Minggu, 17 Juli 2011

Santa Perawan Maria dari La Vang

0 comments
Para misionaris Katolik pertama tiba di Vietnam pada tahun 1553. Beberapa tahun kemudian, telah terdapat lebih dari seratus ribu umat Katolik di bumi Vietnam. Seminari-seminari didirikan dan pada tahun 1668, dua imam pribumi ditahbiskan. Selanjutnya, kelompok religius perempuan dibentuk pada tahun 1670.

Santa Perawan Maria dari La Vang pertama kali menampakkan diri kepada kaum beriman di Vietnam pada tahun 1798. Ini adalah tahun ketika Raja Canh 'Minh menerbitkan maklumat anti-Katolik dan mengeluarkan perintah untuk membumi-hanguskan semua gereja dan seminari Katolik. Di tengah penganiayaan dahsyat ini, yang berlangsung antara tahun 1798-1801, banyak umat Katolik pergi mengungsi ke hutan belantara La Vang, dekat dusun Quang Tri, di Vietnam tengah. Mereka hidup sengsara karena cuaca yang dingin menggigit, serangan binatang buas, aneka rupa penyakit oleh sebab tinggal di alam liar dan menderita kelaparan. Meski demikian, mereka tetap bertekun dalam iman. Pada malam hari, mereka biasa berkumpul dalam kelompok-kelompok kecil untuk mendaraskan rosario dan berdoa bersama.

Sekonyong-konyong, suatu malam sementara berdoa bersama, mereka dikunjungi oleh suatu penampakan seorang perempuan yang sangat cantik dalam lingkupan cahaya. Perempuan ini mengenakan áo dài - gaun tradisional Vietnam - dan menggendong seorang Kanak-kanak dalam buaiannya, dengan disertai dua malaikat di masing-masing sisinya. Ia menghadirkan diri sebagai Bunda Allah yang datang untuk menyemangati dan menghibur mereka, serta memberikan kepada mereka suatu tanda istimewa akan kasih pemeliharaannya. Orang banyak segera mengenalinya sebagai Bunda Maria. Bunda Maria menyuruh mereka merebus sejenis daun pakis yang banyak tumbuh di sekitar sana untuk dipergunakan sebagai obat. Santa Perawan juga mengatakan bahwa sejak dari saat itu, mereka semua yang datang ke tempat itu untuk berdoa, doa-doanya akan didengarkan dan dikabulkan. Peristiwa ini terjadi di padang rumput dekat pohon banyan tua besar di mana para pengungsi berdoa bersama. Mereka semua yang hadir menyaksikan fenomena ajaib ini.


Bunda Maria menampakkan diri beberapa kali di tempat yang sama ini. Sesudah masa penganiayaan berakhir, pada tahun 1802, umat Kristiani meninggalkan hutan tempat persembunyian mereka dan kembali ke dusun-dusun mereka. Berita mengenai penampakan dan pesan-pesannya mereka bawa serta dan sebarluaskan hingga ke tempat-tempat lain.

Pada tahun 1820, sebuah kapel dari jerami didirikan di tempat terjadinya penampakan. Kendati lokasinya yang terpencil di pegunungan tinggi, kelompok-kelompok orang terus berdatangan mencari jalan menembus hutan belantara yang berbahaya untuk berdoa kepada Santa Perawan Maria dari La Vang. Lambat-laun, para peziarah yang datang dengan kapak, tombak, tongkat dan drum untuk menakut-nakuti binatang buas digantikan oleh para peziarah yang datang dengan panji-panji, aneka bunga dan rosario.

Pada tahun 1820-1885 terjadilah lagi penganiayaan dan pembantaian dahsyat terhadap umat Kristiani. Lebih dari 100.000 orang wafat sebagai martir. Pada tahun 1885 kapel Santa Perawan Maria dari La Vang dihancur-luluhkan.

Setelah penganiayaan secara resmi berakhir, Uskup Gaspar memerintahkan agar sebuah gereja didirikan demi menghormati Santa Perawan dari La Vang. Pembangunan dimulai pada tahun 1886, namun karena lokasinya yang sulit dan dana yang terbatas, diperlukan limabelas tahun lamanya untuk menyelesaikan Gereja La Vang. Gereja baru ini pada akhirnya selesai dan ditahbiskan oleh Uskup Gaspar dalam suatu upacara khidmad dengan lebih dari 12.0000 umat ikut ambil bagian di dalamnya yang berlangsung dari tanggal 6 hingga 8 Agustus 1901. Uskup memaklumkan Santa Perawan dari La Vang sebagai Perlindungan Umat Kristen. Pada tahun 1928, sebuah gereja yang lebih besar dikonsekrasikan guna menampung jumlah peziarah yang semakin bertambah.

Penampakan Santa Perawan Maria dari La Vang semakin mendapatkan perhatian dengan banyak disahkannya kesaksian orang-orang yang doanya dikabulkan dan mukjizat penyembuhan yang terjadi di sana. Pada bulan April 1961, Konferensi Waligereja Vietnam memilih Gereja La Vang - terletak sekitar 60 km dari kota Hue yang sebelumnya adalah ibukota dari Vietnam - sebagai tempat ziarah nasional demi menghormati Santa Perawan Maria yang Tak Bernoda. Pada tanggal 22 Agustus 1961, Paus Yohanes XXIII menaikkan status Gereja La Vang menjadi Basilika Minor La Vang. Sayang, semua bangunan yang ada kemudian dihancurkan pada musim panas tahun 1972 dalam perang saudara Vietnam antara Utara dan Selatan.

Pada tanggal 19 Juni 1988, Paus Yohanes Paulus II dalam upacara kanonisasi 117 martir Vietnam, secara publik memaklumkan pentingnya peran Santa Perawan Maria dari La Vang dan mengungkapkan kerinduan untuk dibangunnya kembali Basilika La Vang dalam rangka memperingati 200 tahun peringatan penampakan pertama Santa Perawan Maria dari La Vang yang jatuh pada bulan Agustus 1998.
Tempat ziarah La Vang direnovasi pada tahun 2008.

Disarikan dari berbagai sumber dan diterjemahkan oleh YESAYA: yesaya.indocell.net”

Minggu, 10 Juli 2011

Santa Maria dari Czestochowa

0 comments
Ikon Bunda Maria yang mukjijat dari Czestochowa, Polandia

Asal usul tepatnya dari ikon yang mukjijat ini tidak diketahui, akan tetapi ada cerita yang menarik yang telah berlangsung sepanjang jaman. Dikatakan bahwa setelah peristiwa penyaliban Yesus, ketika Rasul Yohanes membawa Bunda Maria ke rumahnya, Bunda Maria membawa sedikit milik pribadinya, diantaranya adalah meja yang dibuat Yesus di bengkel kayu ayahnya St.Yusuf. Ketika para wanita saleh dari Yerusalem berhasil mendesak St.Lukas untuk melukis gambar sang Bunda Allah, lukisan ini dulunya ditaruh di atas meja tersebut. Ketika sedang meluskis, St.Lukas menyimak baik-baik cerita sang bunda tentang hidup Puteranya, beberapa hal yang nantinya dituliskannya dalam Injilnya.

Legenda juga mengatakan bahwa lukisan itu tetap berada di seputar wilayah Yerusalem sampai ditemukan nantinya oleh St.Helena di abad ke empat. Bersama-sama dengan relikwi yang kudus lainnya, lukisan itu dikirim ke Konstantinopel dimana puteranya, Kaisar Konstantinus Agung membangun sebuah gereja untuk mentahtakan lukisan tersebut.

Para penduduk menghormati lukisan sang Bunda bersama Puteranya tersebut. Sejarah mencatat bahwa selama pengepungan kota oleh kaum Saracen, para senator dan warga kota membawa ikon tersebut dalam suatu prosesi sepanjang jalan. Diceritakan bahwa ketika ikon tersebut sedang diarak keliling kota, kaum Saracen melarikan diri.

Kemudian pada masa pemerintahan Kaisar Izauryn, dia sangat tidak menyukai benda-benda religius dan membakar banyak diantaranya. Lukisan itu berhasil diselamatkan oleh istrinya, Permaisuri Irene. Dengan cerdik, lukisan itu disembunyikannya di istana kaisar sehingga luput dari pencarian orang-orang suruhan kaisar.

Lukisan itu tetap berada di Konstantinopel selama 500 tahun, sampai sempat berkali-kali dijadikan mas kawin mempelai wanita dan akhirnya terbawa ke Russia dan wilayah Russia yang nantinya menjadi Polandia.

Setelah lukisan itu menjadi hak milik seorang pangeran Polandia, Santo Ladislaus, di abad ke-15, lukisan itu dipasang di sebuah ruangan di kastilnya di Belz. Tidak lama sesudahnya ketika kastil itu dikepung oleh orang-orang Tartar, sebuah panah musuh memasuki kapel melalui jendela yang mengenai lukisan tersebut dan meninggalkan goresan di bagian leher Sang Perawan. Goresan itu masih nampak hingga saat ini meskipun sudah beberapa kali diusahakan untuk diperbaiki.

Para penulis juga menceritakan bahwa Santo Ladislaus memutuskan untuk menyelamatkan lukisan tersebut dari ancaman invasi orang-orang Tartar dengan membawanya ke Opala, kota kelahirannya yang lebih aman. Perjalanan ini membawanya melalui kota Czestochowa dimana dia memutuskan untuk beristirahat barang semalam. Selama perhentian ini lukisan itu dibawa ke tempat yang disebut Jasna Gora, yang artinya "Bukit Terang". Disana lukisan itu diletakkan di dalam suatu gereja kecil yang dinamakan peristiwa Maria diangkat ke surga. Pagi hari berikutnya setelah lukisan itu ditaruh dengan hati-hati diatas kereta kuda, kuda-kudanya tidak mau bergerak. Santo Ladislaus percaya bahwa ini adalah suatu tanda dari surga bahwa ikon tersebut harus tetap berada di Czestochowa. Dia membawa ikon itu dengan khidmat kembali ke gereja Maria diangkat ke surga. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 26 Agustus 1382 dan hingga sekarang masih dirayakan sebagai hari raya ikon Maria tersebut. Sejak itu Santo Ladislaus meminta supaya ikon itu dijaga oleh orang-orang saleh dan dia memerintahkan dibangunnya sebuah gereja dan biara bagi para imam-imam Paulus, yang dengan penuh dedikasi memelihara lukisan tersebut selama enam ratus tahun berikutnya.


Meskipun selamat dari angkara murka Kaisar Izauryn dan dicelakai oleh panah orang Tartar, ikon ini kembali mendapat ancaman penghancuran dari orang-orang Hussite yang mengikuti ajaran bidaah. Mereka menyerang biara para imam Paulus di tahun 1430 dan panti imam yang penuh dengan dekorasi yang indahpun dihancurkan oleh mereka. Diantara benda-benda yang dirampok adalah ikon Bunda Maria. Setelah menaruhnya di atas kereta mereka, kuda-kuda mereka hanya bergerak sedikit dan lantas tidak mau bergerak maju. Teringat pada insiden yang sama yang terjadi pada Pangeran Ladislaus sekitar 50 tahun yang lalu dan menyadari bahwa lukisan inilah penyebabnya, para penganut bidaah tersebut membuang ikon itu ke tanah. Lukisan itu pecah menjadi tiga bagian. Salah satu perampok mengayunkan pedangnya dan menghantam ikon tersebut dan menyebabkan dua goresan yang dalam. Ketika ia akan menghantam untuk ketiga kalinya, diapun jatuh ke tanah dan meregang nyawa dengan penuh derita hingga wafat.

Dua goresan dalam di bagian pipi Sang Perawan, berikut goresan sebelumnya di bagian leher, selalu muncul kembali meskipun telah berulang kali diperbaiki.

Ikon tersebut kembali menghadapi bahaya kehancuran di tahun 1655. Pada saat itu 12.000 gerombolan orang Swedia menyerbu tempat ziarah yang dipertahankan oleh 300 orang. Meskipun jumlah mereka jauh kalah banyak, namun dengan mukjijat mereka dapat mengalahkan pihak penyerbu. Setahun sesudahnya, Sang Perawan Suci dinyatakan sebagai Ratu Polandia.

Pada tanggal 14 September 1920 ketika balatentara Rusia menggerombol di tepi sungai Vistula dan bersiap-siap untuk menyerbu Warsawa, rakyat setempat meminta pertolongan Bunda Maria. Sehari sesudahnya yaitu pada hari pesta Bunda Sengsara, balatentara Russia menarik diri segera setelah melihat rupa Bunda Maria yang muncul di atas awan-awan di atas kota. Dalam sejarah Polandia peristiwa kemenangan ini dikenal dengan sebutan Mukjijat di Vistula.

Tidak seperti balatentara Russi yang gagal menaklukan kota, orang Jerman ternyata berhasil menyerbu dan menaklukan Polandia. Setelah mereka menguasai kota Warsawa, salah satu perintah Hitler adalah larangan berziarah. Dalam suatu demonstrasi cinta mereka kepada Bunda Maria dan kepercayaan mereka akan perlindungan beliau, setengah juta warga Polandia secara rahasia berziarah ke Czestochowa melanggar perintah Hitler. Segera setelah negara Polandia dibebaskan dari penjajahan Jerman di tahun 1945, satu setengah juta warga Polandia menyatakan rasa terima kasih mereka kepada Bunda Maria dengan berdoa di depan ikon yang mukjijat tersebut.

Dua puluh delapan tahun setelah usaha orang Russia yang gagal menaklukan kota, mereka berhasil menguasai Polandia di tahun 1948. Selama tahun tersebut 800.000 umat dengan berani berziarah ke Czestochowa pada hari pesta Maria diangkat ke surga, yaitu satu diantara tiga hari raya ikon tersebut dirayakan, meskipun mereka berada dibawah sorotan para serdadu-serdadu komunis yang secara rutin berpatroli di jalan-jalan. Sekarang, orang-orang masih terus menghormati ikon Bunda Maria dan Kanak-kanak Yesus yang mereka kasihi, terutama pada tanggal 26 Agustus, hari yang telah ditetapkan sebagai hari rayanya sejak jaman Pangeran Ladislaus.

Karena kedua tangan dan wajah Bunda Maria telah menjadi kehitaman, ikon tersebut juga dikenal dengan sebutan akrab Madonna Hitam. Gelapnya wajah dan tangan ikon tersebut disebabkan oleh berbagai kondisi, salah satu diantaranya adalah umur lukisan tersebut. Selama kurun waktu yang lama, lukisan itu disimpan di berbagai tempat demi keamanan yang jauh dari kondisi ideal untuk perawatannya. Lebih jauh lagi, tidak terhitung banyaknya lilin yang dibakar di depan lukisan tersebut sehingga lukisan itu selalu diekspos terus menerus dengan asap lilin. Akhirnya, lukisan itu dibawa kesana kemari tak terhitung kali banyaknya sehingga kerusakanpun tak terhindari lagi.

Tanpa bingkai, lukisan itu kira-kira tingginya 48cm dan lebarnya 33cm dan hampir 1.5cm tebalnya. Seberkas kain yang direntangkan di sisi sebaliknya memperlihatkan adegan-adegan dan desain yang menceritakan sejarah lukisan dan beberapa diantara mukjijat yang terjadi karena perantaraan Bunda Maria lewat lukisan ini.

Mukjijat-mukjijat yang dinyatakan terjadi lewat ikon yang mukjijat ini sangat banyak dan spektakuler. Kesaksian-kesaksian asli dari penyembuhan dan mukjijat yang terjadi, disimpan di arsip para imam-imam Paulus di Jasna Gora.

Pengakuan Sri Paus terhadap ikon mukjijat ini dilakukan oleh Paus Klemen XI pada tahun 1717. Mahkota yang diberikan kepada lukisan tersebut oleh Sri Paus digunakan dalam peristiwa pemahkotaan resmi pertama lukisan tersebut, tetapi simbol derajat keratuan Bunda Maria ini sayangnya dicuri pada tahun 1909. Mahkota itu lantas digantikan dengan mahkota emas yang ditaburi batu permata, hadiah dari Sri Paus Pius X.

Diantara para pengunjung tingkat tinggi ke Czestochowa adalah raja Polandia, Jan Casimir yang melakukan perjalan ke sana pada tahun 1656. Setelah meletakan mahkotanya sendiri di kaki altar Bunda Maria, sang raja berkaul, "Aku, Jan Casimir, Raja Polandia, mengambil engkau sebagai Ratu dan Pelindung kerajaanku; Aku meletakan rakyatku dan balatentaraku dibawah perlindunganmu." Tanggal 3 Mei dimana kaul ini diucapkan, didedikasikan oleh Paus Pius IX sebagai pesta Bunda Maria dibawa titel "Ratu Polandia".

Pada jaman modern, Paus Yohanes Paulus II, putera asli Polandia, berdoa di hadapan ikon Bunda Maria pada kunjungan historisnya di tahun 1979, beberapa bulan setelah pengangkatannya sebagai penerus Tahta Petrus. Sri Paus kembali berkunjung ke Czestochowa pada tahun 1983 dan juga tahun 1991. Film Ocean of Mercy juga menyebutkan bahwa tiga orang kudus dari Polandia, Santa Faustina yang terkenal dengan devosi Koronka (Kerahiman Ilahi), Santo Maximilian Kolbe yang mendirikan apostolat Milisi Imakulata, bahkan Karol Wojtyla (Paus Yohanes Paulus II) pada masa mudanya, pernah berziarah ke Santa Maria dari Czestochowa ini.

Santa Maria dari Czestochowa, doakanlah kami...

Sumber: Gereja Katolik