali, malah mustahil, membuktikan bahwa Luk 1:35 dimaksudkan secara demikian. Ada juga interpretasi terbalik sebagai berikut: Maria (secara historikatau menurut pikiran penginjil/tradisi), yang sudah bertunangan (Mat 1:18; Luk 1:27; 2:5) mau nikah seperti biasa dan mendapat anak. Lalu – selagi bertunangan – ia diberi tahu bahwa menjadi ibu Mesias. Tetapi Maria teringat akan Yes (7:14), yang – menurut pengertian Maria – berkata bahwa ibu Mesias mesti perawan. Maka soal Maria ialah: Bagaimana ia, yang mau nikah, dapat menjadi ibu Mesias? Sebab kalau demikian ia tidak boleh “mengenal laki-laki”, jadi tidak boleh kawin. Lalu malaikat menjelaskan, bahwa Maria dapat tetap perawan, mendapat anak, Mesias, (berkat Roh Kudus) dan dapat nikah sesuai rencana. Tentu saja tafsir ini hanya mungkin berdasarkan beberapa praandaian, a.l. cara Maria mengerti Yes 7:14. Hanyalah praandaian itu sukar digali dari teks sendiri.

95. Berdasarkan teks sendiri hanya dapat dikatakan: Maria sebagai perawan mengandung Yesus karena diminta Allah (Malaikat), jadi sebelum nikah dan berkumpul dengan suaminya. Itu juga disarankan Mat 1:18-25. Nas ini menggambarkan Yusuf gelisah oleh karena calon istrinya hamil sebelum nikah secara resmi. Maka keperawanan merupakan akibat dipilihnya Maria menjadi ibu Yesus Kristus.

96. Menurut gambaran Injil (Luk) Maria sepenuh-penuhnya merelakan diri bagi maksud Allah. Meskipun belum nikah ia menyetujui (Luk 1:38) maksud Allah dan sebulat-bulatnya menjadi “hamba Allah” (seperti para nabi dahulu). Kerelaan itulah yang merupakan dimensi spiritual keperawanan ditinjau dari sisi Maria. Ia merelakan dirinya dan seluruh hidupnya untuk melayani “rencana” Allah. Mengingat bahwa anak Maria, Yesus, menjadi Juru selamat umat manusia, maka secara termasuk ibuNya merelakan diri bagi penyelamatan dunia, berarti: Kerajaan Allah. Maka perawan (spiritual/fisik) demi Kerajaan Allah (bdk. Mat 19:12). Oleh karena Allah melalui anak Maria mau menyelamatkan dunia dan mewujudkan KerajaanNya, maka Maria sebagai hamba Allah dengan rela menjadi ibu-perawan, yang mengandung Juru selamat itu.

97. Dengan demikian keperawanan spiritual (dan fisik) Maria merupakan akibat dari kedudukan dan peranannya dalam rencana dan pelaksanaan penyelamatan Allah. Atas dasar pilihan Allah – sebab menurut gambaran Injil Maria mau nikah – ia merelakan diri sepenuhnya untuk menjadi peserta dalam tata penyelamatan, sebagaimana nyata terwujud. Dengan arti sedemikian Maria boleh disebutkan “partner”, teman sekerja Allah sendiri. Tentu saja bukan “teman kerja” atau “partner” yang setingkat. Pada Allahlah ada prakarsa bagi segala sesuatu dan Allahlah yang melaksanakan penyelamatan dengan Yesus Kristus dan Allahlah yang memilih Maria menjadi ibu Yesus. Tetapi Maria merelakan diri untuk peranannya sebaagai ibu Mesias. Dalam peranan itu ia menjadi perawan, supaya Allah sendiri dan senderian dari Maria menciptakan Juru selamat. Maria tidak dipilih untuk diikutsertakan dalam penyelamatan sebagai ibu Juru selamat oleh karena ia perawan. Sebaliknya Maria menjadi perawan oleh karena dipilih untuk berperan sebagai ibu Juru selamat dalam penyelamatan dari Allah. Sebagai penerima saja Maria mendharmabaktikan diri. Dan justru segi “penerima” itulah yang terungkap dalam keperawannya (spiritual/fisik).

98. Baiklah kembali diingat bahwa demikianlah gambaran yang disajikan Injil (Luk). Tidak ada gunanya berspekulasi bagaimana secara konkret dan psikologik halnya terjadi. Tentang itu kita tidak dapat tahu apa-apa, kecuali bahwa Maria merelakan diri menjadi ibu anaknya waktu masih perawan. Itu pun tidak berdasarkan pengamatan, tetapi dijabarkan dari iman Kristen, tegasnya dari iman yang mengenal relasi antara Allah (Pencipta dan Penyelamat) dan manusia. Allah itu tidak memperlakukan manusia yang Ia selamatkan, sebagai barang mati, melainkan sebagai mahluk yang bebas. Manusia itulah yang diikutsertakan dalam karya penyelamatan. Yang secara unggul dan malah tunggal diikutsertakan ialah ibu Yesus, yang sebagai ibu mempunyai relasi tunggal dengan anaknya, Juru selamat dunia, Juru selamat ilahi. Sebulat-bulatnya dan secara eksklusif Maria merelakan diri. Sikap dinamik itulah keperawanan spiritual Maria. Dimensi fisik//biologik terlebih berkaitan dengan Kristologi, tetapi dari segi Mariologi juga dimensi itu berperan sebagai tanda keperawanan spiritual.
C. PERAWAN YANG MELAHIRKAN

99. Kitab Suci (Mat 1; Luk 1) memberi kesaksian tentang keyakinan Kristen bahwa Yesus dikandung oleh ibuNya sebagai perawan. Tetapi sejak abad II muncul kepercayaan bahwa Yesus juga dilahirkan oleh Maria sebagai perawan. Secara konkret itu berarti, bahwa Yesus tidak hanya dikandung secara luar biasa, tetapi juga dilahirkan secara luar biasa. Keyakinan itu barangkali sudah terungkap oleh Ignasius, uskup Antiokhia (± tahun 110) dan Ireneus (± tahun 200), meskipun keterangan mereka tidak jelas. Dalam karangan-karangan apokrif (Pra-InjilYakobus, Pengangkatan Yesaya ke Surga, Odae Salomonis) pandangan itu juga tampil. Dalam karangan itu halnya dipahami (dan dibuktikan) secara fisik, artinya: selaput dara Maria tidak rusak oleh kelahiran Yesus. Sebaliknya tokoh-tokoh seperti Tertulianus (± tahun 223), Origenes (± tahun 254) dan Hieronimus (± tahun 419) tidak menerima bahwa Yesus dilahirkan secara ajaib. Namun sejak abad V (Augustinus, Ambrosius) kepercayaan bahwa Yesus dilahirkan secara luar biasa, juga secara fisik, menjadi umum (bdk. DS 299.368.442.571.1888). Waktu Jovinianus (abad V) melancarkan pendapat bahwa keperawanan fisik hilang waktu Maria melahirkan Yesus, ia ditolak.

100. Namun ajaran mengenai “virginitas in partu”, yang khusus mengenai Maria itu, dalam tradisi hanya menjadi “umum”, tanpa penjelasan juga ada dimensi fisik-jasmani. Hanya dikatakan bahwa Maria tidak melahirkan Yesus dengan cara yang sama dengan ibu-ibu lain. Tidak dikatakan di mana persis terletak kelainan itu.

101. Ada orang, khususnya di kalangan Reformasi (meskipun para Reformator menerima tradisi tersebut), yang mengatakan bahwa tradisi mengenai “virginitas in partu” itu berlawanan dengan penegasa Kitab Suci. Khusunya ditunjuk Gal 4:4. Ayat itu – menurut mereka – justru berkata, bahkan menekankan, bahwa Yesus “lahir dari perempuan” seperti manusia lain; Yesus sungguh-sungguh menjadi senasib. Apalagi kalau Gal 4:4 berpikir kepada “wanita” yang tampil dalam Kej 3:16. Wanita itu menjadi terkutuk justru dalam melahirkan anak dengan sakit bersalin. Mesti diakui bahwa argumen itu cukup mengena dan meyakinkan.

102. Berhadapan dengan argumen tersebut ada orang yang menunjuk kepada Luk 2:7. Menurut ayat ini Maria sendiri membedung anaknya dengan lampin dan membaringkannya dalam palungan. Jadi penginjil memikirkan halnya sedemikian rupa, sehingga Maria tidak seperti ibu lain terkena sakit beranak waktu melahirkan Yesus. Ibu yang baru melahirkan tidak dapat sendiri mengurus anaknya. Tetapi tidak amat jelas kalau-kalau penginjil berpikir sejauh itu. Ia pasti tidak memberi laporan tentang peristiwa itu. Maka Luk 2:7 tidak dapat dipakai untuk membatalkan Gal 4:4.

103. Tetapi Gal 4:4 pasti juga tidak memberikan “laporan” dan tidak merepotkan diri dengan soal bagaimana ibu Yesus melahirkan anaknya. Paulus hanya secara kristologik mau menonjolkan bahwa Anak Allah menjadi senasib dengan manusia, keturunan wanita. Tentu saja juga jelas bahwa Paulus tidak tahu apa-apa tentang kelahiran Yesus secara luar biasa, apalagi secara fisik.

104. Maka mesti diakui saja bahwa maksud tradisi tersebut tentang “keperawanan dalam melahirkan” tidak jelas. Mungkin keperawanan itu dalam hal ini hanya keperawanan spiritual saja. Maria sebulat-bulatnya merelakan diri untuk melahirkan Yesus, tanpa resistensi apa saja. Tradisi mengenai “virginitas in partu” barangkali dapat dihubungkan dengan tradisi dan ajaran bahwa Maria bebas dari dosa dan juga bebas dari apa yang diistilahkan sebagai “Concupiscentia”, ialah suatu dualisme yang ada pada manusia yang menghalanginya dalam mewujudkan seluruh kehendaknya. Pada Maria waktu melahirkan Yesus tidak ada resistensi dan keseganan sedikit pun. Kurang meyakinkan argumen yang berjalan sebagai berikut: Maria bebas dari dosa asal, jadi juga bebas dari kutuk yang a.l. menyatakan diri dalam sakit beranak. Maka juga secara fisik Maria tidak mengalami kutukan itu. Sebab nyatanya Maria, meskipun bebas dari dosa asal, tidak bebas dari kutuk yang berupa kematian. Bagaimana “kematian” itu dapat dimengerti aka dibahas pada waktunya.

105. Jadi boleh diterima bahwa keperawanan Maria “in partu”, dalam melahirkan Yesus, berarti: Sikap hati yang dengannya Maria mengandung Yesus tidak pernah dibatalkan, meskipun tidak selalu gampang terlaksana misalnya waktu bersalin. Luk 2:1-7 menggambarkan bahwa Maria bersalin dalam situasi kurang menguntungkan. Sejak abad IV (Epiphanius) ada gelar “Maria tetap perawan”. Gelar itu dirincikan menjadi: perawan sebelum,waktu dan sesudah melahirkan (bdk. DS 44.46.291.299.422.442.533.571.1880). Juga konsili Vatikan II (LG N.49; bdk. DS 503) menegaskan bahwa “kelahiran Yesus tidak merusak tetapi menguduskan keperawanan Maria”. Hanya maksud rumus itu tidak dijelaskan. Kata “perawan/keperawanan” dalam tradisi tidak selalu sama artinya. Kadang-kadang apa yang dimaksudkan (atau turut dimaksudkan) ialah keperawanan fisik. Tetapi lainkali terlebih sikap hati, penyerahan eksklusif dan total yang dimaksudkan. Maka “keperawanan dalam melahirkan” dapat dimengerti: Sebulat-bulatnya Maria secara pribadi merelakan diri untuk melahirkan Yesus dan menjadi ibunya.

D. YESUS ANAK TUNGGAL MARIA

1. Saudara-saudari Yesus

106. Meskipun menurut Mat 1; Luk 1 Maria mengandung Yesus sebelum nikahnya diresmikan, namun tradisi Kristen (Mat 1:25; 13:55; bdk. Luk 4:22; Yoh 1:45; 6:4?) yakin bahwa kemudian nikah Maria diresmikan juga. Luk 2:5 memang berkata tentang “bertunangan”, tetapi teksnya tidak seluruhnya pasti (ada naskah yang berkata: istri ganti tunangan), tetapi Luk kiranya hanya mau mengatakan apa yang oleh Mat 1:25 ditegaskan. Berulang kali dalam Perjanjian Baru disebutkan “saudara-saudara Yesus” (Yoh 2:12; Mrk 3:31-35; Mat 12:46-50; Luk 8:19-21; Kis 1:14; Gal 1:19; 1Kor 9:5). Empat saudara Yesus disebutkan namanya: Yakobus, Yoses/Yosef, Yudas dan Simon (Mrk 6:3; Mat 13:55) dan menurut Mrk 6:3; Mat 13:56 dan juga sejumlah saudari. Dalam Perjanjian Baru saudari-saudari itu tidak disebutkan namanya, tetapi dalam tradisi di kemudian hari mereka pun diberi nama, misalnya: Maria dan Salome, atau: Hana dan Salome, dan lagi: Maria, Hana, Salome, atau: Ester dan Marta serta Thamar dan Sobe, Marta dan Maria atau: Lisia dan Lidia. Jadi nampaknya Maria dan Yusuf selanjutnya berkeluarga di Nazaret.
Kalau semuanya itu dibaca tanpa prasangka orang berkesan bahwa Yesus mempunyai beberapa adik laki-laki dan perempuan dan Maria masih memperoleh beberapa anak setelah nikah dengan Yusuf.

2.Tetap perawan


107. Tetapi kesan pertama itu terbentur pada tradisi, yang sejak abad IV umum menyebut Maria “tetap perawan”. Secara tegas ditolak pendapat bahwa Maria masih mendapat beberapa anak di samping Yesus sebagai anak sulung. Waktu Helvidius (abad IV) dan juga uskup Bonosus dari Naissus mengemukakan pendapat bahwa saudara-saudari Yesus yang disebutkan dalam Perjanjian Baru memang anak-anak Maria dan Yusuf, ia mendapat perlawanan kuat, khususnya dari pihak Hieronimus (± tahun 419). Semenjak itu tradisi itu tidak lagi mendapat perlawanan sampai abad XIX. Para Reformator (Luther, Kalvin, Zwingli) dan teolog-teolog Reformasi semula hanya meneruskan tradisi kuno itu.

108. Sejak abad XIX, terutama terpengaruh oleh Th. Zahn (± tahun 1900) di kalangan umat Reformasi hampir saja menjadi pendapat umum bahwa saudara-saudari Yesus yang tampil dalam Perjanjian Baru semua adik sekandung Yesus. Di kalangan Katolik tradisi kuno itu dapat mempertahankan diri sampai pertengahan abad XX. Sejak itu ada beberapa teolog/ahli Kitab yang condong mendukung pendapat yang menjadi umum di kalangan umat Reformasi. Gereja Timur Ortodoks tetap mempertahankan tradisi kuno tersebut.

109. Hanya tradisi itu harus dapat menampung Perjanjian Baru yang menampilkan “saudara-saudari Yesus”. Kalau mereka bukan anak Maria, bagaimana relasi mereka dengan Yesus? Dalam hal itu ada dua jalan yang ditempuh. Dalam pertengahan abad II (Pra-Injil Yakobus dan lain-lain karangan apokrip) saudara-saudari Yesus itu diartikan sebagai saudara-saudari seayah. Mereka dilihat sebagai anak-anak Yusuf dari perkawinan sebelum nikah dengan Maria. Pendapat itu tersebar luas dalam Gereja Yunani dan sampai dengan hari ini ada ahli Kitab/teolog yang yakin bahwa keterangan itu paling memuaskan dan cukup meyakinkan. Pendapat lain – yang diperkembangkan Hieronimus melawan Helvidius – mengatakan bahwa saudara-saudari Yesus ialah keponakan-keponakanNya, anak-anak saudari (ipar) ibu Yesus, istri Klopas yang tampil dalam Yoh 19:25, dan anak-anak seorang Maria (dan suaminya) yang disebutkan Mrk 15:40.47 dan yang, entah bagaimana, berkerabat dengan ibu Yesus. Pendapat itu menjadi hampir saja umum dalam Gereja Katolik, kawasan Barat.

110. Tetapi mesti dipertanyakan dari mana tradisi tersebut? Amat sukar langsung mendasrkan tradisi itu pada Perjanjian Baru, seperti tersedia. Tidak jarang dikatkan bahwa tradisi tersebut merupakan hasil tendensi gnostik dan asketik di kalangan umat Kristen. Perkawinan, ialah persetubuhan, dan seluruh seksualitas dinilai jahat dan dosa. Penghayatan perkawinan, dalam pendekatan gnostik-asketik itu, “mencemarkan” kesucian Maria. Maka mustahillah Maria mendapat anak di samping Yesus yang dikandungnya sebagai perawan. Jadi tradisi itu mempunyai dasar palsu. Dan itulah a.l. pertimbangan mengapa sementara pemikir Katolik berpendapat tradisi itu mesti ditolak sebagai tradisi gadungan.
Sebaiknya, begitu kata mereka, dengan mendasarkan diri pada Perjanjian Baru orang menganggap “saudara-saudari Yesus” sebagai anak-anak Maria dan Yusuf. Janganlah perkawinan Yusuf dan Maria dibuat menjadi perkawinan yang pura-pura saja. Tanpa seksualitas yang dihayati perkawinan bukan perkawinan lagi. Seluruh tradisi mengenai keperawanan tetap Maria sebenarnya menghina perkawinan dan seksualitas. Dan sikap macam itu tidak cocok dengan pendekatan modern (dan Alkitab) terhadap seksualitas dan perkawinan.

111. Boleh diterima bahwa pandangan negatif terhadap perkawinan pada umat Kristen dahulu turut berperan untuk membuat ajaran tentang keperawanan tetap Maria itu menjadi populer dan amat menarik bagi para asket dan para perawan pada umat Kristen. Namun suatu keterlaluan, yang kurang berdasar, kalau tendensi gnostik-asketik dibuat menjadi pencipta tradisi itu. Seorang asket seperti Hieronimus (RJ 1361) misalnya mati-matian membela keperawanan tetap Maria. Namun secara tegas ia berkata bahwa dengan itu tidak menghina perkawinan. Sebab keperawanan berasal dari perkawinan. Negativisme terhadap seksualitas dan perkawinan sebenarnya tidak begitu umum seperti kerap dikatakan. Dapat dikumpulkan banyak keterangan bernada positif yang malah berasal dari kalangan para asket (rahib).

112. Kalau demikian duduknya perkara tetap tinggal soal: Dari mana tradisi mengenai keperawanan tetap Maria? Bukankah tradisi itu berlawanan dengan apa yang dikatakan Perjanjian Baru?

113. Terlebih dahulu perlu diselidiki masalah kalau-kalau tradisi itu benar-benar berlawanan dengan Perjanjian Baru. Kalau Yesus dikatakan “anak sulung” (Luk 2:7), maka keterangan itu tidak perlu mengimplikasikan bahwa masih ada anak lain. Juga anak tunggal dapat disebut “anak sulung”. Gelar itu hanya menunjuk kepada kedudukan istimewa, yang, menurut hukum, dimiliki anak pertama, entahlah masih ada anak lain atau tidak (Kel 13:2; Bil 3:12; Yer 31:9; Kel 4:22). Gelar itu hampir saja searti dengan “anak yang terkasih” (Za 12:10; Yer 31:20). Jadi kalau Yesus disebut “anak sulung” orang belum tahu juga kalau-kalau Ia anak tunggal atau anak pertama dalam suatu rangkaian. Demikian pun Mat 1:25 tidak memberi pegangan. Dikatakan bahwa Yusuf tidak “mengenal” (bersetubuh dengan) Maria sampai Maria melahirkan seorang anak. Dari situ tidak dapat disimpulkan bahwa kemudian Yusuf bersetubuh dengan Maria. Mat hanya mau menekankan bahwa Maria tetap perawan sampai melahirkan Yesus. Bagaimana selanjutnya sama sekali di luar perhatian penginjil. Tidak dikatakan apa-apa mengenai hubungan Yusuf dan Maria setelah Yesus lahir.

114. Selanjutnya boleh diperhatikan bahwa dalam Perjanjian Baru “saudara-saudari Yesus” tidak pernah dikatakan anak-anak Maria. Maria selalu tampil bersama dengan “saudara-saudara Yesus” dan tidak pernah bersama dengan anak-anaknya. Padahal menurut Mrk (3:21) 3:31-55 (bdk. Yoh 7:5) jelas ada ketegangan antara Yesus di satu pihak dan ibu serta saudara-saudara Yesus di lain pihak, sehingga ibu Yesus lebih-lebih di pihak saudara-saudara Yesus daripada di pihak Yesus. Mengapa mereka tidak dikatakan “anak-anak Maria, anak-anak ibu Yesus”?

115. Tentu saja kata saudara/saudari dalam bahasa Yunani (adelphos, adelphé) biasanya berarti: saudara sekandung atau saudara seayah, seibu. Dalam bahasa Ibrani kata itu (‘ah,’aha) dapat mempunyai arti lebih luas dan menunjuk kepada sanak saudara lain (a.l. keponakan) (bdk. Kej 13:8; 14:14.16; 24:48; 29:12.15; 31:23; Im 10:4 dll.). terjemahan Yunani (LXX) biasanya menterjemahkan secara harafiah dengan kata Yunani: adelphos/adelphé, meskipun dalam bahasa Yunani tersedia kata-kata lain (yang tidak ada dalam bahasa Ibrani) untuk menunjuk hubungan kekeluargaan secara terperinci, misalnya: “anepsios” (keponakan). Tidak mustahil, kalaupun sukar dibuktikan, bahwa bahasa Yunani Perjanjian Baru dalam hal ini mengikuti kebiasaan Perjanjian Lama (Septuaginta).
Kecuali itu malah dalam bahasa Yunani kata “adelphos/adelphé” dapat dipakai dengan arti lebih luas. Hal itu dapat terjadi misalnya untuk meningkatkan kedudukan orang dengan meningkatkan relasi kekeluargaannya dengan seorang tokoh penting (raja, kaisar). Maka mungkinlah pada umat Kristen berkembang kebiasaan menyebut sanak-saudara Yesus sebagai “saudara-saudaraNya” untuk menghormati sanak-saudara itu, yang memegang peranan cukup penting pada umat perdana (bdk. 1Kor 9:5; Kis 1:14). Bahwasannya demikian duduknya perkara secara tuntas tidak dapat dibuktikan atas dasar teks Perjanjian baru. Teks itu tetap ambivalen dan dwiarti.

116. Maka Perjanjian Baru tidak usah bertentangan dengan tradisi tentang keperawanan tetap Maria yang mulai tampil pada umat Kristen sejak abad II. Duduknya perkara dapat dipikirkan sebagai berikut. Selama sanak-saudara Yesus masih hidup tidak ada soal. Umat Kristen (yang berkenalan dengan mereka) tahu bahwa julukan “saudara Tuhan”, hanya gelar kehormatan bagi sanak-saudara Yesus itu. Umum diketahui bahwa Maria tidak mempunyai anak selain Yesus. Tetapi setelah generasi pertama hilang (abad II) gelar kehormatan dapat membingungkan, sebab kata “saudara” dapat dipahami sesuai dengan arti kata Yunani yang biasa. Tetapi ingatan akan tradisi dahulu mencegah orang dari pemahaman itu. Seorang penulis abad II, yang termasuk generasi yang menyusul angkatan awal, yaitu Hegesippus (dikutip Eusebius dalam Sejarah Gerejanya), menyebut uskup (kedua) Yerusalem Simeon (= Simon, Mrk. 6:3) saudara Tuhan sebagai pengganti uskup pertama (yaitu Yakobus, saudara Tuhan) sebagai “keponakan Tuhan yang kedua” yang menjadi uskup di Yerusalem. Maka juga Yakobus, saudara Tuhan, menurut Hegesippus, seorang keponakan Yesus, anak pamanNya (dari sisi Yusuf?). Keterangan Hegesippus itu sedikit diperdebatkan para ahli, sehingga tidak menjadi bukti tuntas bahwa saudara-saudara Yesus itu bukan anak-anak Maria.

117. Dengan kurang tepat ada orang yang menemukan dalam Perjanjian Baru dasar untuk tradisi tentang keperawanan tetap Maria. Mereka menunjuk kepada Yoh 19:27. Menurut ayat ini Yesus mempercayakan ibuNya kepada “Murid yang dikasihiNya”. Ini – demikian argumentasinya – tidak masuk akal, kalau pada Maria ada anak-anak lain. Tetapi – seperti nanti akan dibahas – Yoh 19:25-27 terlalu simbolik cirinya dan masalah kalau-kalau masih ada anak-anak Maria sama sekali di luar perhatian penginjil. Demikian pun Luk 2:41-51 tidak dapat dimanfaatkan. Ada orang yang berpikir sebagai berikut. Mustahil Maria ikut berziarah ke Yerusalem bersama dengan Yusuf dan Yesus (yang berumur 12 tahun), kalau di rumah masih ada anak-anak kecil. Tetapi Luk 2:41-51 bukan suatu laporan dan tidak merepotkan diri dengan masalah adanya atau tidak adanya anak-anak Maria yang lain.

118. Tetapi ada suatu pertimbangan, bukan historik tetapi telebih teologik, yang mendukung umat Kristen untuk mempertahankan keperawanan tetap ibu Yesus. Setelah Maria sepenuh-penuhnya merelakan diri untuk menjadi hamba Tuhan dan ibu Yesus (keperawanan spiritual), boleh dianggap wajar dan pantas Maria tidak lagi merelakan diri untuk seorang yang lain. Seandainya Maria masih mendapat anak-anak lain, ia wajib merelakan diri sebagai ibu bagi anak-anak itu juga. Mendapat anak-anak lain tentu saja bersama dengan Yesus tidak berlawanan dengan kesucian Maria, seolah-olah tercemar olehnya. Tetapi mendapat anak-anak lain kurang sesuai dan cocok dengan “keperawanan spiritual” pada awal. Penyerahan total kepada Allah dan Yesus sukar disertai penyerahan kepada anak-anak lain. Jadi keperawanan tetap Maria dilihat sebagai konsekuensi dari keperawanan awal. Dan keperawanan tetap itu pun mempunyai dimensi fisik-biologik.

119. Janganlah dikatakan: Kalau demikian, maka perkawinan Maria dengan Yusuf suatu perkawinan pincang, perkawinan gadungan. Keberatan macam itu berasal dari pandangan yang l.k. mereduksikan perkawinan pada segi fisik-biologiknya, bahkan genitalnya. Cinta suami-istri tentu saja dapat diekspresikan melalui persetubuhan. Tetapi itu bukan satu-satunya jalan atau malah jalan utama. Pendapat bahwa perkawinan tanpa unsur genital kurang sempurna berlatar belakang suatu pandangan sempit yang terlalu terikat pada mentalitas zaman tertentu, zaman “revolusi sex”.

120. Dengan jujur mesti diakui bahwa keperawanan tetap Maria tidak dapat didasarkan pada Kitab Suci melulu. Maka teologi Reformasi yang secara eksklusif mau mendasarkan diri kepada Alkitab tidak dapat memecahkan soal keperawanan tetap Maria. Sebab juga tidak dapat secara tuntas dibuktikan bahwa “saudara-saudara Yesus” yang tampil dalam Perjanjian Baru benar-benar anak Maria dan Yusuf. Berdasarkan Kitab Suci melulu masalahnya tetap terbuka dan dua pengertian mungkin.

121. Teologi Katolik juga memandang Alkitab sebagai tolok ukur iman yang tertinggi. Tetapi Kitab Suci bukan satu-satunya tolok ukur. Pada tingkat kedua tradisi mantap dan l.k. umum menolong untuk mengartikan Kitab Suci ke arah tertentu, kapan saja ada dua (atau lebih) pengartian mungkin. Maka keperawanan tetap Maria melalui tradisi berpangkal pada Kitab Suci, bukan pada salah satu ayat atau nas, tetapi pada keseluruhan pandangan Alkitab tentang ibu Yesus. Maria menjadi ibu sebagai perawan. Pantaslah keperawanan (personal) awal itu seutuhnya diteruskan seumur hidup, juga dalam perkawinan utuh-sempurna dengan Yusuf. Tentu saja ajaran tentang keperawanan tetap Maria itu bukan suatu “dogma” yang didefinisikan, bukan pula suatu ajaran iman yang sama bobotnya dengan ajaran mengenai dikandunganya Yesus oleh perawan Maria, yang jelas terungkap dalam Kitab Suci. Tetapi ajaran tentang keperawanan tetap itu tidak berlawanan dengan Kitab Suci dan didukung suatu tradisi yang begitu kuat, sehingga tanpa bukti yang meyakinkan tidak dapat ditinggalkan oleh seorang teolog yang mengakui tradisi sebagai suatu prinsip teologi.

122. Relevansi teologik ajaran tentang keperawanan tetap itu terletak dalam hal ini: Karya penyelamatan Allah dapat mencetuskan dari pihak manusia suatu tanggapan dan penyertaan aktif yang bulat menyeluruh, sehingga orang yang bersangkutan tidak sempat melibatkan diri dalam suatu tugas yang tidak secara langsung bersangkutan dengan karya itu. Maria dinilai sebagai seorang yang sepenuh-penuhnya “Kristen”, yang merealisasikan segala kemungkinan yang terkandung dalam iman Kristen, termasuk keperawanan tetap yang dianjurkan dan dipraktekkan Yesus dan Paulus (bdk. 1Kor 7:7-8.26.32.34.40), sebagai suatu kemungkinan. Selayaknya itu terwujud pada diri dan kehidupan ibu Yesus, akibat relasi keibuan yang memang unik. Dalam rangka perkawinan Maria tetap perawan secara spiritual dan fisik.

-----
Sebelumnya : {BAB I : MARIA, IBU YESUS}
Selanjutnya : {BAB III : IBU YANG SUCI}

[Selengkapnya]

Rabu, 03 Februari 2010

Mariologi - Teologi Marial - 1

MARIA, IBU YESUS

23. Kalau Mariologi mau menjadi teologi sejati, pemikiran terarah dan teratur mengenai apa yang diimani umat Kristen, maka mesti bertitik tolak kesaksian umat semula, seperti yang termaktub dalam Perjanjian Baru. Jika teologi itu tidak mau menjadi mitologi, ia mesti, bersama dengan iman umat perdana, berurat akar dalam sejarah. Maka bab pertama Mariologi ini mulai dengan Perjanjian Baru dan dasar historiknya.

A. IBU YESUS DALAM SEJARAH


24. Kalau disisihkan sebentar Mat 1-2 dan Luk 1-2, maka nama Maria, ibu Yesus, hanya tiga kali disebutkan dalam Perjanjian Baru, yaitu: Mat 13:55; Mrk 6:3 dan Kis 1:4. Tanpa disebutkan namanya ibu Yesus tampil dalam Mat 12:46; Mrk 3:31; Luk 8:19. Yoh tidak pernah menyebut nama ibu Yesus, tetapi menampilkannya sampai dua kali (Yoh 2:1-3.5; 19:25.26) dan sekali menyebutkannya (Yoh 6:42).

25. Atas dasar ayat yang serba sedikit itu mesti diakui bahwa informasi historik yang ada tentang Maria, ibu Yesus, serba terbatas. Secara historik hanya diketahui atas dasar ayat-ayat itu bahwa Yesus mempunyai ibu yang bernama Maria. Nama itu amat lazim di kalangan Yahudi. Dalam Perjanjian Baru sajalah banyak wanita yang bernama Maria. Ada Maria Magdalena (Mat 27:56; 28:1; Mrk 15:40.47; 16:1; Luk 8:2; 24:10; Yoh 19:25; 20:1.11.16.18), Maria Ibu Yakobus (Mat 27:56.61; Mrk 15:40.47; 16:1; Luk 24:10), Maria istri/saudara Klopas (Yoh 19:25), Maria saudari Marta (Luk 10:39-42; Yoh 11:1 dst.; 12:3), Maria ibu Markus (Kis 12:12) dan seorang wanita Kristen (Rm 16:6).Yesus dapat dikatakan “bin Maria” (Mrk 6:3), tetapi lebih sering tampil sebagai “bin Yusuf” (Luk 3:23; 4:22; Yoh 1:45; 6:42). Juga Paulus (Gal 4:4) menerima bahwaYesus mempuyai ibu.

26. Maka tentang hal ihwal Maria dengan mendasarkan diri pada Perjanjian Baru (kecuali Mat 1-2; Luk 1-2) kita tidak tahu apa-apa, kecuali yang dikatakan dalam Mrk 3:31. Mengingat corak Injil Yoh, maka apa yang diceritakan tentang ibu Yesus (Yoh 2:1 dst., 19:25 dst.) tidak dapat dipastikan sebagai informasi historik. Rupanya Maria tidak berperan dalam kehidupan Yesus setelah dewasa dan tampil ke depan umum. Mengingat Mrk 3:21.31-35 nampaknya Yesus memutuskan hubunganNya dengan familiNya, termasuk ibuNya. Atas dasar Kis 1:14 dapat disimpulkan bahwa Maria menjadi anggota jemaah perdana di Yerusalem bersama dengan sanak saudara Yesus yang lain. Selanjutnya Maria tidak berperan sama sekali dalam Kis. Kalau namanya disebut dalam Kis1:14 boleh diduga bahwa penulis Kis mendapat informasi itu dari tradisi sebelumnya, sehingga Maria sebagai anggota jemaah perdana bukan ciptaan penulis saja. Tetapi bagaimanapun juga rupanya ibu Yesus pada jemaah perdana tidak memegang peranan khusus, seperti misalnya Yakobus, saudara Tuhan (Gal 1:19; 2:9.12; 1Kor 15:7; Kis 12:17; 15:13; 21:18) dan sanak saudara Yesus yang lain (1Kor 9:5; Yoh 7:5; 20:17?).

27. Dengan jalan samping informasi serba sedikit itu dapat ditambah. Ibu Yesus seorang wanita Yahudi. Seluruh Perjanjian Baru memang yakin bahwa Yesus seorang asli Yahudi, sehingga ibuNya pun asli Yahudi. Yesus dianggap “orang Nazaret” (Mrk 10:47; 14:67; Luk 18:37; 24:19; Yoh 18:5; 19:19; Kis 10:38; 26:9). Nazareth dapat diidentifikasikan dengan sebuah desa/kota di daerah Galilea. Nazareth menjadi tempat tinggal Maria, entahlah berasal dari mana. Tempat tinggalnya itu cukup terpencil, bukan kota. Maria nikah dengan seorang yang bernama Yusuf (Yesus memang disebut “bin Yusuf”). Oleh karena Yusuf tidak tampil sama sekali dalam kisah Injil dan Maria selalu ditampilkan bersama “sanak saudara” Yesus, maka boleh disimpulkan bahwa Maria manjanda waktu Yesus dewasa. Yusuf disebutkan sebagai “keturunan Daud” (bdk. Mat 1:20; Luk 1:27) dan Yesus dianggap keturunan Daud (bdk. Mrk 12:35.37 dsj.; Yoh 3:23-38). Tetapi boleh jadi Yesus hanya secara teologik / mesianik “keturunan Daud”, sehingga tidak pasti juga Yusuf benar-benar keturunan Daud. Tidak ada informasi pasti mengenai genealogi Maria. Luk 3:23-38 tidak boleh dinilai demikian.

28. Pada Maria ada sanak saudara. Yoh 19:25 menyebut seorang “saudari ibu Yesus”, entahlah bagaimana hubungan Maria dengan wanita itu. Berulang kali Maria dalam kisah Injil (dan Kis 1:14) tampil bersama dengan sekelompok “saudara Yesus” (Mat 12:46 dsj.; Yoh 2:12). Mrk 6:3 dsj. memperkenalkan nama Yoses / Yosef, Simon dan Yakobus. Disebut juga beberapa “saudari” yang namanya tidak diberikan. Nanti dibahas lebih lanjut bagaimana relasi Yesus dengan “saudara/saudari” itu. Tetapi bagaimanapun juga pada Maria ada sejumlah sanak saudara.

29. Selanjutnya tidak ada informasi mengenai hal ihwal Maria, khususnya mengenai hal ihwalnya setelah Yesus hilang dari panggung sejarah.

B. CIRI-CORAK MAT 1-2 DAN LUK 1-2

30. Informasi historik tentang hal ihwal Maria sangat bertambah seandainya Mat 1-2 dan Luk 1-2 dapat dipakai sebagai sumber informasi macam itu. Tetapi harus diakui bahwa bagian-bagian Injil itu mempunyai ciri-corak yang sedemikian rupa, sehingga tidak dapat dipakai oleh ilmu sejarah. Tentu saja ceritera-ceritera sekitar kelahiran serta masa muda Yesus memperteguh informasi yang dapat digali dari Injil-injil dan karangan Perjanjian Baru yang lain atau dapat dijabarkan dari apa yang berlaku umum untuk setiap orang Yahudi pada masa itu. Tetapi sesuatu yang baru tidak dapat diangkat dari Mat 1-2 dan Luk 1-2.

31. Sudah barang tentu tetap ada sejumlah ahli Kitab yang yakin behwa dari Mat 1-2 dan Luk 1-2 dapat digali informsi historik yang amat berharga. Ahli-ahli itu bukan penganut fundamentalisme alkitabiah. Mereka berpendapat bahwa ceritera-ceritera itu berupa tradisi yang terpelihara di kalangan sanak saudara Yesus. Atas dasar Luk 2:19.51 mereka malah menunjuk Maria sendiri sebagai sumber tradisi itu. Mat 1-2 terlebih dihubungkan dengan Yusuf. Tetapi pendapat itu semakin kurang mendapat pendukung. Penelitian atas Mat 1-2 dan Luk 1-2 memang amat memperlemah pendapat itu.

32. Pertama-tama harus dikatakan bahwa Mat 1-2 dan Luk 1-2 bukan bercirikan laporan historik, tetapi pewartaan Injil, pemberitaan tentang Yesus Kristus, bukan tentang Maria. Tentu saja Mat 1-2 dan terutama Luk 1-2 mementaskan ibu Yesus, tetapi selalu dalam rangka pewartaan tentang Kristus. Dalam hal ini Mat 1-2 dan Luk 1-2 pada dasarnya tidak berbeda dengan (bagian-bagian) dari lain. Tidak ada satu pun Injil yang bermaksud “melaporkan” hal ihwal Yesus, orang Nazaret. Semua mewartakan Yesus Kristus sebagaimana Ia diimani oleh jemaah-jemaah Kristen waktu Injil-injil disusun (atas dasar tradisi juga) oleh orang yang sendiri terlibat dalam hal ihwal Yesus, orang Nazaret.

33. Tidak mau dipungkiri bahwa Injil-injil itu dapat dimanfaatkan guna sampai kepada Yesus historik. Tetapi tetap tinggal bahwa penulis-penulis tidak bermaksud memberi laporan. Mereka mau mengungkapkan imannya. Bagian demi bagian Injil-injil perlu diselidiki sejauh mana menyalurkan informasi historik dan cara yang bagaimana informasi itu disalurkan. Bobot historik masing-masing bagian berbeda sekali. Informasi misalnya yang terkandung dalam ceritera tentang baptisan Yesus oleh Yohanes Pembaptis dan tentang Yesus yang dicobai (Mat 1:13-4:11 dsj.), mengenai Yesus yang berubah rupa di sebuah gunung (Mat 17:1-13 dsj.) dan tentang Yesus yang membuat mujizat agak minimal, kalau ceritera-ceritera itu diselidiki dengan seksama. Kadar historik kisah sengsara misalnya jauh lebih tinggi, meskipun juga kisah itu tidak berupa sebuah laporan.

34. Ceritera-ceritera seputar kelahiran dan masa muda Yesus itu membekukan suatu tradisi tersendiri. Asal usul tradisi itu tidak seluruhnya pasti. Tetapi ada dugaan kuat bahwa berasal dari jemaah-jemaah Kristen keturunan Yahudi yang berbahasa Yunani. Melihat perbedaan menyolok antara apa yang termuat dalam Mat 1-2 dan Luk 1-2 boleh diduga adanya dua tradisi yang tidak bergantung satu sama lain sedangkan juga kedua penginjil itu tidak saling mengenal. Hanya dalam data dasariah ada kesamaan antara kedua tradisi (dan penginjil itu): Yesus lahir di Betlehem dan dikandung secara luar biasa (dari Roh Kudus); nama orang tuanya, Yusuf dan Maria; Yesus disunat dan diberi nama Yesus atas petunjuk dari Allah dan Ia menjadi besar di Nazaret. Semua fakta itu, kecuali cara terkandung dan kelahiran di Betlehem (bdk. Yoh 7:42), dapat digali dari Injil-injil atau dijabarkan secara wajar.

35. Mengingat bahwa dari tradisi Mat 1-2 dan Luk 1-2 tidak ada bekasnya dalam Injil Mrk (dan malah Mat dan Luk sendiri) atau lain-lain karangan yang termaktub dalam Perjanjian Baru, maka jelaslah lingkup perkembangan dan peredaran tradisi-tradisi itu agak terbatas. Melalui Mat dan Luk barulah tradisi-tradisi itu tersebar lebih luas. Setelah keempat Injil umum diterima tradisi-tradisi itu masuk ke dalam tradisi seluruh umat Kristen.

36. Sedikit sukar, bahkan umumnya mustahil, memastikan seberapa jauhnya tradisi-tradisi awal itu sudah berbentuk tulisan atau hanya lisan. Seukar menentukan sejauh mana tradisi-tradisi itu sudah melebur menjadi suatu kesatuan sebelum diangkat dalam Mat dan Luk. Tetapi bagaimanapun juga, baik Mat maupun Luk memanfaatkan bahan tradisi yang tersedia bagi mereka. Penginjil-penginjil pun lebih kuat mengolah, menyadur dan menyusun bahan yang diterimanya dari tradisi. Dua-duanya jelas menyesuaikan bahan itu dengan pikiran dan pandangan mereka, seperti yang terungkap dalam Injil-injil selanjutnya. Mereka membuat bahan tradisi, yang diolah seperlunya, menjadi semacam pendahuluan bagi kisah Injilnya, yang disusun atas dasar tradisi (baik yang tertulis maupun yang lisan), yang juga digarap seperlunya. Dalam pendahuluan “Pahlawan” kisahnya sudah diperkenalkan.

37. Melalui sejumlah ceritera seputar kelahiran dan masa muda Yesus tradisi yangtercantum dalam Mat 1-2 dan Luk 1-2 (sukar secara terinci menentukan mana andil tradisi dan mana andil penginjil) mengungkapkan imannya, ialah iman jemaah, akan Yesus Kristus. Apa yang terjadi ialah: Iman jemaah, seperti lambat laun berkembang dengan bertitik tolak pengalaman (dalam apa yang disebutkan sebagai Roh Kudus) akan Yesus yang dibangkitkan dari antara orang mati, dipindahkan kepada awal hidupNya. Sebagai sarana pengungkapan iman itu dipakai ceritera-ceritera yang tidak berdasarkan saksi mata, tetapi pelbagai motif, gagasan dan ceritera yang tercantum dalam Perjanjian Lama dan beredar dalam tradisi Yahudi sekitar tokoh-tokoh besar dalam sejarah penyelamatan, seperti Abraham, Yakub, Yusuf, Laban, Musa, Gideon, Simson dan sebagainya.

38. Meskipun ada sementara ahli (ilmu sejarah agama) yang mencoba membuktikan bahwa ceritera-ceritera itu juga terpengaruh oleh agama, tegasnya mitologi kafir, namun pengaruh agama itu tidak perlu untuk memahami ceritera-ceritera itu. Sebab Perjanjian Lama dan tradisi Yahudi cukup dapat menjelaskan semuanya. Kecuali itu, pengaruh macam itu sukar diterima mengingat bahwa tradisi-tradisi itu berurat berakar dalam lingkup Kristen-Yahudi dan lingkup itu tidak terbuka bagi mitologi kafir yang dijijikkan. Tambah lagi bahwa di zaman Perjanjian Baru bahkan orang kafir (yang terdidik) agak skeptik terhadap mitologi tradisional, yang tidak lagi berfungsi sebagai sarana pengungkapan pandangan dan iman. Aneh rasanya bahwa tradisi Kristen, apalagi penginjil-penginjil, yang jelas orang terdidik, memanfaatkan sarana yang tidak berperan lagi, apalagi sebagai sarana untuk mengungkapkan iman Kristen yang baru.

39. Meskipun ceritera-ceritera sekitar kelahiran dan masa muda Yesus ciptaan tradisi atau penginjil, namun itu belum berarti bahwa semuanya khayalan belaka. Ceritera-ceritera itu mengenai seorang tokoh historik, Yesus, orang Nazaret, sebagaimana Ia diimani umat Kristen. Apa yang diimani tentu saja tidak “historik” dengan arti: dapat diamati dan diketahui setiap orang dan dapat diselidiki oleh ilmu sejarah. Misalnya: Bahwasanya Yesus yang tadinya mati, sesungguhnya hidup oleh karena dibangkitkan; bahwa Yesus lebih dari manusia belaka, tetapi dengan arti khusus Anak Allah dan Tuhan, hanya dapat diimani. Tetapi – kecuali kalau orang menyatakan seluruh iman Kristen khayalan belaka – iman Kristen itu mengenai suatu realitas yang bukan hasil keinginan hati dan buah khayal manusia belaka. Ceritera-ceritera seputar kelahiran dan masa muda Yesus mengenai suatu realitas objektif, yakni Yesus, orang Nazaret, yang realitasNya melampaui pengamatan dan penyelidikan historik belaka.

40. Ada kemiripan besar antara ceritera-ceritera sekitar tampilnya Yesus di bumi dan ceritera-ceritera seputar penampakan Yesus yang sudah hilang dari panggung sejarah. Misalnya: Dalam kedua kumpulan ceritera turun tangan Allah (dilambangkan malaikat atau mukjizat) amat ditekankan. Dua-duanya beukan suatu kisah beruntut, tetapi terlebih (kumpulan) cerita pendek. Dengan jalan demikian ditonjolkan bahwa inti sari peristiwa kebangkitan / penampakan Yesus dan kelahiranNya di luar jangkauan pengamatan dan dan menjadi dasar iman saja.

41. Baik ceritera-ceritera sekitar penampakan Yesus pada akhir kisah Injil (Mat 28; Mrk16; Luk 24; Yoh 20;21) dan pada awal kisah para rasul (Kis 1:1-10) maupun ceritera seputar tampilnya Yesus di bumi (Mat 1-2; Luk 1-2) boleh digolongkan ke dalam jenis sastera yang diistilahkan sebagai “legenda”, tegasnya “legenda apokaliptik”, paling tidak ceritera-ceritera itu mirip dengan jenis sastera itu. Adapun “legenda” ialah suatu jenis sastera dan sarana kesusasteraan (entah sastera rakyat entah sastera budaya), yang dengannya tidak mau dilaporkan suatu peristiwa atau gejala atau pengalaman historik secara “objektif”, melainkan mau diungkapkan bagaimana sekelompok orang (atau seorang sasterawan) memahami, menilai dan mengartikan suatu peristiwa, gejala, tokoh atau pengalaman historik. Tokoh-tokoh besar, peristiwa penting ataupun pengalaman hebat sampai dengan hari ini mencetuskan legenda-legenda yang kadar dan bobot historiknya dapat bermacam-macam, yang setiap kali perlu diselidiki.

42. Sehubungan dengan Mat 1-2 dan Luk 1-2 boleh disimpulkan sebagai berikut: Ceritera-ceritera itu, berkenaan dengan ibu Yesus, tidak menambah informasi historik serba sedikit yang dapat digali dari karangan-karangan yang termaktub dalam Perjanjian Baru. Informasi historik mengenai Maria jauhkalah dengan informasi historik mengenai Yesus yang dapat digali dari Perjanjian Baru (yang sebenarnya juga tidak terlalu banyak). Kalau tidak mungkin menyusun suatu “riwayat hidup” Yesus, apa pula orang tidak dapat menyusun suatu “biografi” ibu Yesus, Maria.

43. Kekurangan informasi yang termuat dalam Perjanjian Baru sejak abad II sepuas-puasnya dilengkapi oleh berbagai tulisan yang diistilahkan sebagai “apokrip” (ataupun “pseudepigraph”), kitab-kitab yang berlagak Kitab Suci tetapi sebenarnya gadungan. Terkenal ialah “Pra-Injil karangan Yakobus”. Karangan itu berkhayal tentang kelahiran dan masa muda Maria sampai kelahiran dan masa muda Yesus. Karangan itu amat besar pengaruhnya pada devosi rakyat, pada ikonografi dan liturgi. Ada juga (sejak abad V) beberapa (vesri) “Liber Transitus Mariae” (Kitab mengenai peralihan ialah kematian Maria), yang berceritera tentang akhir hidup Maria. Hanya pujangga Gereja Epiphanius (± 408) mengakui bahwa orang tidak tahu apa-apa tentang akhir hidup Maria. Dalam karangan-karangan apokrip (dan pada beberapa pujangga Gereja) tampil “berita”tentang Maria yang tinggal bersama rasul Yohanes, entah di Yerusalem (ditunjuk dua makam Maria), entah di Efesus (di situ juga ada makam Maria!). Ceritera-ceritera macam itu bertitik tolak Yoh 19:25-27, yang sendiri cukup kentara ciri simboliknya. Apokrip-apokrip lain, seperti “Injil (masa muda Maria) karangan Thomas” (abad II) atau: Kisah “Yusuf Si Tukang Kayu” (abad V) juga tidak menambah informasi yang dapat dipercaya. Tulisan-tulisan apokrip, yang merupakan buah khayal, memberikan kesaksian tentang kepercayaan dan devosi rakyat dan penulis yang menghasilkan tulisan-tulisan macam itu. Maka tulisan-tulisan itu amat berharga justru sebagai kesaksian tentang devosi dan kepercayaan rakyat Kristen di masa tulisan-tulisan itu beredar. Betapa luas pengaruhnya a.l terbukti oleh Al-Quran, tempat ditemukan cukup banyak bekas dari devosi dan kepercayaan rakyat Kristen di Arabia, waktu Muhammad tampil.

44. Sampai dengan masa kini devosi kepada Maria mendorong sementara orang untuk menyusun semacam “biografi” Maria. Hanyalah “biografi” macam itu merupakan buah hasil spekulasi dan khayal dan terlebih berupa “roman”. Tentu saja tidak terlarang orang berspekulasi dan berkhayal tentang ibu Yesus, asal saja orang tetap insaf bahwa spekulasi dan khayalan. Orang boleh juga berusaha merekonstruksikan “latar belakang” sosio-historik ibu Yesus, yaitu dengan menyelidiki cara hidup rakyat jelata di Palestina, khususnya di Galilea. Sebuah karangan berbobot dan terkenal di bidang itu ialah P. Gaechter, Maria im Erdenleben, 1953. Usaha itu cukup banyak manfaatnya juga, asal orang tahu bahwa semuanya suatu rekonstruksi l.k hipotetik, bukan tentang Maria tetapi mengenai lingkup hidupnya. Jelas pulalah bahwa orang tidak tahu apa-apa tentang psikologi Maria, Yusuf, keluarga kudus dan sebagainya. Tentang itu tidak ada informasi. Orang boleh saja berspekulasi dan berkhayal tentang semuanya, asal tidak menyampaikannya sebagai “informasi”, tetapi hanya sebagai kesaksian tentang devosinya sendiri kepada ibu Yesus.

C. MARIOLOGI DALAM PERJANJIAN BARU?


45. Apa yang dalam Perjanjian Baru secara terperinci diceriterakan tentang Maria, entah dalam Luk1-2 dan Mat 1-2 entah dalam Yoh 2:1 dst.;19:25dst. mempunyai cirinya sendiri. Di sana ditemukan visi dan pandangan penulis seta jemaahnya tentang ibu Yesus menjelang akhir abad pertama. Visi serta pandangan itu selalu diberikan dalam rangka pemberitaan tentang Yesus Kristus. Maria tidak menjadi pokok pemberitaan tersendiri, tetapi nyatanya turut diberitakan bersama dengan Yesus Kristus dan demi Yesus Kristus. Bagi iman yang terungkap dalam Perjanjian Baru Maria hanya relevan sejau relevan bagi iman akan Yesus Kristus.

46. Tidak terlalu mengherankan bahwa ceritera-ceritera seputar kelahiran Yesus ibuNya turut dipentaskan. Dalam ceritera-ceritera Luk 1-2 Maria menjadi pelaku utama di samping Yesus. Sebaliknya dalam ceritera-ceritera Mat 1-2 Maria agak disingkirkan dan pemeran utama di samping Yesus ialah Yusuf. Ini tentu saja berkaitan dengan maksud khusus Mat, yang mau menekankan bahwa Yesus, sebagai Mesias adalah keturunan Daud. Dalam sistem patriarkhat Yahudi kaitan itu terjalin melalui keturunan laki-laki.

47. Jadi apa yang ditemukan dalam bagian-bagian Perjanjian Baru tersebut ialah visi jemaah-jemaah Kristen (yang menjadi tempat asal bagian-bagian itu) menjelang akhir abad I tentang Maria (dan Yusuf) dalam tampinya (dan karya) Yesus di dunia sebagai Mesias, Juru Selamat, Anak Allah dan Tuhan yang diimani jemaah-jemaah itu. Pendeknya apa yang terdapat di sana ialah: iman jemaah Kristen sehubungan dengan peranan ibu Yesus, Maria, dalam sejarah dan tata penyelamatan. Oleh karena visi itu hasil dari refleksi dan renungan jemaah-jemaah Kristen mengenai Yesus Kristus, maka orang boleh berkata tentang semacam “teologi” tentang ibu Yesus, tentang semacam “Mariologi”. Hanya “teologi” itu bukan “teologi” Mariologi “spekulatif”, melainkan Mariologi “naratif”. Visi jemaah disalurkan melalui “narasi”, bukan melalui konsep dan istilah rasional-teologik.

48. Justru karena ciri-coraknya itulah Luk 1-2 dan Mat 1-2 serta Yoh 2:1 dst.; 19:25 dst. begitu penting bagi Mariologi yang menjadi cabang dari teologi dogmatik-spekulatif. Mariologi tidak bermaksud menyusun suatu “riwayat-hidup” atau “psikologi” Maria, melainkan suatu “teologi” tentang ibu Yesus. Mariologi maunya suatu refleksi rasional-ilmiah atas iman kepercayaan Kristen, yang mesti berurat-berakar dalam kerigma apostolik (Perjanjian Baru). Maka Mariologi, yang secara teologik memikirkan kedudukan dan peranan Maria dalam karya penyelamatan serta segala implikasinya, harus mendasarkan diri terutama pada Luk 1-2 (Mat 1-2). Sebab khususnya dalam bagian Injil itulah ditemukan visi kerigma apostolik tentang ibu Yesus, Juru Selamat dan Tuhan umat Kristen.

49. Boleh dikatakan bahwa Luk 1-2 (dan kurang Mat 1-2) menjadi awal Mariologi. Sumbangan dari karangan-karangan Perjanjian Baru yang lain hanya kecil dan juga Injil keempat hanya berperan sebagai pelengkap.

50. Juga konsili Vatikan II (LG N. 56-59) mendasarkan diri terutama pada Luk 1-2. Hanya ada tambahan-tambahan yang diambil dari karangan-karangan lain yang terkumpul dalam Perjanjian Baru. Dokumen konsili itu (LG bab VIII) tidak mau menyajikan suatu “biografi Maria”, meskipun orang barangkali berkesan demikian. Konsili tidak merepotkan diri dengan kadar historik nas-nas yang dimanfaatkan. Sesuai dengan Perjanjian Baru konsili hanya menyajikan suatu teologi, suatu Mariologi alkitabiah. Dan itulah yang mesti tetap menjadi pangkal dan pengawasan seluruh Mariologi.
-------
Sebelumnya : {PENDAHULUAN}
Selanjutnya : {BAB II: MARIA, IBU-PERAWAN}

[Selengkapnya]

Senin, 01 Februari 2010

Mariologi - Pendahuluan

PRAKATA
Terbitnya buku Seri PUSTAKA TEOLOGI, dimaksudkan untuk menyediakan bacaan teologis, sebagai perkenalan bagi mereka yang ingin mengetahui teologi, dan sebagai penyegaran bagi mereka yang pernah studi teologi.
Karena teologi merupakan refleksi atas iman, diharapkan bahwa buku Seri PUSTAKA TEOLOGI dapat membantu semua saja dalam usaha mempertanggungjawabkan iman dalam dialog dengan tantangan-tantangan zaman dewasa ini.

Redaksi/Penanggung jawab Seri
Dr. J.B. Banawiratma, SJ.
Dr. Tom Jacobs, SJ.

KATA PENGANTAR
Dibandingakan dengan masa sebelum konsili Vatikan II perhatian yang dalam teologi diberikan kepada ibu Yesus agak berkurang. Tak terpungkiri juga bahwa di berbagai daerah dunia Katolik “devosi” umat kepada Maria merosot, malah di sana sini devosi itu mengalami semacam krisis. Banyak praktek devosional yang sudah lazim dalam tradisi umat Katolik kehilangan dampaknya.

Karya ini tentu saja tidak bermaksud mengulangi gejala itu. Maksudnya cukup sederhana dan umum. Hanya mau disajikan dalam karya ini suatu misi menyeluruh tentang ibu Yesus seperti terdapat dalam ajaran Gereja Katolik yang l.k. resmi. Sekaligus “devosi marial” mau disoroti dan dibenarkan.

Maka bukan maksudnya menyajikan suatu “visi baru”, kalau masih dapat ditemukan. Disinggung sedikit pendekatan baru yang akhir-akhir itu muncul, tetapi yang dampaknya tidak luas atau mendalam.
Karya ini dalam Bahasa Indonesia (mudah-mudahan tidak terlalu berbelit-belit) barangkali untuk pertama kalinya memaparkan visi Gereja Katolik menyeluruh tentang peranan Maria dalam tata penyelamatan dan dalam kehidupan umat Katolik. Sedikit juga dikatakan mengenai pendirian gereja-gereja Reformasi tanpa meninggalkan suatu polemik dengan pendirian itu.

Semoga karya ini berguna sedikit bagi umat Katolik di Indonesia demi kemuliaan Allah dan Tuhan Yesus Kristus yang nampak pada wajah ibu-Nya. Dengan harapan yang kiranya sama P.Yohanes-Paulus menentukan tahun1987-1988 sebagai tahun Maria (6 Juni – 15 Agustus) untuk menyongsong tahun 2000 sejak tampilnya Juru Selamat.

Yogyakarta, 26 April 1987
Dr.C. Groenen OFM.

PENDAHULUAN
1. Mariologi merupakan sebagian dari teologi dogmatik spekulatif. Mariologi ialah: refleksi teologik mengenai Maria, ibu Yesus, kedudukan dan peranannya dalam karya penyelamatan Allah. Refleksi tersebut haruslah berpangkal pada Kitab Suci dan tetap tinggal dalam rangka iman Gereja Kristus, khusunya Gereja Roma Katolik, setelah Gereja Kristus yang tetap mesti satu nyatanya terpecah menjadi Gereja Ortodoks-Yunani (sejak tahun 1045) dan gereja-gereja, jemaah Reformasi sejak abad XVI dan Gereja Roma Katolik.

2. Tentu saja agak mengherankan bahwa dalam teologi Katolik ada suatu “Mariologi” di samping Kristologi, Soteriologi, Eklesiologi, Sakramentologi dan sebagainya. Sebab di samping Allah dan Yesus Kristus tidak ada satu pun orang lain yang menjadi pokok refleksi teologik khusus, kecuali Maria. Teologi ialah refleksi iman mengenai Allah dalam relasi timbal balik dengan manusia, sebenarnya hanya ada dua bagian atau cabangnya. Kedua bagian itu ialah Kristologi, ialah ajaran dan refleksi tentang Yesus Kristus, dan Eklesiologi ialah ajaran dan refleksi mengenai Gereja Yesus Kristus. Kristologi bertitik tolak Allah dan Eklesiologi bertitik tolak manusia (yang diselamatkan). Dalam kerangka Kristologi dapat dan mesti dibahas Allah Tritunggal, Roh Kudus (Pneumatologi) dan Soteriologi. Pokoknya: Dalam rangka Kristologi dibahas Allah yang bagaimana mengerjakan apa dan berkarya bagaimana demi untuk keselamatan manusia. Sedangkan dalam kerangka Eklesiologi, dibahas Gereja sebagai misteri dan lembaga, Sakramen, Kasih karunia (Rahmat) Allah pada manusia. Pokoknya dalam rangka Eklesiologi dibahas:Manusia yag bagaimana menanggapi karya Allah dan dengan cara yang bagaimana manusia, baik secara perorangan maupun dalam kebersamaan menjadi selamat.
3. Rupanya dalam kerangka teologi macam itu sukar menemukan suatu tempat khusus bagi Maria. Nyatanya hanya dalam Gereja Roma Katolik Latin berkembanglah suatu Mariologi tersendiri dan itu pun barulah di zaman agak belakangan. Adanya suatu Mariologi tersendiri hanya dapat dibenarkan dengan menunjuk kepada kedudukan dan peranan Maria. Di satu pihak kedudukan dan peranan itu tidak sama dengan kedudukan dan peranan Kristus dalam sejarah dan tata penyelamatan, tetapi di lain pihak kedudukan dan peranan Maria juga tidak dapat disamakan dengan kedudukan dan peranan manusia pada umumnya. Hanya kalau demikian duduknya perkara pantaslah Maria direfleksikan tersendiri, sehingga refleksi itu menghasilkan suatu Mariologi. Hanya muncullah soal baru sebagai berikut. Di mana sebaik-baiknya Mariologi ditempatkan dalam keseluruhan Teologi, dalam kaitan dengan Kristologi atau dalam kaitan dengan Eklesiologi?

4. Dalam hal itu para teolog / mariolog Katolik terbagi-bagi. Sebagian teolog menempatkan Maria dalam rangka Kristologi / Soteriologi. Mariologi sebenarnya merupakan penjelasan dan pemerincian ajaran tentang Yesus Kristus dan karyaNya. Melalui refleksi tentang Maria menjadi lebih jelas siapa sebenarnya Yesus Kristus, apa itu “inkarnasi”, bagaimana Allah mengerjakan keselamatan manusia. Mariologi semacam itu sedapat mungkin mendekatkan Maria kepada Juru selamat sendiri. Ditekankan dan diperkembangkan kedudukan dan peranan Maria dalam karya penyelamatan Allah (penebusan objektif istilahnya) demi untuk manusia. Sebagian lain teolog / mariolog condong merefleksikan dan membahas Maria dalam rangka Eklesiologi, dalam rangka penebusan subjektif istilahnya. Maria dilihat terutama sebagai hasil unggul karya penyelamatan Allah melalui Yesus Kristus. Dalam pendekatan ini Maria seluruhnya ada di pihak manusia yang diselamatkan. Ia dilihat sebagai model, pengrealisasian penuh manusia beriman, malah Maria dilihat sebagai model seluruh umat beriman.

5. Sikap Konsili Vatikan II agak mendua. Konsili jelas condong mengadopsi pendekatan eklesiologik tersebut. Konsili kan menyajikan Mariologinya sendiri dalam rangka ajarannya tentang Gereja (Konstitusi Dogmatik tentang Gereja, Lumen Gentium Bab VIII). Namun demikian konsili tidak menolak pendekatan lain. Para Bapa konsili menegaskan bahwa tidak bermaksud menyajikan suatu Mariologi utuh lengkap dan tidak mau memutuskan apa yang masih dipersoalkan dalam teologi Katolik (LG N.54). Nyatanya konsili kurang berhasil mengintegrasikan Mariologinya ke dalam Eklesiologi. Bab VIII konstitusi Lumen Gentium terasa sebagai suatu “appendix”, suatu “tambahan” melulu. Kalau bab VIII dicabut Eklesiologi konsili tidak mendapat rugi sedikit pun dan tidak berubah apa-apa. Maria memang ditempatkan di pihak Gereja. Namun konsili tidak mau (dan tidak dapat) menyamakan kedudukan dan peranan Maria dalam sejarah dan tata penyelamatan dengan kedudukan dan peranan orang beriman lainnya. Maria mendapat suatu kedudukan dan peranan yang tidak hanya unggul, tetapi juga tunggal.
Kalau Maria dimasukkan ke dalam Gereja, maka di dalam Gereja sendiri terpaksa dibuat pembedaan antara Gereja dengan Maria dan Gereja tanpa Maria. Ini suatu “distinctio inadaequata” (tidak seluruhnya berbeda), tetapi toh suatu “distictio realis” (perbedaan yang sungguh-sungguh nyata) dan tidak hanyalah konseptual (distinctio rationis) belaka. Pembedaan antara umat beriman termasuk Maria dan umat beriman tidak termasuk Maria diperteguh oleh P. Paulus VI yang habis sidang konsili yang membahas Gereja dan Maria, meresmikan Maria sebagai “Ibu Gereja”. Gelar itu tidak mau diterima suatu mayoritas Bapa konsili (meskipun tidak menolak apa yang dimaksud dengan gelar itu), sedangkan oleh sejumlah besar Bapa konsili gelar itu justru dianjurkan.

6. Seperti tempatnya Mariologi dalam keseluruhan teologi diperdebatkan para teolog Katolik, demikian pun caranya Mariologi mesti disusun dipersoalkan. Ada suatu pendekatan metodologik yang laris sekali sampai konsili VatikanII. Mariologi itu bertitik tolak ajaran resmi (dogma dan quasi-dogma) tentang Maria. Ajaran itu tidak hanya secara spekulatif dijernihkan, tetapi juga dipakai sebagai pangkal untuk perkembangan lebih lanjut. Dipertanyakan apa yang dalam rangka seluruh ajaran resmi masih dapat dijabarkan dari dogma dan ajaran resmi tentang Maria. Ada tendensi kuat untuk terus mengembangkan Mariologi agak terlepas dan menghasilkan “dogma” baru. Tendensi itu sedikit banyak dipimpin oleh slogan “De Maria nunquam satis” (tidak pernah orang dapat mengatakan cukup tentang Maria). Tendensi itu dibendung oleh konsili Vatikan II. Konsili enggan mengembangkan suatu Mariologi terlepas berdasarkan keistimewaan pribadi Maria. Konsili menempatkan Maria dalam rangka sejarah penyelamatan dan mengaitkan Mariologi pada Eklesiologi.

7. Dengan demikian konsili Vatikan II mendukung pendekatan metodologik yang lain. Pendekatan itu mau mendasarkan Mariologi pada Alkitab dan mau tinggal dalam rangka Alkitab sebagaimana Kitab Suci diartikan dalam tradisi sejati. Tradisi nyata, yang kadang kala khususnya sehubungan dengan ibu Yesus agak liar, mesti diawasi oleh Kitab Suci dan disaring dengan pertolongan Alkitab.

8. Pendekatan metodologik kedua ini – yang hemat kami mesti dibenarkan – tidak terluput dari kesulitan serius. Sebab nyatanya Kitab Suci Perjanjian Baru (hanya ini relevan bagi Mariologi) tidak banyak bicara tentang ibu Yesus. Maka pendekatan metodologik ini menemukan suatu pangkal dan titik tolak yang amat sempit. Boleh dikatakan hanya Luk 1-2 dapat dipakai sebagai titik tolak. Nas-nas lain (Mat 1-2; Yoh 2:1-10.12; 19:25-27; Why 12; Kis 1:14) atau tidak menambah apa-apa atau membutuhkan begitu banyak tafsiran yang kurang pasti, sehingga amat sukar dipakai sebagai pangkal refleksi teologik tentang ibu Yesus.

9. Kekurangan data alkitabiah itu mencetuskan masalah dasar. Yaitu: Adakah Maria termasuk ke dalam kerigma apostolik? Teologi dan tradisi sejati hanya dapat mengembangkan kerigma apostolik saja. Kalau Maria tidak secara khusus termasuk ke dalam kerigma itu, maka Maria tidak dapat menjadi suatu tema khusus dalam teologi. Suatu Mariologi khusus tidak berdasar sama sekali dan tidak dapat dibenarkan.
Bahwasannya nama Maria dalam rangka pemberitaan (Kerigma) tentang Yesus Kristus disebutkan dalam Perjanjian Baru, tidak membenarkan adanya suatu teologi khusus tentang ibu Yesus. Ada tokoh-tokoh yang jauh lebih sering ditampilkan dalam Perjanjian Baru (misalnya: Yusuf, Pertus, Paulus, Pilatus, Kaifas). Tetapi tidak ada seorang pun yang atas dasar itu mau mengembangkan suatu “Petrologi”, Paulo-logi”, apalagi suatu “Pilato-logi”. Usaha untuk mengembangkan suatu “Yosefo-logi” (teologi tentang Yusuf, ayah angkat Yesus), yang khususnya ditangani sementara teolog di Kanada, tidak mendapat angin. Namun peranan Yusuf dalam Mat 1-2 cukup menyolok. Jadi soalnya: mana dasar bagi Mariologi dalam kerigma apostologik? Perjanjian Baru tidak mewartakan Maria, melainkan Yesus Kristus serta karyaNya. Perlukah Maria secara khusus diikutsertakan dalam pewartaan injil? Mengingat Injil Mrk, karangan-karangan Paulus dan sebagainya, rupanya seluruh Injil dapat diberitakan tanpa Maria.

10. Gereja-gereja yang berasal dari Reformasi abad XVI rupanya berkeyakinan bahwa Maria tidak termasuk dalam kerigma apostolik. Sebab – pada umumnya dan secara resmi – dalam teologi dan praxis jemaah-jemaah Reformasi Maria tidak berperan sama sekali dan dapat dilewatkan tanpa rugi sedikit pun untuk keutuhan iman, teologi dan praxis Kristen. Para Reformator sendiri (Luther, Kalvin, Zwingli) dan juga “Pengakuan Iman” awal (seperti Augustana Confessio) serta teolog semula masih menghormati Maria dan menerima ajaran Gereja Kuno tentang Maria (Bunda Allah, keperawanan waktu mengandung dan selanjutnya, kesucian Maria), kalaupun mereka memprotes keterlaluan devosional yang berkembang dalam Gereja Katolik zaman pertengahan. Ajaran tradisional tersebut oleh Reformasi terutama didekati dari sisi kristologiknya. Memang Maria tidak seluruhnya hilang dari jemaah-jemaah Reformasi. Dalam Gereja Luther misalnya masih ada beberapa hari raya yang mengenangkan Maria. Tetapi dampaknya pada praxis dan teologi kecil sekali.

11. Sejak abad XVI Maria memang menjadi pokok pertikaian antara umat Reformasi dan umat Roma Katolik, sehingga “devosi marial” para Reformator hilang dari umat Reformasi. Akibat pertikaian itu afek anti-Katolik di kalangan jemaah-jemaah Reformasi menjadi afek anti-Maria. Betapasering pun duduknya perkara dijelaskan dari pihak Katolik (a.l. konsili Vatikan II) umat Reformasi umumnya yakin bahwa umat Katolik “menyembah” Maria. Maria menyingkirkan dan mengganti Yesus Kristus. Meskipun akhir-akhir ini ada sementara teolog Protestan yang sedikit banyak mau kembali kepada awal Reformasi dalam pendiriannya terhadap Maria, namun umat Reformasi (kecuali sementara fundamentalia) tidak merasa dirinya tersinggung dan terpukul, jika seorang teolog mereka blak-blakan menyingkirkan “devosi marial” para Reformator dengan misalnya menyangkal keperawanan Maria waktu mengandung Yesus dan kesucian Maria.

12. Di belakang sikap anti-Maria yang sangat emosional tersebut, yang sebenarnya sikap anti-Katolik, tersembunyilah suatu perbedaan ajaran teologi yang mendasar. Dalam Mariologi Katolik ditonjolkan dan digarisbawahi secara ekstrem peranan aktif (kalaupun dalam ketergantungan) manusia dalam karya penyelamatan. Maria hanya menjadi penampakan jitu peranan manusia itu. Dan peranan aktif semacam itu tidak dapat diterima para Reformator dan gereja-gereja yang berpangkal pada mereka. Dengan memutlakkan peranan Allah (hanyalah Allah, hanyalah kasih karunia; solus Deus, sola gratia) mereka sukar dapat menampung peranan manusia, termasuk Maria dan malah manusia Yesus Kristus. Manusia, dalam pendekatan mereka, hanya memegang peranan pasif belaka. Itulah yang menjelaskan sikap Reformasi terhadap Maria. Kelalaian teologi Protestan terhadap Maria hanya dapat dinilai sebagai konsekuensi prinsip yang ada pada para Reformator sendiri.
Maria tetap akan tinggal pokok pertikaian antara umat Katolik dan umat Protestan. Umat Protestan tidak dapat mengembangkan suatu Mariologi seperti yang berkembang dalam Gereja Roma Katolik. Tetap akan ada dua pokok pertikaian, yang sebenarnya hanya satu, yaitu Maria dan Sri Paus (sebagai pempribadian Eklesiologi Katolik). Kedua pokok itu sebenarnya hanya satu oleh karena dua-duanya menyangkut peranan aktif manusia dalam karya penyelamatan – begitulah pendekatan Katolik – atau peranan yang pasif belaka, itulah pendekatan Protestan. Dengan demikian Maria dan Sri Paus menjadi hambatan konkret yang paling besar dalam gerakan ekumene.

13. Kalau teologi Reformasi condong menyangkal bahwa Maria termasuk kerigma apostolik dan pewartaan Injil, maka teologi Katolik mempertahankan bahwa ibu Yesus termasuk kerigma awal. Maria tidak dapat disingkirkan dari Injil dan dari teologi yang merefleksikan dan melayani pemberitaan Injil. Kedudukan dan peranan Maria dalam Injil tidaklah sama dengan kedudukan dan peranan, misalnya Petrus atau Paulus, dan bahkan tidak sama dengan kedudukan dan peranan Yusuf.

Kalaupun benar bahwa Perjanjian Baru mewartakan Yesus Kristus, bukan Maria, namun Maria turut diwartakan dan pewartaan Kristus tanpa Maria tidaklah lengkap.

14. Tetapi kerigma apostolik seutuhnya mesti digali dari seluruh Perjanjian Baru dan tidak hanya sebagiannya saja. Seandainya benar, nanti dibahas seperlunya, bahwa Maria sama sekali tidak berperan dalam pemberitaan Mrk dan Paulus dan sebagainya, namun tidak boleh dikatakan, bahwa pemberitaan Mrk, Paulus dan sebagainya sama saja dengan kerigma apostolik. Kerigma apostolik yang tercantum dalam Mat 1-2, Luk 1-2 dan Yoh sama kerigma apostolik. Kerigma apostolik utuh lengkap menjadi pangkal dan titik tolak teologi yang tidak boleh memilih-milih.

15. Mariologi Katolik maunya mendasarkan diri pada seluruh kerigma apostolik tersebut. Yang mempunyai peranan paling besar dalam Mariologi tentu saja Luk 1-2 dengan ditambah Yoh 2:1-10.12 ; 19:25-27. Namun dasar dan titik tolak Mariologi bukanlah suatu ayat atau nas, tetapi terlebih “gambaran Maria” menyeluruh tampil dalam Perjanjian Baru.

16. Tidak dapat dikatakan bahwa seluruh Mariologi Katolik, baik yang “didogmatisasikan”, maupun yang secara otentik diajarkan secara rasional-ilmiah dapat dijabarkan dari teks Perjanjian Baru. Teks itu sendiri dan terlepas kerap kali cukup dwiarti dan ambivalen, sehingga mengizinkan pelbagai tafsiran. Tradisi lanjutan menafsirkan teks dan mengembangkan isinya ke arah tertentu, yang ditinjau dari sudut ilmu tafsir, hanya salah satu kemungkinan. Boleh dikatakan bahwa khususnya dalam Mariologi tradisi itu memainkan peranan amat penting, justru oleh karena data mariologik Perjanjian Baru sedikit sekali. Dalam tradisi itu ada pelbagai faktor yang turut berperan.

17. Faktor yang dari sisi teologi paling penting ialah perkembangan dan refleksi teologik di bidang lain, khususnya dalam Kristologi dan Eklesiologi. Tidak serba kebetulan bahwa juga dalam Perjanjian Baru data mariologik terutama tampil dalam bagian-bagian perjanjian Baru yang agak belakangan dalam waktu. Kerigma kristologik yang tercantum dalam bagian-bagian itu relatif sudah maju. Dalam rangka ini barulah Maria tampil ke depan. Bobot Kristologi juga menentukan bobot Mariologi.

18. Faktor lain yang cukup penting dalam perkembangan Mariologi Katolik ialah agama dan devosi rakyat. Agama dan devosi itu tidak jarang tercermin dalam ibadat resmi dan dengan demikian direstui. Betapa pentingnya faktor itu, namun mesti diakui bahwa agama dan devosi rakyat (meski termasuk ibadat sekali pun) karena sifatnya sendiri agak ambivalen. Devosi itu tidak hanya menimba inspirasinya dari kerigma apostolik dan tradisi sejati, tetapi juga dari lingkungan nyata, dari tradisi-tradisi keagamaan lain. Tidak mustahil – sebaiknya, boleh dikatakan wajar – bahwa rakyat memindahkan pelbagai motif mitologik dari agama kafir (dewi kesuburan, keibuan sakral, kewanitaankosmik) kepada ibu Yesus. Agama devosi rakyat juga tidak bekerja dengan konsep intelektual yang tuntas, tetapi dengan simbol-simbol dan lambang-lambang yang artinya agak kabur dan tidak menentu. Nyatanya peranan Maria dalam agama rakyat Kristen menjadi semakin penting, semakin Kristologi menjadi spekulatif, sehingga Yesus Kristus sendiri bagi rakyat secara eksistensial dan emosional menjadi kurang mengesan dan kurang relevan. Semakin keilahian Kristus ditekankan, semakin Maria tampil sebagai lebih “dekat”.

19. Tetapi justru devosi rakyat yang cukup ambivalen itu mendorong dan memajukan refleksi teologik tentang Maria. Refleksi itu di satu pihak disuburkan oleh devosi rakyat, di lain pihak refleksi itu (haruslah) mengawasi dan membetulkan devosi itu. Apa yang secara intuitif dilihat oleh rakyat beriman, oleh rafleksimesti dijernihkan dan dipasang dalam keseluruhan iman dan ajaran Kristen. Dan refleksi teologik yang disuburkan oleh devosi pada gilirannya diawasi oleh kerigma apostolik yang tercantum dalam Perjanjian Baru. Itu tentunya tidak berarti bahwa pada sementara orang (kelompok) dan untuk sementara waktu, juga refleksi teologik, tidak dapat tersesat. Sebaliknya, ada kalanya juga teologi kehilangan keseimbangan dan arah. Tetapi dalam peredaran waktu kesesatan dibetulkan lagi, entah dari dalam entah dari luar. Itu suatu keyakinan yang berdasarkan iman bahwa Gereja, umat Kristen, secara menyeluruh tidak sesat dalam imannya, melainkan tetap setia pada awal mulanya, Yesus Kristus.

20. Meskipun ada pengaruh timbal balik antara devosi rakyat dan refleksi teologik, namun dua-duanya bergerak pada jalur yang lain. Devosi rakyat terarah kepada Maria sendiri sebagai pribadi. Meskipun relasi Maria dengan Allah dan Kristus secara kabur turut disadari oleh rakyat, namun pusat perhatian ialah Maria sendiri. Justru dalam hal itu terletak bahaya yang ada dalam agama rakyat. Unsur-unsur yang seharusnya menjadi suatu kesatuan, menjadi terisolasi dan mendapat nilai mutlak. Dalam devosi rakyat boleh jadi Maria menjadi terisolasi dari Allah dan Yesus Kristus. Kalau demikian Maria menjadi dewi dan Kristus disingkirkan. Sebaliknya refleksi teologik selalu melihat dan memikirkan Maria dalam relasinya dengan Allah dan Kristus dan dalam relasinya dengan pokok-pokok iman Kristen yang lain. Dengan lain perkataan: Maria dilihat “relatif”. Dengan demikian teologi dapatmembendung bahaya yang terkandung dalam agama dan devosi rakyat. Tetapi teologi nyatanya begitu abstrak dan berbelit-belit, sehingga kurang mengena di hati. Padahal “agama”dan “iman” bukanlah pertama-tama perkara otak dan konsep, melainkan perkara hati dan simbol. Karena itu teologi, kalau mau melayani eksistensi Kristen, membutuhkan devosi rakyat.

21. Nyatanya sepanjang sejarah teologi menjadi begitu jauh dari hidup sehari-hari umat beriman, sehingga devosi kepada Maria, yang justru berurat berakar dalam hidup sehari-hari kalah terhadap bahaya sinkretisme. Tidak sedikit unsur kafir berhasil menyusup ke dalam devosi itu. Soalnya bukanlah bahwa pelbagai simbol kafir diambil alih. Terhadapnya tidak ada keberatan dasariah. Tetapi terjadi bahwa juga arti dan isi simbol itu dipindahkan kepada ibu Yesus. Kritik yang dilontarkan Reformasi dan umat reformasi sampai dengan hari ini tidak seluruhnya meleset dan tidak jarang diberi makan oleh devosi dan agama rakyat Katolik.

22. Dalam pembahasan berikut diuraikan terlebih dahulu Mariologi teologik, dasar dan perkembangannya. Tetapi oleh karena teologi seharusnya melayani praxis, maka bagian kedua membahas sedikit devosi marial serta dengan gejala-gejalanya. Bagian kedua itu boleh diberi judul: “Mario-duli”.
------
Selanjutnya : {BAB I : MARIA, IBU YESUS}

[Selengkapnya]

Jumat, 27 November 2009

Ndhèrèk Dèwi Maria

Ikut Ibu Maria, begitulah kira-kira terjemahan bebasnya. Di lingkungan umat Katolik di Jawa lagu Ndhèrèk Dèwi Maria tentu sangat populer. Beberapa dari kita sangat menyukai lagu ini karena memang syair lagu ini sangat menyentuh. Coba simak syair lagu tersebut berikut ini:

Ndhèrèk Dèwi Maria temtu geng kang manah, mboten yèn kuwatosa Ibu njangkung tansah. Kanjeng Ratu ing swarga amba sumarah samnya.
Sang Dewi, Sang Dewi, mangestanana. Sang Dewi, Sang Dewi, mangestanana.

Nadyan manah getera dipun godha sétan, nanging batos èngetnya wonten pitulungan.
Wit sang putri Maria mangsa tega anilar.
Sang Dewi, Sang Dewi, mangestanana. Sang Dewi, Sang Dewi, mangestanana.

Menggah saking apesnya ngantos kèlu sétan, mboten yèn ta ngantosa klantur babar pisan.
Ugeripun nyenyuwun Ibu tansah tetulung.
Sang Dewi, Sang Dewi, mangestanana, Sang Dewi, Sang Dewi, mangestanana.

Ingin mempelajari lagunya? Download not lagunya di sini.
Penasaran seperti apa lagunya? Download MP3-nya di sini.

[Selengkapnya]

Kamis, 26 November 2009

Pentingnya Rosario Keluarga

Artikel ini diambil dari booklet “Our Glorious Faith and How To Lose It”, penulis: P.Hugh Thwaites,SJ. Booklet itu terdiri atas beragam cerita berbeda mengenai bagaimana kita bisa kehilangan keyakinan kita, tetapi artikel di bawah ini hanya akan membahas hal tersebut dikaitkan dengan Rosario Suci. Berikut adalah pesan-pesan P.Thwaites.

Tanpa menunda-nunda lagi, sekarang saya mau berbicara mengenai tema saya. Tampak bagi saya bahwa penyebab utama dari hilangnya keyakinan kita adalah menurunnya praktek Rosario keluarga.

Di Austria, setelah Perang Dunia II, terjadi keruntuhan total. Selama satu tahun, kelihatannya, tidak ada satu orang pun yang masuk seminari. Lalu Uskup menyelenggarakan musyawarah gereja, untuk mencari tahu bagaimana hal itu bisa terjadi. Kesimpulan yang didapat adalah bahwa perang telah begitu mengacaukan kehidupan keluarga-keluarga yang selama bertahun-tahun mempraktekkan Doa Rosario di rumah-rumah mereka. Praktek Doa Rosario ini berhenti dan tidak pernah dimulai kembali. Saya juga pernah mengalaminya; ketika sudah tidak berdoa Rosario lagi, keyakinan saya lama kelamaan runtuh.

Saya ingat sesorang yang pernah bercerita kepada saya mengenai salah seorang temannya (seorang Katolik yang kuat – teladan umat Gereja), yang semua anaknya “hilang”, satu demi satu. Anak-anaknya menjauhi sakramen-sakramen dan misa-misa. Saya berkata kepada teman saya,”Berani taruhan kalau temanmu itu sedari kecil sudah terbiasa untuk berdoa Rosario keluarga, tetapi anak-anaknya tidak.” Di hari lain saya bertemu dengan teman saya lagi, teman saya bilang kalau saya benar. Temannya teman saya memang sejak kecil terbiasa untuk berdoa Rosario keluarga di rumah, dan ketika dia menikah dan memulai kehidupan keluargnya sendiri, pertama-tama mereka suka memanjatkan Doa Rosario. Tetapi kemudian, di suatu sore, ketika mereka baru mau memulai Doa Rosario, salah satu anak mereka menyalakan televisi, dan semua kejadian sekarang berawal dari situ… Kebiasaan berdoa Rosario keluarga menurun, dan akhirnya mereka menyerah untuk tidak melakukan praktek keyakinan itu lagi.

Dari pengalaman itu terlihat bahwa satu tindakan yang tidak ditegur kelihatannya akan mempengaruhi kelanggengan beberapa orang. Tuhan mengirimkan BundaNya dari Fatima untuk mengatakan kepada kita bahwa kita harus berdoa Rosario setiap hari. Tidak ada doa lain yang Bunda minta untuk kita doakan.

Oleh karena itu, kita seharusnya melakukan apa yang Bunda minta.

Suatu kali saya bertemu dengan seorang awam yang tidak berdoa Rosario, tapi dia membaca Kitab Suci setiap hari. Itu bagus, sesuai dengan apa yang diminta oleh Pastor, tetapi bukan itu yang diminta oleh Bunda kita. Bunda meminta Rosario. Jika seorang Ibu mengirimkan anaknya untuk membeli sebotol susu, dan anaknya malah kembali dengan es krim, apakah Ibunya akan senang? Es krim memang lebih enak daripada susu, tapi bukan itu yang Ibunya minta.

Di Nazareth, apakah kamu pikir Bunda kita meminta sesuatu sampai dua kali? Jika kita ingin seperti Yesus, kita harus melakukan apa yang diminta oleh BundaNya. Jika kita tidak melakukannya, apakah kita dapat mengharapkan segala sesuatunya berjalan dengan baik? Kita tak dapat melanggar Bunda Tuhan, tanpa noda dosa. Bunda tahu lebih baik daripada kita mengenai bahaya-bahaya dari peperangan spritual ini. Dia dapat melihat dengan lebih jelas daripada kita mengenai bahaya-bahaya di sekitar kita. Bunda memperingatkan kita: Kamu harus berdoa Rosario setiap hari.

Jika seorang mekanik mengingatkanmu bahwa mobilmu butuh perbaikan atau apa pun yang akan rusak, pasti kamu akan memperhatikan peringatan itu? Jika petunjuk bahan bakar memperingatkan kamu bahwa kamu membutuhkan bahan bakar lebih, apakah kamu tidak melakukan sesuatu terhadap hal itu? Dan jika Bunda kita datang dari Fatima dan berkata kepada kita (tidak hanya sekali tapi enam kali) bahwa kita harus berdoa Rosario setiap hari, apakah kita akan mengabaikan peringatan itu? Kalau seperti itu, berarti kitalah yang sepatutnya disalahkan apabila kita mendapati anak-anak kita kehilangan keyakinannya.

Saya tahu bahwa Fatima hanyalah sebuah pengungkapan rahasia pribadi, tapi walaupun demikian Gereja telah mensahkan hal itu, dan hal itu malah membuat kita untuk segera mengabaikannya. Jika Gereja memberitahukan kita bahwa Bunda kita benar-benar datang ke Fatima dan mengatakan kepada kita segala hal di atas, berarti kita harus mendengarkan kata-kataNya. Tampak nyata bahwa orang-orang Katolik yang tidak menganggap Fatima sebagai suatu hal yang serius dan tidak berdoa Rosario tiap hari di rumah mereka, menjadi sangat mirip dengan orang-orang Yahudi yang mentertawakan Yeremia. Jika Tuhan mengirimkan kita para RasulNya dan kita tidak mengangap mereka secara serius, maka kita punya seluruh Perjanjian Lama yang dapat mengatakan kepada kita mengenai apa yang akan terjadi sebagai akibatnya. Tetapi di Fatima, Tuhan mengirimkan kita, bukan para RasulNya, tetapi BundaNya yang Tanpa Noda.

Jadi, saya pikir meninggalkan kebiasaan Rosario keluarga adalah sebab utama mengapa begitu banyak orang Katolik yang kehilangan keyakinannya. Tampak bagi saya bahwa Gereja yang akan datang hanya akan terdiri semata-mata dari keluarga-keluarga yang setia berdoa Rosario. Selebihnya, berasal dari keluarga-keluarga yang dulunya Katolik.

Selama saya bekerja mengunjungi rumah-rumah, saya sudah melihat akhir yang seperti ini. Rumah dapat ditransformasikan kembali dengan mulai mengumandangkan Doa Rosario tiap hari. Saya ingat seorang wanita bercerita kepada saya bahwa dia tidak dapat cukup berterimakasih pada saya yang mengomelinya untuk memulai berdoa Rosario; Doa Rosario telah menyatukan keluarganya kembali seperti tidak pernah terjadi sebelumnya.

Saya juga ingat akan sebuah keluarga yang pernah saya hubungi. Ada suatu suasana aneh di sana; anak-anaknya tidak bersuara dan istrinya kelihatan menarik diri, sedangkan suaminya sedang mau memulai Doa Rosario keluarga. Ketika saya hubungi mereka kembali 2 bulan kemudian, atmosfirnya sudah berbeda. Anak-anaknya banyak cakap, istrinya ramah, dan suaminya, sesudahnya, berjalan-jalan dengan saya di luar, mengatakan betapa luar biasanya rumah mereka karena sudah lebih banyak kegembiraan di dalamnya.

Satu alasan, saya pikir, mengapa Doa Rosario tiap hari dapat membuat rumah bahagia, adalah ini. Dari beberapa orang yang rajin,dan dari beberapa perkataan santo/santa, kelihatannya kuasa jahat takut terhadap Rosario. Rosario membuat rambut mereka habis, juga bisu. Air Suci memang dapat mengusir mereka, tapi mereka akan kembali. Doa Rosario tiap hari dapat mengusir mereka pergi dan menahan mereka di luar. Hal itu dapat diibaratkan seperti hidup di rumah tua dengan banyak tikus dimana-mana. Satu-satunya jalan untuk mengusir tikus itu adalah dengan kucing-kucing. Jika kamu punya sepasang kucing, setelah satu atau dua minggu tidak akan ada lagi tikus-tikus. Tikus-tikus takut pada aroma kucing-kucing yang sangat menyengat. Dan di dalam sebuah rumah yang setiap harinya dikumandangkan Doa Rosario, setelah suatu waktu, kuasa jahat sadar bahwa mereka tidak berdaya di hadapan Bunda kita, dan pergi ke tempat lain.

Pasti inilah alasannya mengapa, seperti yang mereka katakan,”Keluarga yang berdoa bersama, tetap bersatu.” Di rumah seperti itu, yang sungguh-sungguh bebas dari roh-roh jahat, ada suatu atmosfir yang tidak dapat ditemukan di luar. Di dalam sebuah kota yang dikerumuni setan seperti London, tempat saya tinggal, rumah seperti itu bagaikan sebuah oase dari nikmat Tuhan, dan orang-orang akan mendapatkan sebuah kenyamanan dan kedamaian di sana yang dapat mereka nikmati sepuasnya/ kita manusia tidak dimaksudkan untuk hidup di perusahaan iblis, tapi untuk hidup dengan Tuhan dan para malaikat serta para santo/santaNya di Surga.

Jadi, seperti yang saya lihat, dalam upaya ini, kita jaga keyakinan kita dan kita sebarluaskan praktek Doa Rosario yang tidak bisa dihapuskan sama sekali. Apa pun yang mungkin dilakukan seseorang, walaupun mereka pergi menghadiri Misa setiap hari, mereka tetap harus mendoakan Rosario di rumah mereka setiap hari. Itu adalah obat yang Bunda bilang kita untuk ambil, untuk menjaga kekuatan dan baiknya keyakinan kita.

Sumber: http://olrl.org/misc/fmrosary.shtml
Penterjemah: Ursula Brigitta Tiwow
Sumber Tulisan: Majalah Ave Maria – Edisi September Oktober (AM-56)

[Selengkapnya]

Selasa, 17 November 2009

Anda Memiliki Keputusan Sulit Untuk Dibuat? Garabandal Memiliki Jawabannya.

Seperti para penglihat, kita harus tetap tebuka bagi roh Tuhan untuk berkarya dalam diri kita. Sekali kita membiarkan diri kita tetap terbuka kepada rencana Tuhan, kita dapat mulai memastikan apa rencana itu.

Kita semua pernah berada di sana… berjalan di sepanjang jalur kehidupan saat tiba-tiba dan seringkali pada saat-saat yang kurang nyaman, kita sampai pada sebuah cabang di jalanan.

Sepertinya makin jauh kita memikirkan satu pilihan, kelihatannya semua pilihan semakin baik. Di saat-saat itu kita dapat bertindak dengan cara yang berlainan. Kita dapat menutup mata kita dan melompat di satu arah atau arah lainnya tanpa sebenarnya menentukan apa yang kita lakukan. Kita dapat bermai permainan kanak-kanak, ganjil dan genap, permainan “satu kentan, dua kentang” dan membiarkan itu menentukan jalur bagi kita. Kita dapat menduga apa yang keluarga, teman-teman, atau masyarakat akan lakukan, atau bahkan meminta anjuran mereka. Yang lain akan mencari bantuan dari astrologi, kartu ramalan, peramal nasib, atau seorang “sahabat psikis”.

Akhirnya, kami dapat menentukan pilihan mana yang membuat kita merasa atau kelihatannya lebih baik, memberi kita lebih banyak uang dan popularitas, atau membantu kita mencapai kekuasaan dan pengaruh. Masalahnya dengan strategi tersebut adalah, mereka mengabaikan nasihat dan bantuan terbaik yang tersedia, yaitu yang berasal dari Tuhan. Saya telah menemukan bahwa pesan-pesan dan peristiwa-peristiwa Garabandal memberikan saya “peta perjalanan” yang sangat baik untuk membuat keputusan yang sulit. Kapan saja kamu dihadapkan dengan sebuah keputusan sulit, tanyakan diri Anda sendiri pertanyaan-pertanyaan ini dan pikirkan mengenai “Jawaban Garabandal”.

Apakah saya menempatkan keinginan Tuhan lebih dahulu daripada keinginan saya?
Seringkali masyarakat kita mengajarkan bahwa “apa saja yang saya inginkan, harus saya kejar”, tapi apakah itu selalu menjadi jalan Tuhan? Yesus dan BundaNya yang terberkati telah berulang kali mengatakan pada kita di Garabandal dan di tempat lain, bahwa kita tidak hanya harus memiliki iman bahwa Tuhan akan menolong kita, tapi bahwa kita harus mematuhi jalan Tuhan saat itu ditunjukkan pada kita. Para penglihat tidak selalu mengerti apa yang diberitahukan kepada mereka, atau mereka tidak perlu setuju. Tetapi saat itu menjadi nampak bagi mereka bahwa itu merupakan kehendak Tuhan bagi mereka dan mereka melakukannya, karena mengikuti kehendak Tuhan itu sendiri merupakan sebuah tindakan iman.

Conchita seringkali berkata,”Apa saja mungkin bagi Tuhan”, maka saat seseorang merasakan dorongan dari Tuhan untuk sebuah jalan yang ditunjukkan, dia tidak perlu khawatir akan kemungkinan keberhasilan, karena faktanya jika seseoang bertindak menurut kehendak Tuhan, itu akan memastikan keberhasilan. Dengan keberhasilan, tentu saja, itu tak berarti keberhasilan menurut istilah kita, tetapi menurut rencana Tuhan.

Banyak orang akan mengatakan bahwa seseorang tidak dapat membaca kehendak Tuhan seperti dalam surat kabar. Mungkin mereka benar untuk tingkatan tertentu, tetapi di titik awal ini dalam proses pembuatan keputusan, kita seharusnya memastikan bahwa pilihan kita tidak hanya didasarkan pada tingkah laku atau keinginan pribadi kita dan mengabaikan yang lainnya. Seperti para penglihat merenungkan apa yang menjadi rencana Tuhan untuk masa depan mereka, kita harus tetap terbuka bagi Roh Tuhan yang berkarya di dalam diri kita.

Apakah pilihan ini membantu saya untuk lebih mengasihi Tuhan dan orang lain?
Sekali kita membiarkan diri kita sendiri tetap terbuka bagi rencana Tuhan, kita dapat mulai memastikan apakah rencana itu. Kedua perintah dari Perjanjian Baru adalah tempat yang baik untuk memulai. Pertama, pilihan yang mana akan membantu kita menunjukkan kasih kepada Tuhan dengan lebih efektif? Beberapa kriteria harus kita pilih di antara memfokuskan diri kita untuk membeli sebuah rumah dan pergi di sebuah peziarahan keagamaan ke Fatima, Lourdes, dan Garabandal. Meskipun kita telah bergulat untuk jangka waktu lama untuk mencari sebuah rumah yang bagus dengan harga yang baik, adalah jelas bagi kita pilihan mana yang akan membantu kita untuk lebih mengasihi Tuhan. Conchita menjelaskan bahwa kedua cintanya yang terbesar adalah kasih kepada Tuhan dan kepada Perawan Terberkati. Dia juga membuat itu jelas bahwa dia ingin mengurbankan apa saja demi kedua kasih yang besar ini.

Setelah meningkatkan kasih kita kepada Tuhan, hal kedua yang harus kita fokuskan adalah meningkatkan kasih kita kepada orang lain. Para penglihat selalu menunjukkan perhatian dan cinta di antara mereka sendiri dan kepada orang-orang di sekitar mereka. Contohnya saat sang Perawan tampak lebih sering kepada Conchita daripada yang lainnya, Conchita meminta kepada Bunda Kita untuk tampak lebih sering kepada Mari Cruz. Pilihan mana yang akan lebih membantu orang lain atau setidaknya akan membantu kita untuk lebih menolong orang lain? Sekali lagi pilihan rumah atau peziarahan kita akan lebih jelas…dengan pergi di sebuah peziarahan kita akan mengalami Tuhan dengan lebih dekat dan dibentuk menjadi lebih peka untuk membantu orang lain, tetapi kemampuan kita untuk membantu mereka yang kurang beruntung kelihatannya tidak tergantung pada keberhasilan kita membeli sebuah rumah, terlebih lagi jenis rumah apa yang kita beli.

Bagaimana pilihan ini dihubungkan dengan menolong saya memenuhi tugas / peran yang Kristus inginkan bagi saya?
Salah satu cara kitadapat memastikan kehendak Tuhan adalah dengan berpikir bagaimana sebuah pilihan akan membantu kita mengikuti contoh Kristus. Buku-buku Meniru Kristus dan Meniru Maria adalah sangat populer karena orang ingin lebih mengerti dan menghargai bagaimana mereka dapat “melihat” Kristus dan BundaNya yang Terberkati dalam sikap dan tindakan. Telah dikatakan bahwa “Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani.”(Mat.20:28). Di Garabandal, Bunda Kita menunjukkan semangat pelayanan ini dalam semuanya dari mengajari para gadis untuk memperhatika keperluan mereka sendiri sampai menjawab pertanyaan-pertanyaan perngunjung melalui para penglihat. Singkatnya, Garabandal adalah mengenai peruntuhan halangan-halangan, dan Bunda Kita seringkali lakukan itu di sebuah desa dimana pelayanan timbal-balik sudah menjadi adat.

Pilihan yang mana yang akan membantu saya memberikan contoh yang baik kepada orang lain?
Suatu kali, saya menanyakan pada sebuah kelas yang saya ajar,”Mana yang akan memberikan contoh terbaik, mengalahkan seseorang dalam sebuah permainan atau mengajarkan mereka bagaimana untuk memainkan permainan dengan lebih baik?” Banyak murid yang memilih mengalahkan lawan melebihi mengajari mereka, membenarkan pilihan ini dengan mengatakan itu bukanlah ide yang baik untuk mengajar lawan bagaimana meningkatkan kemampuan atau bahwa mengalahkan lawan lebih menyenangkan daripada mencoba mengajar sesuatu kepada mereka. Saya mencoba untuk menunjukkan bahwa “menang/menang” selalu adalah jawaban yang lebih baik untuk masalah apapun,dan bahwa dengan mengajar kita tidak hanya meningkatkan diri kita sendiri namun mungkin juga mendapatkan sahabat dalam proses itu. Meskipun kita tidak terlalu sombong di contoh rumah/peziarahan kita untuk menganggap diri kita sendiri sebuah contoh kepada siapapun, saya pikir siapapun yang melihat pilihan kita mungkin dibuat untuk berpikir lebih berhati-hati mengenai pilihan mereka juga. Sekali kita memberikan contoh, itu tergantung kepada orang lain untuk mengikutinya namun jika kita gagal untuk memberikan contoh itu, kita telah kehilangan sebuah kesempatan untuk membantu orang lain.

Bayak cerita Garabandal adalah mengenai memberikan sebuah contoh baik atau model pada orang lain. Bunda Maria memberikan sebuah contoh bagaimana untuk berdoa, yang para penglihat ikuti. Ini memiliki sebuah pengaruh pada para saksi, yang hidup doanya digugah. Sekali itu menjadi jelas bahwa gadis yang tak berdosa ini adalah penglihat, banyak orang lebih memperhatikan bagaimana mereka bertindak dan memperlakukan orang lain, sehingga memberikan lahan subur untuk peniruan.

Pilihan mana yang akan membantu saya untuk menjalani hidup yang lebih suci?
Kamus menjelaskan “suci” sebagai “menjadi ilahi atau berdasarkan dalam kebaikan.” Jika saya memilih untuk pergi berjudi atau berdansa daripada menghadiri Misa, pilihan saya tidak membantu saya untuk menjadi lebih suci. Terlebih lagi, meskipun kita tidak sadar akan kesucian dalam pilihan rumah/peziarahan, perjalanan tampak jelas akan setidaknya membantu kita untuk lebih menyadari kesucian dalam hidup kita. Di Garabandal, kita melihat bahwa penampakan terkadang dibatalkan karena di sana ada dansa atau pesta yang terlalu dekat dengan penampakan di waktu atau tempat bersamaan. Juga, para warga desa menjadi sangat sadar cara para penglihat bertindak dan bagaimana mereka menunjukkan hormat penuh pada penampakan dan para pengunjung.

Sudahkah saya berkonsultasi dengan Alkitab?
Satu hal membuat jelas di Garabandal bahwa Sabda Tuhan adalah segi penting bagi semua pikiran dan tindakan. Tak pernah Bunda Terberkati merendahkan nilai membaca Alkitab atau berkonsultasi dengan itu. Terlebih lagi, setiap hal yang dikatakan atau dilakukan adalah konsisten dengan ajaran Alkitab. Pada zaman dimana para pemberontak berusaha membengkokkan dan merusak Alkitab untuk menyesuaikan pandangan mereka akan kebenaran, Garabandal berdiri sebagai contoh bahwa kebenaran ditemukan di halaman-halaman itu, yang sekarang diinjak-injak oleh banyak orang. Setiap hari dari Garabandal mengatakan kepada kita bahwa adalah orang bodoh yang mengabaikan, merusak, serta menginjak-injak kebenaran, maka kebenaran harus dikonsultasi dimana saja mungkin.

Sudahkah saya berdoa?
Satu segi utama dari pesan-pesan Garabandal adalah doa. Untuk membuat keputusan tanpa doa adalah seperti membuat keputusan tanpa Tuhan. Tidak hanya Sang Perawan mengjarkan para gadis bagaimana untuk berdoa dengan benar, tetapi beliau seringkali menghubungkan doa sebagai strategi di setiap keadaan. Doa adalah lebih dari mengucapkan terimakasih, pujian, mengingat, atau meminta: itu adalah jembatan rohani dan adikodrati kepada Yang Mahakuasa yang akan membawa kita kepadaNya.

Sudahkah saya mencari bimbingan dari seorang pelindung, seperti seorang imam?
Sebuah segi utama lain dari Garabandal adalah yang berhubungan dengan para imam. Banyak orang akan mengatakan bahwa bimbingan ini ironis atau munafik, tetapi mereka akan jatuh ke dalam perangkap yang dipasang oleh setan. Di sana tidak ada hal yang lebih diinginkan setan daripada menolak para imam sebagai penolong di saat kita membutuhkannya. Ini tidak berarti bahwa kita dengan membabi buta mengikuti anjuran atau pendapat imam dan kemudian menggunakannya sebagai alasan untuk sebuah keputusan yang dibuat dengan buruk.

Apa yang ini berarti bahwa kita mencari, dengan bantuan Tuhan, seorang imam yang baik dan suci, lalu mencari anjurannya di semua hal rohani yang penting. Untuk “melempar keluar para imam dengan skandal” akan menyalahkan pilihan Tuhan akan para imam sebagai wakil khusus dan unik. Di Garabandal, kita melihat bagaimana Sang Perawan meminta para penglihat untuk berdoa untuk para imam supaya mereka dapat melaksanakan fungsi-fungsi mereka dengan cara yang suci dan memberi contoh baik kepada orang lain.

Maka kita melihat bahwa pilihan-pilihan rohani kita yang penting selalu memasukkan anjuran orang-orang religius yang ditemukan setelah pemeriksan berhati-hati akan kesucian mereka. Kita tidak mencari seorang religius yang akan setuju akan apapun yang kita katakan dan kemudian memilih itu demi kenyamanan kita. Kita harus tetap terbuka bagi suara Tuhan dari religius itu, dan kita akan lebih terbuka dengan religius yang suci jika kita terbuka bagi kesucian di dalam kehidupan kita sendiri.

Sudahkah saya menjawab pertanyaan di atas dengan jujur?
Semua cerita peristwa-peristiwa Garabandal menunjukkan bahwa para penglihat selalu jujur dalam perilaku dan kata-kata. Kata-kata seperti “terus terang” dan “polos” seringkali digunakan untuk menggambarkan gadis-gadis ini. Itu juga harus diingat bahwatak pernah Sang Perawan “membalut dengan gula” pesan-pesannya atau meminta para gadis untuk melakukan itu. Di sebuah dunia dimana putaran dan permainan kata seringkali digunakan para pemimpin dan politikus, menjadi jujur dan terbuka tidak selalu dikagumi. Namun akhirnya, itu memberikan kita sedikit kebaikan untuk mengikuti bimbingan untuk membuat keputusan jika kita tidak jujur akan diri kita sendiri dalam prosesnya!

Kesimpulan
Kita tahu bahwa membuat keputusan yang sulit adalah bagian dari kehidupan dan bahwa tidak semua pilihan benar-benar rohani dan berarti bagi jiwa kita, keselamatan kita, dan kesucian kita. Sewaktu itu adalah selalu baik untuk meminta bantuan Tuhan dalam menentukan pilihan, kita harus terlebih lagi mencari bantuan itu saat pilihan-pilihan itu secara langsung mempengaruhi hubungan kita dengan Pencipta kita.

Pada kasus-kasus tersebut, kita dapat mengikuti garis pedoman seperti yang sudah diberikan di atas. Dengan melakukan itu, kita akan melihat bahwa Garabandal memberi kita contoh-contoh nyata dari setiap garis pedoman, maka dapat digunakan untuk membantu kita membuat pilihan yang lebih baik. Semoga Bapa kita Yang Maha Kuasa, PutraNya Penebus kita, dan Perawan Terberkati selalu menjadi Sahabat dalam pilihan-pilihan kita!

Sumber: Garabandal International
Ditulis oleh: Gabriel Garnica
Penterjemah: Ryanth Atmadja
Sumber Tulisan: Majalah Ave Maria - Edisi September-Oktober 2009 (AM-56)

[Selengkapnya]

Kamis, 12 November 2009

Rosario, Doa Yang Penuh Kuasa Bagi Perdamaian

VATIKAN CITY (CNS) -- Rosario adalah doa yang penuh kuasa untuk perdamaian, untuk keluarga, serta untuk merenungkan peristiwa-peristiwa dalam hidup Yesus, demikian kata Paus Yohanes Paulus II dalam surat apostolik yang baru diterbitkannya.

Sementara memuji mereka yang dengan setia berdoa rosario dengan merenungkan peristiwa-peristiwa seperti yang biasa dipakai selama ini, paus juga menganjurkan tambahan lima “peristiwa cahaya” - yaitu masa perutusan Yesus di hadapan orang banyak - untuk lebih menekankan fokus rosario pada Kristus.

Paus Yohanes Paulus II menandai peringatan 24 tahun pelantikannya sebagai paus pada tanggal 16 Oktober dengan menandatangani surat apostolik “Rosarium Virginis Mariae” (“Rosario Santa Perawan Maria”), pada saat mengadakan audiensi umum mingguan.

Bapa Suci memaklumkan Tahun Rosario hingga bulan Oktober mendatang, serta meminta setiap orang untuk berdoa rosario dengan lebih sering, dengan penuh cinta dan dengan pemahaman bahwa doa rosario akan mempersatukan mereka dengan Bunda Maria serta menghantar mereka kepada Yesus.

Kelima peristiwa baru yang dianjurkan Bapa Suci adalah:

  • Yesus Dibaptis di Sungai Yordan
  • Yesus Menyatakan Diri-Nya dalam perjamuan nikah di Kana
  • Yesus Mewartakan Kerajaan Allah serta Menyerukan Pertobatan
  • Yesus Dipermuliakan
  • Yesus Menetapkan Ekaristi

Paus Yohanes Paulus II juga mengungkapkan cintanya yang istimewa akan doa-doa Maria dan menyampaikan saran-saran bagaimana umat beriman dapat berdoa rosario dengan lebih baik.

“Rosario telah menyertai saya di saat-saat suka dan di saat-saat duka,” tulisnya. “Dalam rosario saya selalu menemukan penghiburan.”

Hanya selang dua minggu setelah pengangkatannya sebagai Bapa Suci pada tahun 1978, ia mengatakan, “Sejujurnya saya mengakui: Rosario adalah doa favorit saya.”

Dan, katanya, “mengenang kembali segala kesulitan yang juga menjadi bagian dari pelaksanaan tugas perutusan saya, saya merasa perlu untuk menyampaikan sekali lagi, sebagai suatu undangan yang hangat kepada siapa saja untuk mengalami secara pribadi bahwa: Rosario sungguh `meningkatkan irama hidup manusia', dan menjadikannya selaras dengan `irama' hidup Tuhan sendiri.”

Bapa Suci meminta bantuan setiap orang untuk menanggapi “krisis rosario” yang ditandai dengan kelalaian mengajarkannya kepada anak-anak serta keragu-raguan -yang didukung oleh beberapa teolog- bahwa rosario itu kuno, takhyul atau pun anti-ekumene.

Terutama setelah “serangan yang mengerikan” tanggal 11 September 2001, paus mengatakan: menggairahkan kembali doa rosario merupakan sumbangan umat Katolik yang amat berharga bagi perwujudan perdamaian dunia.

Paus Yohanes Paulus II mengatakan bahwa rosario memberi “rasa damai bagi mereka yang mendoakannya,” membimbing mereka untuk memandang wajah Kristus dalam diri sesama, untuk peka terhadap kesedihan serta penderitaan sesama, serta membangkitkan kerinduan untuk menjadikan dunia “lebih indah, lebih adil, lebih selaras dengan rencana Tuhan.”

“Sekarang ini, saya hendak mempercayakan diri kepada kuasa doa rosario …. sebagai sumber damai di dunia dan sumber damai dalam keluarga,” tulisnya.

Rosario, kata paus, adalah dan akan selalu merupakan doa dari dan bagi keluarga.

Mendaraskan doa rosario bersama-sama dalam keluarga akan mempersatukan mereka dengan Keluarga Kudus, membawa harapan-harapan serta persoalan-persoalan mereka kepada Tuhan, serta memusatkan perhatian mereka kepada gambaran kehidupan Kristus, dan bukannya gambar televisi, katanya.

Berbicara tentang praktek doa rosario, Paus Yohanes Paulus II mengatakan bahwa rosario mengulang-ulang doa yang sama dengan tujuan merenungkan serta memusatkan pikiran, dan bukannya mendatangkan kejenuhan.

Pertama-tama, katanya, biji-biji rosario janganlah dipandang sebagai “barang jimat,” tetapi sebagai sarana untuk melambangkan “perenungan serta usaha terus-menerus untuk mencapai kesempurnaan Kristiani.”
Biji-biji rosario juga dapat “mengigatkan kita akan begitu banyaknya persahabatan dan ikatan persatuan serta persaudaraan yang mempersatukan kita dengan Kristus.”

Peristiwa-peristiwa rosario, meskipun bukan pengganti bacaan Kitab Suci, haruslah menghantar pikiran kita kepada Kristus dan kepada peristiwa-peristiwa lain dalam hidup-Nya, demikian kata paus. Sebagian orang mungkin akan merasa tertolong dengan gambar atau ikon Kitab Suci dari peristiwa yang sedang direnungkan, atau setidak-tidaknya, dengan menggambarkan peristiwa -peristiwa tersebut dalam pikiran mereka.

Paus Yohanes Paulus II juga menganjurkan agar umat membaca ayat Kitab Suci yang berhubungan dengan peristiwa yang direnungkan, bukan sebagai sarana untuk mengingat kembali informasi yang ada, “tetapi untuk mengijinkan Tuhan berbicara.”

Seringkali terjadi, pada waktu berdoa rosario, kata paus, umat beriman lupa bahwa bagian penting dari suatu doa kontemplasi adalah keheningan; karenanya baik pada waktu mendaraskan doa rosario secara pribadi atau pun bersama-sama dalam suatu kelompok, dianjurkan untuk berhenti sejenak dalam keheningan setelah suatu ayat dibacakan.

Sementara sepuluh Salam Maria dalam suatu peristiwa merupakan “elemen paling penting” dalam rosario, paus meminta umat beriman untuk lebih memperhatikan pendarasan doa Bapa Kami dan Kemuliaan, doa-doa yang menghantar umat kepada Allah Bapa dan kepada Allah Tritunggal.

Bapa Suci menganjurkan bahwa jika rosario didaraskan dalam suatu kelompok, Kemuliaan sebaiknya dinyanyikan “sebagai suatu cara untuk memberikan penekanan yang pantas kepada Tritunggal Mahakudus yang amat penting dalam semua doa Kristiani.”

Paus Yohanes Paulus II juga meminta umat beriman untuk sekali-kali berhenti serta memandang salib yang tergantung pada rosario mereka.

“Hidup dan doa umat beriman berpusat pada Kristus,” tulisnya. Sama seperti Rosario, “segala sesuatu berasal dari Dia, segala sesuatu menghantar kita kepada Dia, segala sesuatu, melalui Dia, dalam persatuan dengan Roh Kudus, menuju kepada Bapa.”

Rosario itu doa yang fleksibel, katanya. Ujud-ujud doa khusus dapat diucapkan pada akhir setiap peristiwa; sebagian dapat dinyanyikan; sebagai penutup, berbagai kelompok yang berbeda dalam usia, budaya serta etnis dapat memilih doa atau lagu-lagu Maria yang sesuai.

Terutama ketika berusaha menghidupkan doa rosario bagi anak-anak, beberapa penyesuaian juga diperkenankan, katanya: “Mengapa tidak mencobanya?”

Oleh: Cindy Wooden
Catholic News Service, 16 Oktober 2002
======

sumber : "Rosary is powerful prayer for peace, pope says in apostolic letter" by Cindy Wooden; Catholic News Service; Copyright (c) 2002 Catholic News Service/U.S. Conference of Catholic Bishops; www.catholicnews.com

Diperkenankan mengutip / menyebarluaskan artikel di atas dengan mencantumkan: “diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin Catholic News Service”

[Selengkapnya]